SIB Berlaku 24 Jam Diprotes Nelayan

Selasa, 21 April 2015 - 10:35 WIB
SIB Berlaku 24 Jam Diprotes...
SIB Berlaku 24 Jam Diprotes Nelayan
A A A
SUMENEP - Pembatasan masa berlaku surat persetujuan berlayar atau surat izin berlayar (SIB) selama 24 jam diprotes para nelayan di Kabupaten Sumenep.

Aturan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 82/2014 itu dianggap memberatkan. Protes tersebut disampaikan para nelayan saat mendatangi DPRD Kabupaten Sumenep kemarin. Nelayan menyebutkan, dalam Pasal 5 Permenhub 82 tersebut diatur bahwa surat persetujuan berlayar berlaku 24 jam dari waktu diterbitkan dan hanya dapat digunakan untuk satu kali pelayaran.

Bagi mereka, aturan ini tidak masuk akal dan tidak efisien. Sebab, tidak mungkin nelayan yang harus berpacu dengan waktu untuk menangkap ikan harus disibukkan dengan urusan administrasi setiap hari. “Aturan ini sangat memberatkan nelayan. Masak kami harus bolak-balik melapor ke syahbandar kalau mau berlayar?” ujar Edi, nelayan asal Kepulauan Gili Genting, di hadapan anggota DPRD Sumenep kemarin.

Edi menjelaskan, bila setiap akan berlayar diwajibkan mengurus surat persetujuan kepada syahbandar, nelayan tentu kesulitan. Terlebih, Kabupaten Sumenep terdiri atas banyak pulau. Untuk sampai ke syahbandar di wilayah daratan dibutuhkan waktu lama. Belum lagi bila mereka harus berhadapan dengan kondisi cuaca yang buruk. Karena itu, Edi menilai kebijakan pemerintah ini tidak efektif dan malah menambah beban baru bagi para nelayan.

“Kami menolak aturan itu karena bagi nelayan di kepulauan, jarak dengan Syahbandar cukup jauh sehingga sangat memberatkan kalau setiap hari minta izin. Terus kapan kami yang mau kerja?” tutur Edi. Para nelayan yang datang ke DPRD Sumenep tersebut merupakan perwakilan dari nelayan di wilayah pesisir, di antaranya Desa Lobuk, Kecamatan Bluto; Desa Saronggi, Kecamatan Saronggi; Desa Padike, Kecamatan/ Kepulauan Talango; serta Kepulayan Giligenting.

“Kedatangan kami ke sini (DPRD) bermaksud setidaknya anggota dewan bisa membantu nelayan di Sumenep. Jangan sampai beban kami sebagai nelayan bertambah,” urainya. Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumenep Dwita Andriani yang menerima para nelayan berjanji menindaklanjuti keluhan nelayan tersebut dan dalam waktu dekat akan menggelar dengar pendapat dengan Dinas Perhubungan.

“Kami juga akan konsultasikan persoalan tersebut dengan DPRD Jatim dan DPR RI karena regulasi tersebut dari pusat,” ucapnya.

Subairi
(ars)
Berita Terkait
DPW PKS Jawa Timur Siap...
DPW PKS Jawa Timur Siap Sinergi dan Kolaborasi Bangun Jawa Timur
Inflasi Jawa Timur September...
Inflasi Jawa Timur September Tertinggi di Pulau Jawa
China Mendominasi Impor...
China Mendominasi Impor Jawa Timur
Hari Pertama PPKM, 792...
Hari Pertama PPKM, 792 Warga Jatim Positif COVID-19
Gubernur Khofifah dan...
Gubernur Khofifah dan Dubes Finlandia Jajaki Potensi Kerjasama Pendidikan dan Teknologi
BPH Migas bersama Anggota...
BPH Migas bersama Anggota Komisi VII DPR RI Gelar Sosialisasi
Berita Terkini
Diskominfo Tangsel Bagikan...
Diskominfo Tangsel Bagikan Transformasi Digital Pelayanan Publik ke BPSDMD Jateng
3 jam yang lalu
Bersama Rumah Baca Empat...
Bersama Rumah Baca Empat Jagoan, MNC Peduli Berbagi Buku Dongeng dan Lomba Mewarnai
3 jam yang lalu
Pemkot Tangsel-Kemensos...
Pemkot Tangsel-Kemensos Gelar Bakti Sosial Terintegrasi, Warga Rasakan Manfaat Beragam Layanan
4 jam yang lalu
MR.D.I.Y. Perluas Program...
MR.D.I.Y. Perluas Program Menginspirasi Generasi Inovator, Jangkau 8.600 Anak
5 jam yang lalu
PWI Laporkan Hotman...
PWI Laporkan Hotman Paris ke Polisi, Sahroni Yakin Diusut secara Transparan
6 jam yang lalu
Pembangunan Fakultas...
Pembangunan Fakultas Kedokteran Telkom University di Bandung Rampung
7 jam yang lalu
Infografis
Rp708 Juta per Jam,...
Rp708 Juta per Jam, Biaya Operasional F-35 Israel Sekali Terbang
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved