Paranoid Paramedis dalam Pandemi COVID-19

Senin, 15 Juni 2020 - 14:56 WIB
Kejadian di Makassar yang sempat viral matinya seorang ibu yang menjadi rebutan pihak medis dengan keluarga almarhum. Pihak medis menguburkan dengan protokol COVID-19.

Sedangkan keluarganya berkeyakinan ibunya meninggal bukan penyakit COVID untuk berkeras membawa pulang dengan mengurusnya untuk pemakaman secara tata cara Islami. Tapi keluarga pasien menyerah tidak berdaya hingga menimbulkan kemarahan dan caci maki yang tak terkendali.

Atau kejadian pasien yang meninggal di RS Wiyung Surabaya, yang mentelantarkan mayat di kuburan tanpa tata cara penguburan yang manusiawi. Menimbulkan berita viral di media, bagaimana pasien ini dikuburkan dengan cara tidak wajar, misalnya tanpa dibungkus dengan kain kafan, hanya dimasukkan dalam kantong plastik saja. Padahal pasien ini diyakini tidak terkena atau terpapar COVID-19.

Secara tidak langsung semuanya mengidap penyakit gangguan jiwa paranoid pada situasi pandemi. Antara kita, antara sesama, muncul curiga dan penuh ketakutan yang berlebihan.

Pribadi paranoid ini menganggap orang lain atau semua orang di sekitarnya adalah menjadi sumber penyakit, menyikiti, membawa wabah, membawa virus, membahayakan.

Kita masuk di poli kesehatan mau konsultasi, begitu masuk dan suara kita serak, batuk, pilek, muncul tatapan dan pertanyaan dari petugas medis, apakah sudah lama batuk, adakah ada demam, apakah suhu pamas, pertanyaan apakah-apakah yang berorentasi pada kecurigaan kena virus pandemi COVID-19.

Apalagi data dari Ikatan Dokter Indonesia ( IDI) mengonfirmasi telah kehilangan 25 anggotanya akibat pandemi virus corona COVID-19 yang masih berlangsung. Hal itu disampaikan oleh anggota Bidang Kesekretariatan, Protokoler, dan Public Relations Pengurus Besar (PB) IDI, Halik Malik.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!