Dosen Unair Nilai PSBB Surabaya Gagal, Ini Penyebabnya
Senin, 25 Mei 2020 - 17:44 WIB
Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Surabaya, dinilai gagal membendung laju penularan COVID-19. Foto/Ilustrasi/Dok.SINDOnews/Yuswantoro
SURABAYA - Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap I dan II di Surabaya Raya dinilai gagal. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan, hingga Senin (25/5/2020), jumlah pasien positif COVID-19 di Jawa Timur (Jatim) mencapai 3.886 orang. Hari ini saja, jumlah pasien positif COVID-19 bertambah 223 orang.
(Baca juga: Hari Kedua Lebaran, Ada Lonjakan Jumlah Positif COVID-19 di Jatim )
Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo menyatakan, kegagalan PSSB diakibatkan beberapa hal. Antara lain, penerapan PSBB sangat longgar dan tidak adanya konsep penyiapan warga.
Lalu, tidak ada konsep komunikasi preventif yang efektif. Kondisi itu diperburuk dengan kurang maksimalnya penyiapan fasilitas kesehatan."Praktik PSBB dan protokol kesehatan belum diterapkan secara disiplin sesuai ketentuan," ungkapnya, Senin (25/5/2020).
Akibatnya, banyak perilaku sosial yang tidak mendukung penerapan PSBB. Masyarakat tak pernah disiapkan atau dilibatkan maksimal dalam penyelenggaraan PSBB. Sebagian besar di antara mereka hanya sebagai sasaran program saja. "Selama ini, warga hanya dianjurkan untuk di rumah saja. Dampak kejenuhan tak pernah diperhitungkan. Jika diperhitungkan, tidak diberikan solusi," imbuhnya.
(Baca juga: Hari Kedua Lebaran, Ada Lonjakan Jumlah Positif COVID-19 di Jatim )
Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Suko Widodo menyatakan, kegagalan PSSB diakibatkan beberapa hal. Antara lain, penerapan PSBB sangat longgar dan tidak adanya konsep penyiapan warga.
Lalu, tidak ada konsep komunikasi preventif yang efektif. Kondisi itu diperburuk dengan kurang maksimalnya penyiapan fasilitas kesehatan."Praktik PSBB dan protokol kesehatan belum diterapkan secara disiplin sesuai ketentuan," ungkapnya, Senin (25/5/2020).
Akibatnya, banyak perilaku sosial yang tidak mendukung penerapan PSBB. Masyarakat tak pernah disiapkan atau dilibatkan maksimal dalam penyelenggaraan PSBB. Sebagian besar di antara mereka hanya sebagai sasaran program saja. "Selama ini, warga hanya dianjurkan untuk di rumah saja. Dampak kejenuhan tak pernah diperhitungkan. Jika diperhitungkan, tidak diberikan solusi," imbuhnya.
Lihat Juga :