Kisah Putri Mentawai Ratu Semaka, Keberanian Melawan Kerajaan yang Arogan
Rabu, 03 Juli 2024 - 14:55 WIB
Baca juga: Kisah Legenda Banyuwangi, Tragedi Kesetian Cinta Sri Tanjung pada Patih Sidopekso yang Berujung Petaka Berdarah
Usut punya usut, ternyata Putri Mentawai belajar bela diri dari kakaknya yang dikenal sebagai pendekar di kampungnya. Meski perempuan, keterampilan dan ketangkasannya tidak kalah dari para pemuda kampung.
Putri Mentawai hidup dengan tentram di desanya yang makmur. Kondisi ini juga bisa terwujud akibat gotong-royong para warga.
Sebagaimana diketahui, para warga yang memiliki perkebunan di sini biasa menyisihkan sebagian hasil panen untuk diberikan ke sebuah tempat bernama balai perwatin. Balai tersebut digunakan untuk tempat persediaan bagi warga yang kurang mampu.
Selain dialihkan menuju balai perwatin, sebagian hasil panen lainnya diserahkan ke ibu kota kerajaan. Hal ini dilakukan sebagai upeti kepada raja dan dilaksanakan setahun dua kali.
Suatu hari, Putri Mentawai berangkat bersama pengawalnya ke kota kerajaan untuk menyerahkan upeti. Akan tetapi, sang putri mendapat sambutan kurang mengenakan dari prajurit kerajaan.
Menanggapi tindakan prajurit kerajaan, Putri Mentawai tidak terima. Menurutnya, para prajurit setidaknya bisa menyambut utusan dari negeri Semuong, terlebih rombongannya datang untuk membawa upeti.
Putri Mentawai marah dan menantang prajurit itu. Ia pun mengancam tidak akan lagi menyerahkan upeti kepada raja.
Usut punya usut, ternyata Putri Mentawai belajar bela diri dari kakaknya yang dikenal sebagai pendekar di kampungnya. Meski perempuan, keterampilan dan ketangkasannya tidak kalah dari para pemuda kampung.
Putri Mentawai hidup dengan tentram di desanya yang makmur. Kondisi ini juga bisa terwujud akibat gotong-royong para warga.
Sebagaimana diketahui, para warga yang memiliki perkebunan di sini biasa menyisihkan sebagian hasil panen untuk diberikan ke sebuah tempat bernama balai perwatin. Balai tersebut digunakan untuk tempat persediaan bagi warga yang kurang mampu.
Selain dialihkan menuju balai perwatin, sebagian hasil panen lainnya diserahkan ke ibu kota kerajaan. Hal ini dilakukan sebagai upeti kepada raja dan dilaksanakan setahun dua kali.
Suatu hari, Putri Mentawai berangkat bersama pengawalnya ke kota kerajaan untuk menyerahkan upeti. Akan tetapi, sang putri mendapat sambutan kurang mengenakan dari prajurit kerajaan.
Menanggapi tindakan prajurit kerajaan, Putri Mentawai tidak terima. Menurutnya, para prajurit setidaknya bisa menyambut utusan dari negeri Semuong, terlebih rombongannya datang untuk membawa upeti.
Putri Mentawai marah dan menantang prajurit itu. Ia pun mengancam tidak akan lagi menyerahkan upeti kepada raja.
Lihat Juga :