Sejarah Bolaang Mongondow yang Jadi Korban Politik Adu Domba Belanda pada 1901

Senin, 26 Juni 2023 - 18:21 WIB
Perselisihan dengan bangsa Belanda, mulai terjadi di Bolaang Mongondow, pada 1 Januari 1901. Di bawah pimpinann Controleur Anton Cornelius Veenhuizen, pasukan Belanda secara paksa masuk ke wilayah Bolaang Mongondow melalui Minahasa.

Langkah paksa diambil pasukan Belanda, dengan melakukan penyerangan melalui wilayah Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil. Upaya paksa yang dilakukan pasukan Belanda tersebut, terjadi saat Bolaang Mongondow dipimpin Raja Riedel Manuel Manoppo.

Raja Riedel Manuel Manoppo yang memimpin dari istananya di Bolaang, tidak mau menerima campur tangan Belanda dalam pemerintahannya. Belanda mulai menjalankan politik adu doba dengan melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja. Belanda juga memberikan dukungan kepada Datu Cornelis Maoppo, untuk mendirikan komalig atau istana raja di Kotobangon, pada tahun 1901.

Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow. Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui jumlah penduduk di Bolaang Mongondow pada masa itu mencapai sebanyak 41.417 jiwa.

Laman bolmongkab.go.id menyebutkan, tada tahun 1906 di wilayah Bolaang Mogondow, mulai dibuka sekolah rakyat hasil kerjasama Raja Bolaang Mongondow, dengan Belanda. Ada tiga kelas yang dibuka, yakni kelas 1-3 dan dikelola oleh zending di beberapa desa.

Baca juga: Jadi Korban Kebakaran, Wanita Hamil di Deli Serdang Meninggal

Sekolah rakyat tersebut berada di Desa Nanasi, Nonapan, Mariri Lama, Kotobangon, Moyag, Pontodon, Passi, Popo Mongondow, Otam, Motoboi Besar, Kopandakan, Poyowa Kecil, dan Pobundayan. Jumlah murid sekolah rakyat pada waktu itu mencapai sebanyak 1.605 orang.

Para pengajar sekolah rakyat ini didatangkan dari Minahasa. Pada tahun 1937 dibuka sekolah Gubernemen di Kotamobagu. Yaitu, Vervolg School atau sekolah sambungan dari sekolah rakyat, untuk kelas 4 dan 5.

Suku Mongondow, dalam kehidupan keseharian menggunakan Bahasa Mongondow, Bahasa Bolango dan Bahasa Bintauna. Secara linguistik, bahasa-bahasa ini masuk ke dalam rumpun bahasa Filipina, bersama dengan Bahasa Gorontalo, Bahasa Minahasa, dan Bahasa Sangir.

Suku Mongondow juga menggunakan Bahasa Melayu Manado, dalam komunikasi mereka dengan masyarakat Sulawesi Utara lainnya. Suku Mongondow terdiri dari beberapa anak suku yang berdiam di wilayah Sulawesi Utara, dan Gorontalo, yaitu Bolaang Mongondow, Bolaang Uki, Kaidipang Besar, Bintauna, Buhang, Korompot, dan Mokodompis.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!