Tumenggung Jalil, Pejuang Kalimantan Selatan yang Kepalanya Disimpan di Negeri Belanda
Kamis, 07 Juli 2022 - 05:32 WIB
Daerah Banua Lima ini dipimpin oleh Kiai Adipati Danureja. Pemerintahan Danureja juga kurang disenangi rakyat, karena sewenang-wenang. Mereka mengorganisir perampokan dan penjualan budak ke daerah Pasir.
Siapapun yang berani melawan perintahnya, akan dihukum mati. Namun, tidak ada yang berani mengadukannya. Semua takut. Kecuali Tumenggung Jalil. Hubungan Jalil dengan Danureja memang sangat buruk.
Baca: Raja Taliwang Tagih Kerajaan Belanda Kembalikan Barang Rampasan Perang 1908
Dia sangat mendendam kepada Danureja, karena ayahnya dihukum mati oleh Danuraja. Konflik antara Tumenggung Jalil dengan Danureja pun menemui momentumnya saat dikeluarkan kebijakan penarikan uang kepala.
Tumenggung Jalil dengan tegas menolak penarikan uang itu. Akibat ulahnya itu, Jalil diadukan kepada Sultan di Banjarmasin. Dia lalu dipanggil, tetapi dua kali tidak mau datang. Hal ini membuat Jalil semakin dibenci.
Wakil Danureja di Banua Lima, Tumenggung Ngabehi Jaya Negara, bahkan mengancam jika Jalil tetap tidak mau memberikan uang kepala akan diberikan tindakan tegas dengan kekerasan. Tetapi Jalil tidak gentar.
Ancaman itu dibuktikan dengan memburu Jalil hidup atau mati. Namun, para pemburu itu tewas ditangan Jalil. Perlawanan ini dikenal juga dengan Pemberontakan Banua Lima. Setiap pemberontakan, ditumpas oleh Belanda.
Baca: Kisah Duel Maut Laksamana Malahayati dengan Pemimpin Belanda di Kapal Perang
Sejak itu, Tumenggung Jalil menjadi incaran pasukan Belanda. Pemberontakan Jalil mendapatkan dukungan dari Mangkubumi. Dia bahkan memberikan gelar kepada Jalil sebagai Kiai Adipati Anom Dinding Raja.
Tidak hanya itu, dia juga memberikan Jalil benda pusaka seperti pedang dan tombak berlilit. Pasukan Jalil semakin kuat dan mendapatkan dukungan dari daerah Para sampai Belimbing, Balangan dan Tabalong.
Tumenggung Jalil kemudian membuat benteng di Batu Mandi. Benteng ini terletak di atas bukit dan di sekitarnya diberi rintangan-rintangan, seperti parit-parit, lubang perangkap, tali jerat dan potongan pohon kayu besar.
Serangan Belanda ke benteng ini menimbulkan banyak korban jiwa. Salah satunya adalah pemimpin penyerbuan, yakni Sersan van de Bosch. Hal ini membuat semakin marah dan menghujani benteng itu dengan tembakan.
Siapapun yang berani melawan perintahnya, akan dihukum mati. Namun, tidak ada yang berani mengadukannya. Semua takut. Kecuali Tumenggung Jalil. Hubungan Jalil dengan Danureja memang sangat buruk.
Baca: Raja Taliwang Tagih Kerajaan Belanda Kembalikan Barang Rampasan Perang 1908
Dia sangat mendendam kepada Danureja, karena ayahnya dihukum mati oleh Danuraja. Konflik antara Tumenggung Jalil dengan Danureja pun menemui momentumnya saat dikeluarkan kebijakan penarikan uang kepala.
Tumenggung Jalil dengan tegas menolak penarikan uang itu. Akibat ulahnya itu, Jalil diadukan kepada Sultan di Banjarmasin. Dia lalu dipanggil, tetapi dua kali tidak mau datang. Hal ini membuat Jalil semakin dibenci.
Wakil Danureja di Banua Lima, Tumenggung Ngabehi Jaya Negara, bahkan mengancam jika Jalil tetap tidak mau memberikan uang kepala akan diberikan tindakan tegas dengan kekerasan. Tetapi Jalil tidak gentar.
Ancaman itu dibuktikan dengan memburu Jalil hidup atau mati. Namun, para pemburu itu tewas ditangan Jalil. Perlawanan ini dikenal juga dengan Pemberontakan Banua Lima. Setiap pemberontakan, ditumpas oleh Belanda.
Baca: Kisah Duel Maut Laksamana Malahayati dengan Pemimpin Belanda di Kapal Perang
Sejak itu, Tumenggung Jalil menjadi incaran pasukan Belanda. Pemberontakan Jalil mendapatkan dukungan dari Mangkubumi. Dia bahkan memberikan gelar kepada Jalil sebagai Kiai Adipati Anom Dinding Raja.
Tidak hanya itu, dia juga memberikan Jalil benda pusaka seperti pedang dan tombak berlilit. Pasukan Jalil semakin kuat dan mendapatkan dukungan dari daerah Para sampai Belimbing, Balangan dan Tabalong.
Tumenggung Jalil kemudian membuat benteng di Batu Mandi. Benteng ini terletak di atas bukit dan di sekitarnya diberi rintangan-rintangan, seperti parit-parit, lubang perangkap, tali jerat dan potongan pohon kayu besar.
Serangan Belanda ke benteng ini menimbulkan banyak korban jiwa. Salah satunya adalah pemimpin penyerbuan, yakni Sersan van de Bosch. Hal ini membuat semakin marah dan menghujani benteng itu dengan tembakan.
Lihat Juga :