Serka Bayani, Prajurit Kopassus Pembisik Jenderal Prabowo yang Rebut 100 Senapan OPM
Jum'at, 26 Juli 2024 - 06:51 WIB
Tim intelijen meyakini bahwa penyandera dan sandera berada di dalam salah satu dari enam titik dalam 2-3 hari. Karena tidak ada lokasi pasti, Prabowo memutuskan untuk menyerang enam titik yang diberikan oleh tim intelijen sebagai sasaran operasi.
Baca Juga: Kisah Pasukan Baret Jingga Nyaris Bom Tentara Australia saat Konflik Timor Timur
Penyerbuan dilakukan dengan menggunakan enam helikopter serbu. Menjelang operasi dimulai, tim peninjau dari luar negeri, yakni Inggris, berhasil menyelundupkan alat beacon yang dapat memberi sinyal dan menentukan lokasi pasti.
Namun, titik itu berada di luar enam sasaran yang diberikan oleh tim intelijen sebelumnya. Prabowo kemudian memanggil Serka Bayani dan menjelaskan titik koordinat yang disebutkan oleh pakar dari Inggris.
Bayani menepisnya dan memberikan penjelasan dengan logat khas Papua. “Bapak, jangankan Kelly Kwalik, monyet pun tidak mau tinggal di situ. Tidak ada air di situ. Bapak, bagaimana sekian puluh orang berada di atas (gunung) tanpa air,” ucap Serka Bayani.
Penjelasan Bayani menjadi dasar bagi Prabowo untuk menentukan langkah selanjutnya. Prabowo memutuskan untuk menyerang enam titik sesuai hasil kajian tim intelijen.
Operasi Mapenduma akhirnya berhasil membebaskan sandera, meski tiga dari 26 sandera meninggal dunia dibunuh oleh penyandera sadis tersebut. Sisanya, termasuk seluruh peneliti asing, berhasil dibebaskan.
Baca Juga: Kisah Pasukan Baret Jingga Nyaris Bom Tentara Australia saat Konflik Timor Timur
Penyerbuan dilakukan dengan menggunakan enam helikopter serbu. Menjelang operasi dimulai, tim peninjau dari luar negeri, yakni Inggris, berhasil menyelundupkan alat beacon yang dapat memberi sinyal dan menentukan lokasi pasti.
Namun, titik itu berada di luar enam sasaran yang diberikan oleh tim intelijen sebelumnya. Prabowo kemudian memanggil Serka Bayani dan menjelaskan titik koordinat yang disebutkan oleh pakar dari Inggris.
Bayani menepisnya dan memberikan penjelasan dengan logat khas Papua. “Bapak, jangankan Kelly Kwalik, monyet pun tidak mau tinggal di situ. Tidak ada air di situ. Bapak, bagaimana sekian puluh orang berada di atas (gunung) tanpa air,” ucap Serka Bayani.
Penjelasan Bayani menjadi dasar bagi Prabowo untuk menentukan langkah selanjutnya. Prabowo memutuskan untuk menyerang enam titik sesuai hasil kajian tim intelijen.
Operasi Mapenduma akhirnya berhasil membebaskan sandera, meski tiga dari 26 sandera meninggal dunia dibunuh oleh penyandera sadis tersebut. Sisanya, termasuk seluruh peneliti asing, berhasil dibebaskan.
(ams)