Kisah Bung Karno, Kalau Tak Jadi Presiden Pilih Jadi Pelukis
Senin, 06 Juni 2022 - 19:32 WIB
Di lokasi, Bung Karno hanya ditemani Dullah, dan beberapa pengawal yang bertugas memastikan lokasi aman dari musuh yang tak dikenal. Pemandangan alam Priangan membuat Bung Karno tertegun sekaligus takjub.
“Keindahan pemandangan Indonesia memang luar biasa. Kalau aku melihat pohon-pohon menghijau, bila kupandang lembah dan ngarai, bila kudengar kicau burung, bila kurasa desir angin, semakin besar rasa cintaku kepada Indonesia,” ujar Bung Karno dalam buku “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”.
Bung Karno mulai melukis. Ia asyik menggulati cat, kuas dan kanvasnya. Bung Karno seolah lupa, bahwa tempatnya melukis merupakan wilayah kekuasaan pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).
Para pengawal meresahkan keamanan sang Proklamator, namun tak berani menyampaikan langsung kepada Bung Karno. Yang bisa dilakukan hanya menarik lengan pelukis Dullah, dan berbisik lirih.
Baca juga: Asisten Rumah Tangga di Kota Batu Bisa Berangkat Haji Setelah Menabung Selama 20 Tahun
“Mas, mohon diperingatkan kepada Presiden bahwa daerah ini rawan, berbahaya. Ini daerah Kartosoewirjo”.
“Baru saja satu rombongan lewat tak jauh dari tempat ini. Mereka tentu akan melapor ke markas DI/TII. Kami sangat khawatir dengan keselamatan Bapak karena kita tidak siap dengan kondisi terburuk. Jumlah pengamanan kita sedikit,” tambahnya.
Dullah terkejut. Namun ia juga tak berani mengusik Bung Karno yang baru saja memulai lukisannya. Sekarmadji Maridjan Kartoesoewirjo sebenarnya sahabat Bung Karno. Keduanya merupakan sama-sama murid H.O.S Tjokroaminoto saat indekos di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur.
“Keindahan pemandangan Indonesia memang luar biasa. Kalau aku melihat pohon-pohon menghijau, bila kupandang lembah dan ngarai, bila kudengar kicau burung, bila kurasa desir angin, semakin besar rasa cintaku kepada Indonesia,” ujar Bung Karno dalam buku “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”.
Bung Karno mulai melukis. Ia asyik menggulati cat, kuas dan kanvasnya. Bung Karno seolah lupa, bahwa tempatnya melukis merupakan wilayah kekuasaan pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).
Para pengawal meresahkan keamanan sang Proklamator, namun tak berani menyampaikan langsung kepada Bung Karno. Yang bisa dilakukan hanya menarik lengan pelukis Dullah, dan berbisik lirih.
Baca juga: Asisten Rumah Tangga di Kota Batu Bisa Berangkat Haji Setelah Menabung Selama 20 Tahun
“Mas, mohon diperingatkan kepada Presiden bahwa daerah ini rawan, berbahaya. Ini daerah Kartosoewirjo”.
“Baru saja satu rombongan lewat tak jauh dari tempat ini. Mereka tentu akan melapor ke markas DI/TII. Kami sangat khawatir dengan keselamatan Bapak karena kita tidak siap dengan kondisi terburuk. Jumlah pengamanan kita sedikit,” tambahnya.
Dullah terkejut. Namun ia juga tak berani mengusik Bung Karno yang baru saja memulai lukisannya. Sekarmadji Maridjan Kartoesoewirjo sebenarnya sahabat Bung Karno. Keduanya merupakan sama-sama murid H.O.S Tjokroaminoto saat indekos di Peneleh, Surabaya, Jawa Timur.
Lihat Juga :