Hari Raya Nyepi, Gubernur Jatim Ajak Umat Hindu Berdoa Pandemi Segera Berlalu
Senin, 15 Maret 2021 - 02:27 WIB
Baca juga: Pemprov Jawa Timur Larang PT SMN Eksploitasi Tambang Emas di Trenggalek
Kemudian selanjutnya ada amati karya yaitu tidak melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dan amati lelungan yang berarti tidak bepergian dan digantikan dengan mawas diri. Serta amati lelanguan yakni tidak mengobarkan kesenangan, hiburan, dan sejenisnya.
"Empat ritual itu mewujudkan suasana yang tenang. Pada kondisi seperti itu, Umat Hindu melakukan perenungan pada tiga hal yang kerap disebut Trikaya. Yakni kayika yang berarti perbuatan, wacika alias perkataan, dan manacika yang artinya pikiran. Tiga hal itu merupakan lika-liku yang mengelilingi manusia," tandasnya.
Perenungan itu, ditegaskan Gubernur Khofifah, menjadi bagian dari mawas diri. Umat Hindu dengan khusyuk mengingat segala perbuatan yang pernah dilakukan. Lalu mengoreksi apa yang buruk, harus ditinggalkan. Lalu, apa yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, harus ditingkatkan.
"Instropeksi ini merupakan kunci sebuah keberhasilan hidup manusia. Tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Setiap orang pasti pernah khilaf. Dan sudah sepatutnya manusia itu saling memaafkan," lanjutnya.
Lebih lanjut, perenungan atas kesalahan pribadi itu bukan untuk memupuk penyesalan. Sebaliknya, perenungan tersebut menjadi modal untuk mendewasakan diri. Dewasa dalam bersikap, mengendalikan emosi, bertuturkata, serta dewasa dalam menentukan langkah ke depan.
"Dari sini, hakikat hidup bisa ditemukan. Antara lain, sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat, bukan memanfaatkan. Pribadi yang baik adalah mereka yang mengabdikan dirinya untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Seseorang menetapkan pribadi dharma dan menjauhi sifat-sifat adharma," tegasnya.
Kemudian selanjutnya ada amati karya yaitu tidak melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dan amati lelungan yang berarti tidak bepergian dan digantikan dengan mawas diri. Serta amati lelanguan yakni tidak mengobarkan kesenangan, hiburan, dan sejenisnya.
"Empat ritual itu mewujudkan suasana yang tenang. Pada kondisi seperti itu, Umat Hindu melakukan perenungan pada tiga hal yang kerap disebut Trikaya. Yakni kayika yang berarti perbuatan, wacika alias perkataan, dan manacika yang artinya pikiran. Tiga hal itu merupakan lika-liku yang mengelilingi manusia," tandasnya.
Perenungan itu, ditegaskan Gubernur Khofifah, menjadi bagian dari mawas diri. Umat Hindu dengan khusyuk mengingat segala perbuatan yang pernah dilakukan. Lalu mengoreksi apa yang buruk, harus ditinggalkan. Lalu, apa yang baik dan bermanfaat bagi orang lain, harus ditingkatkan.
"Instropeksi ini merupakan kunci sebuah keberhasilan hidup manusia. Tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Setiap orang pasti pernah khilaf. Dan sudah sepatutnya manusia itu saling memaafkan," lanjutnya.
Lebih lanjut, perenungan atas kesalahan pribadi itu bukan untuk memupuk penyesalan. Sebaliknya, perenungan tersebut menjadi modal untuk mendewasakan diri. Dewasa dalam bersikap, mengendalikan emosi, bertuturkata, serta dewasa dalam menentukan langkah ke depan.
"Dari sini, hakikat hidup bisa ditemukan. Antara lain, sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi manfaat, bukan memanfaatkan. Pribadi yang baik adalah mereka yang mengabdikan dirinya untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Seseorang menetapkan pribadi dharma dan menjauhi sifat-sifat adharma," tegasnya.
Lihat Juga :