Monumen Sejarah Masuknya Islam di Sulsel Butuh Perhatian Pemerintah
Kamis, 21 Oktober 2021 - 17:52 WIB
Salah seorang tokoh pemuda di Kecamatan Bua, Sarwan, mendorong Dinas Pariwisata Luwu untuk memperhatikan objek wisata dan budaya Lapandoso.
"Ini bukan hanya aset orang Bua, tapi aset Pemkab Luwu bahkan aset Pemprov Sulsel. Lapandoso dan Assallange memiliki nilai sejarah tinggi, Tugu Lapandoso ada tonggak sejarah yang menandai pertama kalinya masuknya dan diterimanya Islam di Sulawesi Selatan ," ujarnya.
Dirinya menjelaskan, kondisi Tugu Lapandosi sangat memprihatinkan. Jika Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan bisa mengelola situs sejarah ini dengan baik. "Saya rasa akan menjadi salah satu idola di Sulsel bahkan nasional dan tentunya bisa menjadi penyumbang PAD bagi Kabupaten Luwu," sambung Sarwan.
Menurut dia, Monumen Lapandoso dan Assallange memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata religi. Selain karena nilai sejarahnya yang tinggi, letaknya juga strategis. Hanya beberapa kilometer dari Bandara Bua maupun dari jalan poros nasional hanya 2 kilometer saja.
Tokoh pemuda lainnya di Kecamatan Bua , Hidayat Ibrahim, menyampaikan pendapat serupa. Ia juga menyayangkan Pemerintah Desa Pabbaresseng dan Kecamatan Bua yang kurang memperhatikan situs bersejarah tersebut.
"Ini bukan hanya aset orang Bua, tapi aset Pemkab Luwu bahkan aset Pemprov Sulsel. Lapandoso dan Assallange memiliki nilai sejarah tinggi, Tugu Lapandoso ada tonggak sejarah yang menandai pertama kalinya masuknya dan diterimanya Islam di Sulawesi Selatan ," ujarnya.
Dirinya menjelaskan, kondisi Tugu Lapandosi sangat memprihatinkan. Jika Dinas Pariwisata dan Dinas Kebudayaan bisa mengelola situs sejarah ini dengan baik. "Saya rasa akan menjadi salah satu idola di Sulsel bahkan nasional dan tentunya bisa menjadi penyumbang PAD bagi Kabupaten Luwu," sambung Sarwan.
Menurut dia, Monumen Lapandoso dan Assallange memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata religi. Selain karena nilai sejarahnya yang tinggi, letaknya juga strategis. Hanya beberapa kilometer dari Bandara Bua maupun dari jalan poros nasional hanya 2 kilometer saja.
Tokoh pemuda lainnya di Kecamatan Bua , Hidayat Ibrahim, menyampaikan pendapat serupa. Ia juga menyayangkan Pemerintah Desa Pabbaresseng dan Kecamatan Bua yang kurang memperhatikan situs bersejarah tersebut.
Lihat Juga :