Kisah Malam Takbiran di Timor Timur, Bukan Diiringi Suara Bedug Melainkan Desingan Peluru
Minggu, 24 November 2024 - 14:38 WIB
Pada malam takbir tahun 1980, saat semua umat Islam menyerukan takbir, bersuka cita, bercengkrama dengan keluarga, atau bertegur sapa dengan tetangga dan sesama jamaah masjid, Amran justru berada dalam situasi yang berbeda.
Baca juga: Sepak Terjang Tim Sadelor, Penumpas GPK Paling Efektif di Timor Timur
Di mana prajurit itu harus bertaruh nyawa dan berusaha untuk selamat. Malam itu, Amran bersama beberapa unit pasukan Brimob dikepung habis-habisan oleh pasukan pemberontak Fretilin yang selalu membuat kekacauan di Timor Timur.
Pasukan militer Indonesia pada saat itu terkepung dari segala penjuru mulai malam takbir hingga pagi menjelang, saat umat Islam bersiap menuju masjid atau tanah lapang bersama keluarga untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri.
Amran saat itu bukanlah anggota TNI AD yang berada dalam kesatuan pasukan batalyon yang dikirim ke sana. Dia adalah anggota TNI AD yang dipercaya negara menjadi anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS).
Dari dialah informasi keberadaan musuh harus didapatkan. Dari dialah kekuatan dan kelemahan pasukan Fretilin harus didapatkan untuk kemudian dilaporkan ke pimpinan.
Malam itu, Amran bersama prajurit lainnya terpojok dan tak bisa bergerak dengan leluasa karena dihujani peluru. Desing peluru terus melesat tanpa henti yang membuat suasana Idul Adha hilang seketika.
Baca juga: Sepak Terjang Tim Sadelor, Penumpas GPK Paling Efektif di Timor Timur
Di mana prajurit itu harus bertaruh nyawa dan berusaha untuk selamat. Malam itu, Amran bersama beberapa unit pasukan Brimob dikepung habis-habisan oleh pasukan pemberontak Fretilin yang selalu membuat kekacauan di Timor Timur.
Pasukan militer Indonesia pada saat itu terkepung dari segala penjuru mulai malam takbir hingga pagi menjelang, saat umat Islam bersiap menuju masjid atau tanah lapang bersama keluarga untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri.
Amran saat itu bukanlah anggota TNI AD yang berada dalam kesatuan pasukan batalyon yang dikirim ke sana. Dia adalah anggota TNI AD yang dipercaya negara menjadi anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS).
Dari dialah informasi keberadaan musuh harus didapatkan. Dari dialah kekuatan dan kelemahan pasukan Fretilin harus didapatkan untuk kemudian dilaporkan ke pimpinan.
Malam itu, Amran bersama prajurit lainnya terpojok dan tak bisa bergerak dengan leluasa karena dihujani peluru. Desing peluru terus melesat tanpa henti yang membuat suasana Idul Adha hilang seketika.
Lihat Juga :