Kisah Syekh Yusuf Al-Makassari, Pendakwah Besar yang Membuat Kompeni Belanda Tergetar
Minggu, 23 Januari 2022 - 05:00 WIB
Baca juga: Letusan Dahsyat Gunung Kelud, Menandai Lahirnya Raja Termasyhur Majapahit Hayam Wuruk
Selama 20 tahun lebih berkelana, ia telah menamatkan pelajaran dari tak kurang 17 guru terkenal, mulai dari tarekat Naqsyabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, hingga Khalwariyah yang kemudian bahkan lekat dengan namanya.
Selesai menimba ilmu, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara. Konon, ia tidak kembali ke Gowa, tetapi ke Banten, dan bertempat tinggal di wilayah kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Di Banten, sekitar tahun 1670 Syekh Yusuf diangkat menjadi mufti (penasihat spiritual) dengan murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.
Syekh Yusuf tinggal di sana, dan kemudian menikah lagi dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf menjadikan dia begitu cepat terkenal. Banten pun dikenal sebagai pusat pendidikan Islam.
Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada Syekh Yusuf. Selain ilmu-ilmu syariat, Syekh Yusuf juga mengajarkan murid-muridnya ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.
Baca juga: Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim, Memiliki Karomah Turunkan Hujan dan Disegani Raja Majapahit
Maka, tak heran banyak di antara para pendekar di Kesultanan Banten adalah murid Syekh Yusuf. Mereka dikenal kebal terhadap senjata, sehingga membuat pasukan Belanda khawatir. Singkat cerita, Belanda mencari cara untuk menaklukkan Kesultanan Banten. Beragam cara dilakukan, antara lain mengadu domba keluarga sultan.
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf turut terlibat dalam perang gerilya. Namun, pada tahun ini juga Syekh Yusuf ditangkap oleh Belanda. Awalnya, Syekh Yusuf ditahan di Cirebon kemudian dipindahkan ke Batavia (Jakarta).
Karena pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda, Syekh Yusuf keluarga kemudian diasingkan ke Sri Lanka pada 1684. Kedua istri dan beberapa anak Syekh Yusuf, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu ikut diasingkan.
Di Sri Lanka, Syekh Yusuf banyak melakukan dakwah dan penyebaran Islam. Muridnya pun banyak, kebanyakan dari India. Salah satunya, ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf terus berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara.
Selama 20 tahun lebih berkelana, ia telah menamatkan pelajaran dari tak kurang 17 guru terkenal, mulai dari tarekat Naqsyabandiyah, Syatariyah, Qadiriyah, hingga Khalwariyah yang kemudian bahkan lekat dengan namanya.
Selesai menimba ilmu, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara. Konon, ia tidak kembali ke Gowa, tetapi ke Banten, dan bertempat tinggal di wilayah kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Di Banten, sekitar tahun 1670 Syekh Yusuf diangkat menjadi mufti (penasihat spiritual) dengan murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai.
Syekh Yusuf tinggal di sana, dan kemudian menikah lagi dengan putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syekh Yusuf menjadikan dia begitu cepat terkenal. Banten pun dikenal sebagai pusat pendidikan Islam.
Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada Syekh Yusuf. Selain ilmu-ilmu syariat, Syekh Yusuf juga mengajarkan murid-muridnya ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.
Baca juga: Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim, Memiliki Karomah Turunkan Hujan dan Disegani Raja Majapahit
Maka, tak heran banyak di antara para pendekar di Kesultanan Banten adalah murid Syekh Yusuf. Mereka dikenal kebal terhadap senjata, sehingga membuat pasukan Belanda khawatir. Singkat cerita, Belanda mencari cara untuk menaklukkan Kesultanan Banten. Beragam cara dilakukan, antara lain mengadu domba keluarga sultan.
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syekh Yusuf turut terlibat dalam perang gerilya. Namun, pada tahun ini juga Syekh Yusuf ditangkap oleh Belanda. Awalnya, Syekh Yusuf ditahan di Cirebon kemudian dipindahkan ke Batavia (Jakarta).
Karena pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda, Syekh Yusuf keluarga kemudian diasingkan ke Sri Lanka pada 1684. Kedua istri dan beberapa anak Syekh Yusuf, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu ikut diasingkan.
Di Sri Lanka, Syekh Yusuf banyak melakukan dakwah dan penyebaran Islam. Muridnya pun banyak, kebanyakan dari India. Salah satunya, ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi'an. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf terus berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara.
Lihat Juga :