Mengenal Mainan Tradisional di Kampung Dolanan

Minggu, 22 Februari 2015 - 11:48 WIB
Mengenal Mainan Tradisional...
Mengenal Mainan Tradisional di Kampung Dolanan
A A A
Gobag sodor, jamuran, mungkin sudah terdengar cukup asing di telinga anak-anak kecil saat ini. Apalagi mainan tradisional seperti kitiran, kurungan manuk, othok-othok, gamelan, payung megar mingkup, wayang kertas.

Semakin tergerusnya mainan dan permainan tradisional Jawa tersebut disebabkan salah satunya karena sudah membanjirnya alat-alat mainan yang lebih canggih dan mudah didapatkan di kalangan umum. Apalagi saat ini gadget berupa ponsel sudah bisa diaplikasikan oleh anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Kondisi ini menumbuhkan rasa keprihatinan bagi para pemuda di Kampung Pandes, RT 03 Panggungharjo, Sewon, Bantul. Berkunjung ke daerah tersebut memang tak terlalu berbeda jauh dengan pedesaan-pedesaan lain di Yogyakarta. Suasana yang tak terlalu bising dengan kendaraan, dan keramahan warga setempat masih terasa. Di satu sudut desa terdapat sebuah bangunan mirip pendapa yang betuliskan ‘gedung pojok budaya’.

Di tempat ini lah, para pemuda di desa tersebut melakukan aktivitas menjaga kelestarian budaya para leluhur mereka terlebih dahulu. Seperti dengan peragaan pembuatan mainan tradisional, atau sekedar mengaplikasikan permainanpermainan jaman dulu. “Ini sebagai penghargaan kreativitas leluhur. Nenek moyang kita mempunyai semangat berinovasi, perlu dilestarikan, dan ditiru,” kata salah satu pengurus karang taruna di sana, Hosni Bimo Wicaksono, 31.

Pendirian sebuah pendapa budaya ini sudah sejak 2008 lalu. Di sini biasa menerima para tamu kalangan akademik, mulai dari mahasiswa, siswa sekolah dari tingkat SMA, hingga SD. “Untuk tempat outbondatau sekadar mereka ingin mengetahui permainan ataupun mainan tradisional zaman dulu. Kalau untuk mahasiswa yang datang, mereka ingin melihat desain mainan saja,” ungkapnya. Kampung ini dulunya adalah tempat pembuatan mainan tradisional.

Dulunya setiap kali ada pasar malam atau sekaten, baik di sekitar Yogyakarta atau di Jawa Tengah, seluruh warga bedol desa. Mendatanginya dengan menjual hasil-hasil produksinya. “Kita sampai menginap, dua minggu tidur di lapak pasar malam. Sampai ke Purworejo dan daerah-daerah lain,” ujar Hosni. Saat ini sudah generasi ketiga dan hanya tinggal sekitar lima perajin mainan saja.

“Itu pun sudah tua, lebih dari 70 tahun umurnya,” ucapnya. Lima perajin tersebut dalam membuat mainan tradisional pun tak seperti dulu lagi. Hanya sekadar untuk mengisi waktu luang. Karena berdasar nilai ekonomisnya, tak terlalu membantu perekonomian keluarga mereka. “Harga setiap mainan saat ini kisaran Rp2.000 saja. Harga murah itu pun sudah jarang orang beli,” kata Hosni.

Salah satu perajin, Saminem, 75, mengungkapkan, dia berhenti membuat dan menjual mainan tersebut karena lebih memilih mengurusi keluarganya. “Mengasuh cucu saja. Sudah tidak laku, beberapa dagangan saya tinggal di Pasar Talok (dekatnya),” ucapnya.

Ridho Hidayat
Bantul
(ars)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
Ketahanan Pangan Nasional,...
Ketahanan Pangan Nasional, Nestl Salurkan 90 Sapi Perah Impor di Jatim
20 menit yang lalu
PASTI Indonesia Desak...
PASTI Indonesia Desak Polda Kalteng Hentikan Kasus Babe Aldo dan Ditangani Bareskrim
38 menit yang lalu
Diskominfo Tangsel Bagikan...
Diskominfo Tangsel Bagikan Transformasi Digital Pelayanan Publik ke BPSDMD Jateng
7 jam yang lalu
Bersama Rumah Baca Empat...
Bersama Rumah Baca Empat Jagoan, MNC Peduli Berbagi Buku Dongeng dan Lomba Mewarnai
7 jam yang lalu
Pemkot Tangsel-Kemensos...
Pemkot Tangsel-Kemensos Gelar Bakti Sosial Terintegrasi, Warga Rasakan Manfaat Beragam Layanan
7 jam yang lalu
MR.D.I.Y. Perluas Program...
MR.D.I.Y. Perluas Program Menginspirasi Generasi Inovator, Jangkau 8.600 Anak
8 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved