PPKM Diperpanjang, Ini Tanggapan Pelaku Seni dan Pedagang di Majalengka

Selasa, 17 Agustus 2021 - 01:11 WIB
“Misalnya memakai mic musala atau mic salon aktif rumahan yang echo-nya 18 kali. Itu sangat tidak nyaman. Iya betterlah, daripada nggak boleh samasekali,” lanjut dia.

Ketua Majalengka Singers Community (MSC) Rekha Dewi Asgarini mengaku tidak bisa berbuat banyak dengan pemberlakuan PPKM yang diperpanjang. Dia beralasan, selama ini, pembatasan aktivitas lewat PPKM, tidak dibarengi dengan solusi yang bijak.

“Ya sedihlah, marah. Marahnya bercabang kaditu-kadieu (kesana kemari) Sedih, marah sama pemerintah. Sedih, marah sama temen-teman yang abai Prokes. Percuma kan kita Prokes ketat, sementara sekitar kita abai. PPKM menurut saya tidak terlalu efektif. Apalagi aturan dan pembatasan pada masa PPKM tidak di-seimbang-kan dengan solusi. Maka yang terjadi adalah PPKM justru membuat imun turun,” kata dia.

Sebagai seniman yang aktivitasnya di atas panggung, jelas dia, komunitasnya selalu memperhatikan Prokes. Meskipun tidak nyaman, lanjut dia, tetapi mereka tetap melaksanakannya, karena kondisi mereka ‘mengharuskan’ tetap beraktivitas. “Kmai selalu prokes ketat. Di depan stage pake plastik transparan. Nggak apa-apa kami nyanyi kaya di dalem aquarium,” jelas dia.

Dalam setiap manggung, jelas dia, personil yang berada di komunitasnya senantiasa sebisa mungkin menjaga Prokes. Tidak terkecuali, pihaknya juga sejatinya menolak ketika ada yang mau berjoget.

“Otomatis pasti pakai masker, kcuali penyanyi kalau lagi nyanyi, sama tukang tiup. Malah kadang masker sama faceshiled, sarung tangan juga, cover mik, selalu pakai handsanitizer, sebisa mungkin menolak yang joget. Meskipun susahnya minta ampun,” jelas dia. Baca: Terkait Konflik Lahan dengan Petani Batanghari Jambi, Ini Tanggapan PT WKS.
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!