Merasa Jenuh, Seorang Anak Terpapar COVID-19 di Semarang Melarikan Diri

Sabtu, 19 September 2020 - 07:11 WIB
Menurutnya di masa pandemi ini anak-anak itu terkungkung di dalam rumah. Mereka pasti merasa jemu dan jenuh, akhirnya memberontak. Mereka pun menantang.

"Apa yang bisa ditantang? Ya melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah itu soal protokol kesehatan. Oleh sebab itu agar tidak jenuh, maka di gadget pun mereka perlu dibuatkan tantangan. Beri mereka aneka lomba sehingga energi mereka tersalur secara positif. Jika dilarang terus, mereka pasti akan melanggar larangan itu dengan sembunyi-sembunyi," jelasnya.

Selain itu, Kuriake juga melihat stigma pasien COVID-19 yang justru membuat mereka tersudut. "Kami ingini masyarakat tidak memberi stigma negatif. Jangan dijauhi. Bila mereka dinyatakan sembuh, berarti itu memang sembuh," ujar psikolog Unika Soegijapranata Semarang ini.

Sementara itu, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa-Bali Arie Rukmantara menyebutkan bahwa di Indonesia ada 80 juta anak, 10 juta di antaranya berada Jawa Tengah.

"Seluruh anak di Jateng harus menjadi teladan, termasuk juga keluarga mereka juga harus menjadi teladan dengan memastikan keluarga mereka tetap sehat selama pandemi COVID-19. Dan itu harus diwariskan," kata Arie.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!