Ini Langkah Bio Farma Percepat Penemuan Obat COVID-19
Minggu, 17 Mei 2020 - 15:19 WIB
“Dalam keadaan pandemik seperti ini, diperlukan adanya semacam joint collaboration dari semua pihak baik antar industri, maupun antar negara (Goverment to Goverment). Targetnya, untuk secara bersama-sama menemukan solusi terbaik pengobatan dan pencegahan penyakit Covid-19," bebernya.
Selain antar negara, diperlukan juga kerjasama dalam negeri seperti dengan Kemenlu RI melalui Kedubes RI untuk membantu negosiasi di forum-forum internasional, Kemenkes dan BPOM. Namun demikian, kata dia, untuk melalukan percepatan penemuan vaksin, industri vaksin khususnya di negara berkembang dihadapkan pada banyak tantangan.
Tantangan itu bersifat teknis antara lain akses atas penelitian pengembangan vaksin baru, hambatan pada teknologi dan pengaturan pada alokasi dana yang memadai untuk pengembangan vaksin baru. (Baca juga; Bio Farma Siap Produksi 100.000 RT PCR Test Kit )
"Hambatan lainnya adalah mengenai hak paten. Hak paten yang ditetapkan oleh produsen vaksin dari negara maju membuat industri vaksin dari negara berkembang (pharmerging) mengalami keterlambatan dalam pengembangan produk yang berpotensi terhadap hilangnya kesempatan berkontribusi Nasional dan Global," beber Rahman.
Hak paten yang sudah didaftarkan oleh negara maju tersebut, dapat memberikan hambatan pada implementasi proses inovasi. Sedangkan untuk mengembangkan sendiri memerlukan waktu yang cukup panjang, dan akses terhadap seed, virus dan bakteri atau substrat sel terhalang oleh eksklusif agreement / koalisi.
Selain antar negara, diperlukan juga kerjasama dalam negeri seperti dengan Kemenlu RI melalui Kedubes RI untuk membantu negosiasi di forum-forum internasional, Kemenkes dan BPOM. Namun demikian, kata dia, untuk melalukan percepatan penemuan vaksin, industri vaksin khususnya di negara berkembang dihadapkan pada banyak tantangan.
Tantangan itu bersifat teknis antara lain akses atas penelitian pengembangan vaksin baru, hambatan pada teknologi dan pengaturan pada alokasi dana yang memadai untuk pengembangan vaksin baru. (Baca juga; Bio Farma Siap Produksi 100.000 RT PCR Test Kit )
"Hambatan lainnya adalah mengenai hak paten. Hak paten yang ditetapkan oleh produsen vaksin dari negara maju membuat industri vaksin dari negara berkembang (pharmerging) mengalami keterlambatan dalam pengembangan produk yang berpotensi terhadap hilangnya kesempatan berkontribusi Nasional dan Global," beber Rahman.
Hak paten yang sudah didaftarkan oleh negara maju tersebut, dapat memberikan hambatan pada implementasi proses inovasi. Sedangkan untuk mengembangkan sendiri memerlukan waktu yang cukup panjang, dan akses terhadap seed, virus dan bakteri atau substrat sel terhalang oleh eksklusif agreement / koalisi.
(wib)
Lihat Juga :