Pembahasan APBN dan APBD Harus Sesuai Pancasila
Minggu, 23 Agustus 2020 - 07:45 WIB
Pakar Pancasila, HM Jazir ASP (kanan) saat menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar oleh FPKS DPRD DIY. FOTO: IST
YOGYAKARTA - Pakar Pancasil a, HM Jazir ASP meminta semua pihak mengehntikan perdebatan yang tidak perlu terkait Pancasila. Menurutnya Pancasila harusnya dipraktikkan bukan untuk diperdebatkan.
Tim ahli Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) ini justru meminta para anggota wakil rakyat untuk menerapkan Pancasila dalam berbagai kegiatan di DPRD.
“Pancasila itu ruh bangsa. Dikawal rakyat. Wakil rakyat harus paham. Pembahasan APBN APBD harus sesuai Pancasila,” terangnya saat menjadi narasumber Diskusi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD DIY Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI : Pembumian Nilai Pancasila dalam Tinjauan Sejarah dan Kekinian, Sabtu (22/8/2020), di DPRD DIY.
Jazir mengajak seluruh elemen negara mulai masyarakat hingga pemerintah harus kembali menerapkan Pancasila. Termasuk di legislatif. Dia mencontohkan dalam menganggaran suatu program harus dicermati berapa yang sampai ke masyarakat. Menurutnya saat ini anatomi APBN dan APBD masih mengutungkan birokrasi. Misalnya program membantu kapal nelayan, Rp85 miliar sendiri habis untuk studi banding. Dari Rp125 miliar total anggaran yang dialokasikan, nelayan hanya menerima Rp15 miliar. Praktik seperti ini hanya menggemukkan organisasi pemerintah
Tim ahli Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) ini justru meminta para anggota wakil rakyat untuk menerapkan Pancasila dalam berbagai kegiatan di DPRD.
“Pancasila itu ruh bangsa. Dikawal rakyat. Wakil rakyat harus paham. Pembahasan APBN APBD harus sesuai Pancasila,” terangnya saat menjadi narasumber Diskusi Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD DIY Refleksi 75 Tahun Kemerdekaan RI : Pembumian Nilai Pancasila dalam Tinjauan Sejarah dan Kekinian, Sabtu (22/8/2020), di DPRD DIY.
Jazir mengajak seluruh elemen negara mulai masyarakat hingga pemerintah harus kembali menerapkan Pancasila. Termasuk di legislatif. Dia mencontohkan dalam menganggaran suatu program harus dicermati berapa yang sampai ke masyarakat. Menurutnya saat ini anatomi APBN dan APBD masih mengutungkan birokrasi. Misalnya program membantu kapal nelayan, Rp85 miliar sendiri habis untuk studi banding. Dari Rp125 miliar total anggaran yang dialokasikan, nelayan hanya menerima Rp15 miliar. Praktik seperti ini hanya menggemukkan organisasi pemerintah
Lihat Juga :