Pembangunan Jembatan Sumsel-Babel Dinilai Berdampak Negatif bagi Angkutan Penyeberangan
Senin, 17 Mei 2021 - 10:49 WIB
Menurutnya, saat ini usaha di lintas penyeberangan tersebut perlu mendapatkan perhatian pemerintah.
Dari 13 kapal yang ada, hanya bisa beroperasi di satu pasang dermaga sehingga setiap kapal hanya bisa beroperasi bergantian 6 kapal sehari yang dipaksakan dalam satu dermaga, sehingga potensi utilitas dan kapasitas angkut dari masing-masing kapal yang bisa digunakan tidak lebih dari 30 persen setiap bulan.
"Berarti kita masih bisa meningkatkan kapasitas angkut atau utilitas sekitar 70 persen lebih. Kalau infrastruktur dermaga ada penambahan menjadi dua pasang dermaga, maka kapasitas angkut dari jumlah kapal yang ada saat ini bisa naik 30 persen untuk melancarkan demand yang ada saat ini," jelasnya.
Rakhmatika menilai, lintasan yang yang ini sering digunakan tersebut terlalu banyak kapal, tetapi tidak bisa dioperasikan karena kekurangan infrastruktur dermaga, sehingga untuk kelancaran sektor usaha tersebut bukan menambah kapal tetapi menambah dermaga untuk mengaktifkan kapal-kapal yang tidak beroperasi karena kekurangan dermaga.
"Sesuai dengan Undang-Undang No.17 Tahun 2018 Pemerintah wajib melakukan pengerukan di wilayah alur, karena saat ini terjadi pendangkalan yang luar biasa hebat dan ini bisa membahayakan keselamatan transportasi," tambahnya
Apabila rencana pembangunan jembatan yang menghabiskan anggaran belasan triliun benar-benar direalisasikan, lanjut Rakhmatika, maka traffic kendaraan yang melewati jembatan tersebut sesuai dengan jumlah kendaraan yang ada di transportasi ferry hanya 300 kendaraan perhari, maka dalam 24 jam hanya sekitar 10-15 kendaraan yang lewat di jembatan tersebut setiap jamnya.
Dari 13 kapal yang ada, hanya bisa beroperasi di satu pasang dermaga sehingga setiap kapal hanya bisa beroperasi bergantian 6 kapal sehari yang dipaksakan dalam satu dermaga, sehingga potensi utilitas dan kapasitas angkut dari masing-masing kapal yang bisa digunakan tidak lebih dari 30 persen setiap bulan.
"Berarti kita masih bisa meningkatkan kapasitas angkut atau utilitas sekitar 70 persen lebih. Kalau infrastruktur dermaga ada penambahan menjadi dua pasang dermaga, maka kapasitas angkut dari jumlah kapal yang ada saat ini bisa naik 30 persen untuk melancarkan demand yang ada saat ini," jelasnya.
Rakhmatika menilai, lintasan yang yang ini sering digunakan tersebut terlalu banyak kapal, tetapi tidak bisa dioperasikan karena kekurangan infrastruktur dermaga, sehingga untuk kelancaran sektor usaha tersebut bukan menambah kapal tetapi menambah dermaga untuk mengaktifkan kapal-kapal yang tidak beroperasi karena kekurangan dermaga.
"Sesuai dengan Undang-Undang No.17 Tahun 2018 Pemerintah wajib melakukan pengerukan di wilayah alur, karena saat ini terjadi pendangkalan yang luar biasa hebat dan ini bisa membahayakan keselamatan transportasi," tambahnya
Apabila rencana pembangunan jembatan yang menghabiskan anggaran belasan triliun benar-benar direalisasikan, lanjut Rakhmatika, maka traffic kendaraan yang melewati jembatan tersebut sesuai dengan jumlah kendaraan yang ada di transportasi ferry hanya 300 kendaraan perhari, maka dalam 24 jam hanya sekitar 10-15 kendaraan yang lewat di jembatan tersebut setiap jamnya.
Lihat Juga :