Pandemi COVID-19 Jadi Pukulan Telak Bagi Pelaku UMKM
Minggu, 05 Juli 2020 - 03:37 WIB
Parlan menambahkan omzet penjualan batik tulis menurun tajam, sehingga pendapatan anjlok. Dulu sebelum pandemi COVID-19, meraup penghasilan bersih Rp5 juta/bulan tergolong mudah. Namun saat ini untuk memperoleh Rp2 juta saja, sangat kesulitan.
"Batik saya ini alhamdulilah sudah merambah seluruh Indonesia, bahkan keluar negeri. Tapi setelah pandemi COVID-19, perbedaannya sangat mencolok. Modal sudah menipis. Kebetulan saya pensiunan pegawai negeri, jadi sedikit-sedikit masih bisa tertolong," ungkap Parlan.
Teten Masduki membenarkan untuk usaha mikro, banyak yang gulung tikar. Mereka dikategorikan sebagai kelompok miskin baru, yang perlu mendapatkan bantuan sosial (Bansos). Menurutnya, konsep Bansos bagi UMKM masih terus digodok.
"Kalau yang gulung tikar, tidak bisa lagi dikasih modal, tapi dibansoskan. Konsep Bansos masih akan terus kembangkan, tapi saya belum bicara sekarang," tuturnya.
(Baca juga: Penuh Kasih Sayang, Prajurit TNI Rehab Sekolah Mirip Kandang Ayam )
Teten menambahkan, selain pembiayaan lewat koperasi, program untuk UMKM dilewatkan perbankan maupun BPR. Diperkirakan butuh anggaran restrukturisasi hingga Rp78 triliun.
"Batik saya ini alhamdulilah sudah merambah seluruh Indonesia, bahkan keluar negeri. Tapi setelah pandemi COVID-19, perbedaannya sangat mencolok. Modal sudah menipis. Kebetulan saya pensiunan pegawai negeri, jadi sedikit-sedikit masih bisa tertolong," ungkap Parlan.
Teten Masduki membenarkan untuk usaha mikro, banyak yang gulung tikar. Mereka dikategorikan sebagai kelompok miskin baru, yang perlu mendapatkan bantuan sosial (Bansos). Menurutnya, konsep Bansos bagi UMKM masih terus digodok.
"Kalau yang gulung tikar, tidak bisa lagi dikasih modal, tapi dibansoskan. Konsep Bansos masih akan terus kembangkan, tapi saya belum bicara sekarang," tuturnya.
(Baca juga: Penuh Kasih Sayang, Prajurit TNI Rehab Sekolah Mirip Kandang Ayam )
Teten menambahkan, selain pembiayaan lewat koperasi, program untuk UMKM dilewatkan perbankan maupun BPR. Diperkirakan butuh anggaran restrukturisasi hingga Rp78 triliun.
Lihat Juga :