Penerapan Zero ODOL Naikkan Biaya Distribusi Rp5.990,36 Triliun/Tahun
Senin, 26 Mei 2025 - 15:55 WIB
Pada skenario ketiga ini, hasil penelitian memperkirakan terjadinya perubahan harga pada level konsumen lebih dari 90% dalam kurun waktu 8 tahun. Hal ini terjadi karena penindakan tidak dilakukan pada seluruh populasi truk, sehingga populasi yang terkena penindakan pelanggaran akan melakukan segala cara agar terhindar dari penindakan. Hal tersebut dapat menciptakan shadow economy jika tidak ada tindakan dari pemerintah untuk menanganinya.
Pada skenario keempat, diterapkan kondisi Zero ODOL dan dilakukan penindakan dengan 100% populasi truk. Hasil total biaya truk pada kondisi ini mencapai Rp861,18 miliar. Pada skenario keempat, diasumsikan terjadi perubahan harga pada level konsumen sebesar 87% dalam kurun waktu 8 tahun. Kenaikan inflasi pada skenario keempat ini lebih rendah daripada skenario ketiga dikarenakan meratanya penindakan yang dilakukan.
Pada skenario kelima, diterapkan kondisi Zero ODOL dan dilakukan integrasi antarmoda di mana dalam hal ini muatan akan dikirim menggunakan truk dan kereta api logistik dengan tujuan mengefisiensikan biaya pengiriman. Hasilnya, total biaya truk pada kondisi Zero ODOL dengan alternatif integrasi antarmoda (kereta api logistik) hanya sebesar Rp322,92 miliar.
Pada skenario kelima, diperkirakan terjadi perubahan harga pada level konsumen yang cukup signifikan dalam waktu setahun yaitu 40%. Hal itu dikarenakan pada tahun tersebut dilakukan investasi jangka panjang untuk pembangunan kereta api logistik. Namun pada kurun waktu berikutnya, perubahan harga pada level konsumen yang terjadi hanya sebesar 5%.
Suripno menyimpulkan berdasarkan hasil simulasi yang telah dilakukan bahwa penerapan Zero ODOL tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat jika tidak ada solusi dari pemerintah agar biaya logistik tidak menjadi tinggi.
Menurut dia, biaya logistik menjadi tinggi dikarenakan penerapan Zero ODOL, dapat meninggikan total beban biaya dikarenakan ongkos pengiriman yang naik dan jumlah armada truk yang naik juga. Penerapan Zero ODOL membuat jumlah armada truk naik dua kali lipat daripada kondisi saat ini.
Pada skenario keempat, diterapkan kondisi Zero ODOL dan dilakukan penindakan dengan 100% populasi truk. Hasil total biaya truk pada kondisi ini mencapai Rp861,18 miliar. Pada skenario keempat, diasumsikan terjadi perubahan harga pada level konsumen sebesar 87% dalam kurun waktu 8 tahun. Kenaikan inflasi pada skenario keempat ini lebih rendah daripada skenario ketiga dikarenakan meratanya penindakan yang dilakukan.
Pada skenario kelima, diterapkan kondisi Zero ODOL dan dilakukan integrasi antarmoda di mana dalam hal ini muatan akan dikirim menggunakan truk dan kereta api logistik dengan tujuan mengefisiensikan biaya pengiriman. Hasilnya, total biaya truk pada kondisi Zero ODOL dengan alternatif integrasi antarmoda (kereta api logistik) hanya sebesar Rp322,92 miliar.
Pada skenario kelima, diperkirakan terjadi perubahan harga pada level konsumen yang cukup signifikan dalam waktu setahun yaitu 40%. Hal itu dikarenakan pada tahun tersebut dilakukan investasi jangka panjang untuk pembangunan kereta api logistik. Namun pada kurun waktu berikutnya, perubahan harga pada level konsumen yang terjadi hanya sebesar 5%.
Suripno menyimpulkan berdasarkan hasil simulasi yang telah dilakukan bahwa penerapan Zero ODOL tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat jika tidak ada solusi dari pemerintah agar biaya logistik tidak menjadi tinggi.
Menurut dia, biaya logistik menjadi tinggi dikarenakan penerapan Zero ODOL, dapat meninggikan total beban biaya dikarenakan ongkos pengiriman yang naik dan jumlah armada truk yang naik juga. Penerapan Zero ODOL membuat jumlah armada truk naik dua kali lipat daripada kondisi saat ini.
(jon)
Lihat Juga :