Perjuangan Abdul Muis Menentang Penindasan

Sabtu, 28 Februari 2015 - 05:01 WIB
Perjuangan Abdul Muis...
Perjuangan Abdul Muis Menentang Penindasan
A A A
BANYAK tokoh penting negeri ini lahir di Sumatera Barat, salah satunya Abdoel Moeis atau Abdul Muis. Seperti apa kiprah sastrawan, jurnalis, dan politikus tersebut?

Abdul Muis lahir di Sungai Puar, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Dia adalah putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang demang yang keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam.

Jabatan ayahnya memungkinkan Abdul Muis memasuki STOVIA (School tot Oleiding Voor Inlandsche Artsen), sekolah untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada zaman kolonial Hindia Belanda.

Namun, saat diadakan ujian praktikum, Abdul Muis jatuh pingsan. Ternyata, dia tidak tahan melihat darah. Dengan demikian, kandaslah cita-citanya menjadi dokter.

Beberapa waktu lamanya dia lalu bekerja sebagai pegawai negeri pada Departemen Agama dan Kerajinan.

Setelah itu ia pindah ke harian "Preanger Bode", surat kabar Belanda yang terbit di Bandung. Tugas Abdul Muis adalah mengoreksi karangan-karangan yang akan dimasukkan ke percetakan. Di situ, dia membaca karangan-karangan Belanda yang berisi penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Perasaannya tersinggung. Abdul Muis mengajukan protes kepada atasannya, tetapi tidak pernah ditanggapi. Hal itu mendorongnya untuk menulis karangan-karangan yang menangkis penghinaan yang dilontarkan terhadap bangsanya oleh penulis-penulis Belanda.

Artikel-artikel itu dikirimnya ke harian De Express, harian berbahasa Belanda yang dipimpin oleh Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), seorang Indo yang menentang penjajahan Belanda.

Di dunia jurnalis, Abdul Muis pun pernah bekerja sama dengan Haji Agus Salim memimpin majalah Neraca.

Di luar dunia jurnalis, Abdul Muis adalah anggota Sarekat Islam (SI). Namanya sejajar dengan tokoh SI lainnya seperti Haji Agus Salim maupun Mohammad Roem.

Johan Prasetya dalam buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penerbit Saufa, Agustus 2014) menulis, Abdul Muis adalah anggota pengurus besar SI. Dalam Kongres SI pada tahun 1916 di Bandung, Abdul Muis menegaskan perlunya mengusahakan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya kaum Islam.

Sebagai aktivis pergerakan yang cerdas, Abdul Muis memilih cara unik untuk memperjuangkan nasib bangsanya. Selain melalui tulisan-tulisan yang tajam, ia juga menggelorakan pemboikotan perayaan yang diadakan Belanda untuk mengenang 100 tahun terbebasnya Belanda dari penjajahan Perancis pada Pada November 1913. Aksi tersebut membuatnya harus berhadapan dengan mahkamah pengadilan.

Dalam banyak momen, Abdul Muis selalu memanfaatkan untuk kepentingan Indonesia. Ketika dikirim ke Belanda pada 1917 atas nama Komite Ketahanan Hindia Belanda (Indie Weerbar), ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memengaruhi tokoh-tokoh politik Belanda agar mendirikan sekolah teknologi tinggi (Technische Hooge School) di Indonesia.

Gagasan itu timbul setelah Abdul Muis mencoba naik pesawat terbang. Dari pengalaman tersebut, Abdul Muis yakin bahwa kemajuan teknik barat perlu dipelajari oleh pemuda-pemuda Indonesia.

Perjuangannya tidak sia-sia. Sekolah tersebut akhirnya didirikan dan sekarang terkenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di momen lain, bersama HOS Cokroaminoto, Abdul Muis yang merupakan wakil dari SI dalam Volksraad, pada tanggal 25 November 1918 mengajukan mosi terhadap Pemerintah Belanda agar membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih sendiri oleh rakyat.

Pada peristiwa pemogokan massal buruh di Yogyakarta tahun 1922, Abdul Muis juga terlibat. Pemerintah Belanda akhirnya menangkap Abdul Muis dan mengasingkannya ke Garut, Jawa Barat pada tahun 1927.

Di Garut, jiwa sastra Abdul Muis muncul. la menulis novel yang kemudian cukup terkenal hingga sekarang yakni "Salah Asuhan". Ia juga menerjemahkan buku dan bahasa asing, antara lain "Sebatang Kara", "Don Kisot", dan "Tom Sawyer Anak Amerika".

Pada zaman Jepang, nama Abdul Muis tidak banyak terdengar. Tetapi setelah kemerdekaan diproklamasikan, keinginannya untuk melakukan kegiatan politik bangkit kembali. Bersama beberapa temannya, ia membentuk "Persatuan Perjuangan Priangan", yang berpusat di Wanaraja, di luar Garut.

Tahun 1946 ia ditawari menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, tetapi ada saja orang yang iri. Orang itu menulis laporan palsu kepada Presiden Soekarno yang mengatakan bahwa sewaktu diasingkan di Garut, Abdul Muis minta ampun kepada Pemerintah Belanda. Padahal, anjuran meminta ampun ditolak mentah-mentah oleh Abdul Muis.

Abdul Muis meninggal dunia di Bandung pada 17 Juni 1959. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 218 Tahun 1959 tertanggal 30 Agustus 1959, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan kepada Abdul Muis.

Sumber: Wikipedia, pahlawancenter.com, dan buku Pahlawan-Pahlawan Bangsa yang Terlupakan (Penulis Johan Prasetya, Penerbit Saufa, Agustus 2014).
(zik)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Korban Terakhir Ledakan...
Korban Terakhir Ledakan Gas di Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
2 jam yang lalu
Punya KTP DKI dan Beli...
Punya KTP DKI dan Beli Rumah Pertama? Ini Syarat Dapat Diskon BPHTB 50 Persen
3 jam yang lalu
Polda Metro Jaya Bakal...
Polda Metro Jaya Bakal Panggil Hotman Paris Usai Dilaporkan PWI
4 jam yang lalu
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
4 jam yang lalu
Ketahanan Pangan Nasional,...
Ketahanan Pangan Nasional, Nestl Salurkan 90 Sapi Perah Impor di Jatim
5 jam yang lalu
PASTI Indonesia Desak...
PASTI Indonesia Desak Polda Kalsel Hentikan Kasus Babe Aldo dan Ditangani Bareskrim
5 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved