Ada Risiko Tsunami di Dekat Ibu Kota Baru Indonesia

Kamis, 23 April 2020 - 21:21 WIB
Ben Sapiie, dari Institut Teknologi Bandung mengatakan; "Penelitian ini memperkaya pengetahuan masyarakat geologi dan geofisika Indonesia tentang bahaya sedimentasi dan tanah longsor di Selat Makassar. Masa depan penelitian ilmu bumi menggunakan pendekatan terintegrasi, pendekatan multi-ilmiah dengan kolaborator internasional."

Profesor Dan Parsons, direktur Energy and Environment Institute di Hull University bersama kelompoknya yang mempelajari submarine landslides di seluruh dunia ikut mengomentari penelitian tersebut. "Yang menarik di sini adalah bagaimana sedimen ini sedang bekerja kembali dan menumpuk dari waktu ke waktu di Selat Makassar oleh arus laut," katanya kepada BBC.

"Sedimen ini menumpuk dan kemudian gagal ketika menjadi tidak stabil. Apa yang kemudian kuncinya adalah mengidentifikasi titik kritis, atau pemicu, yang menghasilkan kegagalan. Kami telah melakukan pekerjaan serupa di fjord, menjelajahi beberapa pemicu dan besarnya dan frekuensi kegagalan yang bisa terjadi," paparnya.

"Kegagalan terbesar dan tsunami terbesar kemungkinan akan terjadi ketika tingkat pengiriman sedimen sangat tinggi tetapi pemicunya jarang terjadi, sehingga ketika kegagalan terjadi mereka sangat besar."

Indonesia mengalami dua peristiwa tsunami yang disebabkan oleh tanah longsor bawah laut pada tahun 2018, yakni ketika sisi gunung berapi Anak Krakatau runtuh dan secara terpisah ketika gempa memicu retakan lereng di Teluk Palu, Sulawesi.

Jadi kewaspadaan tumbuh bahwa tsunami dapat datang dari sumber selain gempa megathrust dasar laut seperti yang terjadi di Sumatra pada tahun 2004 yang mendatangkan malapetaka di sekitar Samudra Hindia.

Presiden Joko Widodo mengumumkan tahun lalu bahwa Indonesia akan memindahkan ibu kotanya dari Jakarta ke Kalimantan.

Pusat administrasi baru akan dibangun di dua kabupaten—Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara—di provinsi Kalimantan Timur, dekat dengan kota Balikpapan dan Samarinda.
(vit)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!