Petani Tembakau di Kabupaten Pasuruan dapat Bantuan Mesin Perajang dan Widig
Rabu, 16 Desember 2020 - 08:47 WIB
Lebih detailnya, tiga kelompok petani tembakau yang menerima bantuan mesin perajang yaitu kempok tani Jaya 2, kelompok tani Subur 2, dan kelompok tani Makmur 2. Ketiga kelopok ini ada di desa Klinter, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan.
Sedangkan kelompok tani penerima widig yaitu kelompok tani Almutohar, Desa Tambakrejo; kelompok tadi Harapan, Desa Klakah; Kelompok tani Sumber Rejeki, Desa Sibun, ketiganya ada di Kecamatan Pasrepan. Masing masing kelompok menerima 100 lembar widig.
“Dari bantuan ini petai sangat merasakan dampaknya. Kalau tembakau tidak dijemur di widig mutunya beda, kalau tembakau dijemur di terpal itu kurang, soalnya mutu tembakau kan tergantung dari warna dan juga berpengaruh dengan harga. Kalau mesin perajang itu kalau yang manual lama, untuk memperoleh hasil lama, kalau pakai mesin perajang itu cepat, efisiensi waktu dan biaya,” katanya.
Untuk kendepannya, Etin berharap bisa melakukan pembangunan fisik, seperti jalan usaha tani menuju tembakau dan saluran irigasi tersier. Kemudian kalau masih ada sisa anggaran maka bisa digunakan untuk batuan peralatan mesin perajang. Karena di 2020 ini hanya bisa membantu 3 mesin, padahal ada 11 kelompok tani di delapan desa yang membutuhkan mesin tersebut.
“Karena kami di pertanian ini alokasi anggaranya sudah ditentukan, jadi tidak semua kita ambil, kita seusaikan anggaran. Kemarin kami sudah ada pengadaan alat meski tidak semua kelompok, ke depan masih wacana, yaitu pembangunan fisik,” tandasnya.
Sedangkan kelompok tani penerima widig yaitu kelompok tani Almutohar, Desa Tambakrejo; kelompok tadi Harapan, Desa Klakah; Kelompok tani Sumber Rejeki, Desa Sibun, ketiganya ada di Kecamatan Pasrepan. Masing masing kelompok menerima 100 lembar widig.
“Dari bantuan ini petai sangat merasakan dampaknya. Kalau tembakau tidak dijemur di widig mutunya beda, kalau tembakau dijemur di terpal itu kurang, soalnya mutu tembakau kan tergantung dari warna dan juga berpengaruh dengan harga. Kalau mesin perajang itu kalau yang manual lama, untuk memperoleh hasil lama, kalau pakai mesin perajang itu cepat, efisiensi waktu dan biaya,” katanya.
Untuk kendepannya, Etin berharap bisa melakukan pembangunan fisik, seperti jalan usaha tani menuju tembakau dan saluran irigasi tersier. Kemudian kalau masih ada sisa anggaran maka bisa digunakan untuk batuan peralatan mesin perajang. Karena di 2020 ini hanya bisa membantu 3 mesin, padahal ada 11 kelompok tani di delapan desa yang membutuhkan mesin tersebut.
“Karena kami di pertanian ini alokasi anggaranya sudah ditentukan, jadi tidak semua kita ambil, kita seusaikan anggaran. Kemarin kami sudah ada pengadaan alat meski tidak semua kelompok, ke depan masih wacana, yaitu pembangunan fisik,” tandasnya.
Lihat Juga :