Kisah Bung Karno, Kalau Tak Jadi Presiden Pilih Jadi Pelukis
Senin, 06 Juni 2022 - 19:32 WIB
Paska kemerdekaan keduanya bersimpang jalan. Perbedaan garis politik membuat keduanya saling berhadap-hadapan. Dan Priangan merupakan markas laskar DI/TII.
Atas alasan demi keselamatan kepala negara, pelukis Dullah meminta pengawal menyampaikan sendiri kepada Bung Karno. Apa yang terjadi? Bung Karno bergeming. Ia tetap asyik melukis meskipun pengawal menyampaikan informasi terkait DI/TII.
Melihat itu, Dullah memutar akal. Sebagai salah satu perupa kesayangan Bung Karno, ia tahu bagaimana cara mendekati Bung Karno. “Maaf, Pak, matahari sudah agak tinggi,” kata Dullah.
“Maksudmu?” Bung Karno menanggapi. Dullah pun langsung berargumentasi panjang lebar. Ia bicara tentang efek cahaya yang sudah tak sesuai kehendak. Dengan setengah mengarang, Dullah mengatakan matahari yang tinggi membuat efek cahaya di dalam hutan tak seindah terobosan matahari pagi.
Bung Karno seketika menghentikan sapuan kuasnya. Sejenak ia memandangi kanvas, menatap obyek yang sedang dilukis, memandang Dullah dan menarik nafas dalam-dalam.
“Benar juga, Dullah. Baiklah kita kembali ke sini besok lebih pagi, untuk melihat apa yang kau katakan itu,” ujar Bung Karno seperti tertulis dalam “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”. Bung Karno beserta rombongan kecilnya seketika itu kembali ke Jakarta.
Atas alasan demi keselamatan kepala negara, pelukis Dullah meminta pengawal menyampaikan sendiri kepada Bung Karno. Apa yang terjadi? Bung Karno bergeming. Ia tetap asyik melukis meskipun pengawal menyampaikan informasi terkait DI/TII.
Melihat itu, Dullah memutar akal. Sebagai salah satu perupa kesayangan Bung Karno, ia tahu bagaimana cara mendekati Bung Karno. “Maaf, Pak, matahari sudah agak tinggi,” kata Dullah.
“Maksudmu?” Bung Karno menanggapi. Dullah pun langsung berargumentasi panjang lebar. Ia bicara tentang efek cahaya yang sudah tak sesuai kehendak. Dengan setengah mengarang, Dullah mengatakan matahari yang tinggi membuat efek cahaya di dalam hutan tak seindah terobosan matahari pagi.
Bung Karno seketika menghentikan sapuan kuasnya. Sejenak ia memandangi kanvas, menatap obyek yang sedang dilukis, memandang Dullah dan menarik nafas dalam-dalam.
“Benar juga, Dullah. Baiklah kita kembali ke sini besok lebih pagi, untuk melihat apa yang kau katakan itu,” ujar Bung Karno seperti tertulis dalam “Soekarno Poenja Tjerita, Yang Unik dan Tak Terungkap Dari Sejarah Soekarno”. Bung Karno beserta rombongan kecilnya seketika itu kembali ke Jakarta.
(msd)
Lihat Juga :