Kisah Putri Tadampalik, Legenda dari Tanah Luwu Sulsel
Senin, 10 Juni 2024 - 08:06 WIB
Baca Juga: Kisah Rahmat, Santri Asal Sulsel Peraih 11 Beasiswa dari Kampus Top Luar Negeri
Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan yang pasti, Putri Tadampalik dan pengawalnya akhirnya menemukan sebuah daratan subur yang dipenuhi pepohonan rindang. Mereka memutuskan untuk menetap di tempat itu dan menamainya Wajo, setelah menemukan buah Wajo di sana. Di tempat ini, Putri Tadampalik dan pengawalnya memulai kehidupan baru dengan penuh semangat dan ketekunan.
Suatu hari, saat Putri Tadampalik duduk di tepi danau, seekor kerbau putih mendekatinya dan mulai menjilati kulitnya. Awalnya ia ingin mengusir kerbau itu, namun hewan tersebut tampak jinak dan terus menjilatinya. Ajaibnya, bekas jilatan kerbau putih itu perlahan-lahan menyembuhkan luka di tubuhnya. Kulit Putri Tadampalik kembali halus dan bersih seperti sediakala. Putri Tadampalik sangat bersyukur dan sebagai bentuk penghargaan kepada kerbau putih itu, ia memerintahkan agar tidak ada yang boleh menyembelih atau memakan kerbau putih di Wajo. Tradisi ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Wajo hingga kini.
Di tempat lain, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu bersama panglimanya, Anre Guru Pakkannyareng. Tanpa disadari, ia terpisah dari rombongannya dan tersesat di hutan hingga malam tiba. Dalam kebingungannya, ia melihat cahaya dari kejauhan dan memutuskan untuk mengikuti sumber cahaya tersebut. Cahaya itu membawanya ke perkampungan di mana Putri Tadampalik tinggal. Saat masuk ke dalam sebuah rumah yang tampak kosong, ia terkejut melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air. Putra Mahkota dan Putri Tadampalik pun berkenalan, dan dalam waktu singkat mereka menjadi akrab satu sama lain.
Putra Mahkota yang telah jatuh hati pada Putri Tadampalik segera kembali ke kerajaannya dan mengutarakan niatnya untuk meminang sang putri kepada Raja Bone. Raja Bone segera mengirim utusan ke Wajo untuk melamar Putri Tadampalik. Putri Tadampalik tidak langsung menerima lamaran tersebut, melainkan memberikan keris pusaka dari ayahnya dan meminta utusan tersebut menyampaikan keris itu kepada Datu Luwu. Jika Datu Luwu menerima keris itu dengan baik, maka pinangan tersebut diterima.
Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan yang pasti, Putri Tadampalik dan pengawalnya akhirnya menemukan sebuah daratan subur yang dipenuhi pepohonan rindang. Mereka memutuskan untuk menetap di tempat itu dan menamainya Wajo, setelah menemukan buah Wajo di sana. Di tempat ini, Putri Tadampalik dan pengawalnya memulai kehidupan baru dengan penuh semangat dan ketekunan.
Suatu hari, saat Putri Tadampalik duduk di tepi danau, seekor kerbau putih mendekatinya dan mulai menjilati kulitnya. Awalnya ia ingin mengusir kerbau itu, namun hewan tersebut tampak jinak dan terus menjilatinya. Ajaibnya, bekas jilatan kerbau putih itu perlahan-lahan menyembuhkan luka di tubuhnya. Kulit Putri Tadampalik kembali halus dan bersih seperti sediakala. Putri Tadampalik sangat bersyukur dan sebagai bentuk penghargaan kepada kerbau putih itu, ia memerintahkan agar tidak ada yang boleh menyembelih atau memakan kerbau putih di Wajo. Tradisi ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Wajo hingga kini.
Di tempat lain, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu bersama panglimanya, Anre Guru Pakkannyareng. Tanpa disadari, ia terpisah dari rombongannya dan tersesat di hutan hingga malam tiba. Dalam kebingungannya, ia melihat cahaya dari kejauhan dan memutuskan untuk mengikuti sumber cahaya tersebut. Cahaya itu membawanya ke perkampungan di mana Putri Tadampalik tinggal. Saat masuk ke dalam sebuah rumah yang tampak kosong, ia terkejut melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air. Putra Mahkota dan Putri Tadampalik pun berkenalan, dan dalam waktu singkat mereka menjadi akrab satu sama lain.
Putra Mahkota yang telah jatuh hati pada Putri Tadampalik segera kembali ke kerajaannya dan mengutarakan niatnya untuk meminang sang putri kepada Raja Bone. Raja Bone segera mengirim utusan ke Wajo untuk melamar Putri Tadampalik. Putri Tadampalik tidak langsung menerima lamaran tersebut, melainkan memberikan keris pusaka dari ayahnya dan meminta utusan tersebut menyampaikan keris itu kepada Datu Luwu. Jika Datu Luwu menerima keris itu dengan baik, maka pinangan tersebut diterima.
Lihat Juga :