Soeharto Dituding Menculik Sutan Syahrir

Jum'at, 12 September 2014 - 05:05 WIB
Soeharto Dituding Menculik...
Soeharto Dituding Menculik Sutan Syahrir
A A A
PRESIDEN Republik Indonesia ke-2 Soeharto dituding terlibat dalam penculikan terhadap Perdana Menteri (PM) Sutan Syahrir, pada 3 Juli 1946. Tudingan itu disampaikan mantan Wakil Perdana Menteri I era Presiden Soekarno, Dr H Soebandrio di dalam bukunya "Yang Saya Alami Peristiwa G30S".

"Percobaan kudeta terhadap PM Sutan Syahrir, pada 3 Juli 1946, dilancarkan dibawah pimpinan Tan Malaka dari Partai Murba, juga mengajak kalangan militer Jawa Tengah, termasuk Soeharto," tulis Soebandrio, di halaman 12.

Diceritakan, penculikan terhadap PM Sutan Syahrir, terjadi pada 20 Juni 1946, saat Syahrir dan kawan-kawannya sedang berada di Surakarta. Para penculiknya kelompok militer dibawah komando Divisi III Mayjen Sudarsono. Saat itu, Soeharto menjabat Komandan Militer Surakarta.

Beberapa minggu kemudian, pada 2 Juli 1946, gerombolan penculik berkumpul di markas Soeharto, sebanyak dua batalyon. Pasukan lantas diperintah untuk menguasai RRI, dan Telkom.

"Malam itu juga mereka menyiapkan surat keputusan pembubaran Kabinet Syahrir, dan menyusun kabinet baru yang sedianya akan ditandatangani Presiden Soekarno di Istana Negara Yogyakarta, esok harinya," beber Soebandrio lagi.

Surat keputusan itu dibuat dalam empat tingkat. Pertama keputusan Presiden RI dibuat dalam maklumat nomor 1, 2, dan 3. Semua maklumat yang dibuat mengarah pada tindakan kudeta.

Dalam maklumat nomor dua tingkatan kedua disebutkan, terhadap Ketua Revolusi Indonesia yang berjuang untuk rakyat, kami atas nama kepala negara hari ini memberhentikan seluruh Kementerian Negara Sutan Syahrir, Yogyakarta, 3 Juli 1946.

Namun percobaan kudeta ini gagal. Semua pelakunya ditangkap dan ditahan. Soeharto yang dari awal berkomplot dengan gerombolan penculik, tiba-tiba berbalik arah, dan ikut menangkapi para penculik.

"Dia berdalih, keberadaannya sebagai anggota komplotan penculik merupakan upaya untuk 'mengamankan' para penculik (agar tidak melarikan diri). Inilah karakter Soeharto," demikian Soebandrio, mengungkap keterlibatan Soeharto dalam Peristiwa 3 Juli 1946.

Sementara itu, dalam buku otobiografinya "Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya", seperti dipaparkan kepada G Dwipayana, dan Ramadhan KH, Soeharto menceritakan, saat terjadi penculikan itu, dia menjadi rebutan pihak yang saling bertentangan.

"Saya berusaha bersikap tenang, teguh dalam pendirian, bahwa saya tidak boleh terlibat dalam percaturan yang saling berlawanan," ungkapnya, di halaman 37.

Soeharto melanjutkan, dirinya sempat kaget saat diperintahkan untuk menangkap atasannya Mayor Jenderal Sudarsono. Dia lantas menghadap Panglima Divisi Mayor Jenderal Sudarsono. Namun, saat itu dia tidak bilang bahwa dirinya mendapat perintah untuk menangkap Sudarsono.

"Saya tidak melaporkan bahwa ada perintah untuk menangkap, tetapi yang saya laporkan informasi adanya laskar pejuang yang belum jelas, yang akan menculik Mayor Jenderal Sudarsono," jelasnya.

Kelihaian Soeharto dalam melaksanakan perintah, rupanya berjalan dengan sangat mulus. Sudarsono mau diajaknya ke Resimen III Wiyoro. Namun rupanya Sudarsono mengetahui akal bulus Soeharto, anak buahnya itu. Dia lalu membuat strategi untuk Soeharto.

Tetapi strategi Sudarsono dapat dibaca oleh Soeharto. Tanpa pengawalan, Sudarsono datang sendirian ke Resimen III. Dia membawa telegram dari Panglima Besar Jenderal Soedirman yang isinya diminta untuk menghadap segera. Soeharto tahu, itu akal-akalan saja.

Lalu Soeharto meminta satu pleton anak buahnya mengawal Sudarsono yang seorang diri. Soeharto sudah mendapat telepon dari Soedirman agar Sudarsono tetap berada di Resimen III.

Pada tengah malam, Sudarsono kembali ke Resimen III membawa para tawanan yang terdiri para pemimpin politik yang dikeluarkan dari Rumah Tahanan Wirogunan. Kepada Soeharto, Sudarsono mengatakan telah mendapat kuasa dari Soedirman.

Soeharto tahu, kuasa yang diberikan Soedirman tidak benar. Karena sebelumnya Soedirman telah menghubunginya. Sudarsono mengatakan, paginya dia akan menghadap Soekarno untuk memberikan surat keputusan yang telah dibuat malam itu.

"Keterlaluan panglima saya ini, dikira saya tidak mengetahui persoalannya. Saya mau diapusi. Tidak ada jalan lain, selain balas ngapusi dia," terang Soeharto, menjelaskan rencana Sudarsono.

Dari situ, Soeharto lantas menghubungi Presiden Soekarno dan menjelaskan apa yang terjadi di Resimen III Wiyoro. Tanggal 3 Juli 1946 pagi, rombongan Sudarsono berangkat ke Istana. Setibanya di Istana, dia ditangkap Pasukan Pengawal Presiden.

Demikian ulasan singkat Cerita Pagi tentang Peristiwa 3 Juli 1946. Pro dan kontra dalam peristiwa itu dikembalikan kepada sidang pembaca. Semoga menambah cakrawala pengetahuan tentang kabut sejarah awal berdirinya RI.
(san)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Peringati Hari Lingkungan...
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Sentul City Tanam 3.850 Pohon
57 menit yang lalu
Gelar Pernas XIII di...
Gelar Pernas XIII di Klaten, FMKI Keluarkan Seruan Moral
1 jam yang lalu
Pemerintah Serahkan...
Pemerintah Serahkan SK Hutan Adat Jambi hingga Bali Seluas 1.175 Hektare
2 jam yang lalu
Fasilitas Pengemasan...
Fasilitas Pengemasan Minyak Goreng di Surabaya Percepat Pasokan ke Indonesia Timur
2 jam yang lalu
Taruna Nusantara Cimahi-Redea...
Taruna Nusantara Cimahi-Redea Institute Kerja Sama Peningkatan Kualitas Akademik
4 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
5 jam yang lalu
Infografis
Mengapa Nasi Dituding...
Mengapa Nasi Dituding sebagai Masalah Utama Diabetes?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved