Erupsi Merapi berasal dari sisa material lama

Rabu, 30 April 2014 - 15:12 WIB
Erupsi Merapi berasal...
Erupsi Merapi berasal dari sisa material lama
A A A
Sindonews.com - Kepala BPPTKG Yogyakarta Subandrio memprediksi belum ada pergerakan magma baru menuju puncak Merapi. Artinya, erupsi yang selama ini sering terjadi merupakan sisa material lama.

"Jika kriteria untuk menaikan status dilihat dari pergerakan magmatik, maka status merapi masih normal, karena belum ada magma baru naik ke atas," ujarnya, di Kantor BPBD DIY, Rabu (30/4/2014).

Namun, parameter yang digunakan untuk meningkatkan status Merapi dari letusan minor atau low frekuensi. "Low Frekuensinya sudah sangat tinggi, diatas normal sehingga statusnya waspada," imbuhnya.

‪Subandriyo mempertegas belum ada tanda-tanda akan terjadi erupsi eksplosif di Merapi. Tanda-tanda letusan eksplosif dari magma baru di dalam dapur magma belum terlihat pergerakan.

Butuh waktu bagi magma baru menuju atas menembus kawah hingga terjadi erupsi atau letusan. Tanda yang paling mudah terlihat dengan keluarnya lahar di puncak. "Material yang keluar sekarang masih material lama, belum ada yang baru," terangnya.

Sebagaimana diketahui, setiap gunung memiliki dapur magma masing-masing. Tidak ada hubungannya antara satu gunung dengan gunung lain karena karakter dan kriteria masing-masing gunung api tersebut berlainan.

Semisal Gunung Slamet berstatus waspada karena mengeluarkan abu vulkanik, hal itu berbeda dengan Gunung Merapi yang sama-sama mengeluarkan abu vulkanik. Begitu juga siklus suatu gunung api meletus.

Siklus lebih pada perkiraan suatu gunung meletus pada level high frekuensi atau letusan eksplosif. Seperti Merapi ditengarai ada siklus empat tahunan sekali.

Jika siklus empat tahunan itu berlaku, maka masih ada waktu tujuh bulan kedepan Merapi akan meletus. Itu terlihat dari letusan high frekuensi pada Oktober hingga November 2000 nanti.

Apakah Merapi akan meletus high frekuensi pada tenggang wakyu itu? Subandrio enggan menjawab. "Letusan high frekuensi tak bisa dijelaskan secara ilmiah," ujanrnya.
(san)
Berita Terkait
Takut Wedus Gembel,...
Takut Wedus Gembel, Ratusan Warga Kemalang Klaten Mengungsi
Merapi Masuk Fase Erupsi,...
Merapi Masuk Fase Erupsi, Ganjar Minta BPBD Memastikan Kondisi Pengungsi
Selain Lava Pijar, Pagi...
Selain Lava Pijar, Pagi Ini Merapi Luncurkan Awan Panas
Pagi Ini Merapi Keluarkan...
Pagi Ini Merapi Keluarkan Dua Kali Suara Gemuruh
Selama 6 Jam Terjadi...
Selama 6 Jam Terjadi 9 kali, Intensitas Guguran Lava Pijar Merapi Terus Meningkat
BPPTKG Prediksi Erupsi...
BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi Menuju Selatan dan Tenggara
Berita Terkini
Pemberdayaan UMKM Sawit,...
Pemberdayaan UMKM Sawit, BPDP Raih Penghargaan Medbun Awards
1 jam yang lalu
Hardiyanto Kenneth PDIP...
Hardiyanto Kenneth PDIP Apresiasi Pemprov DKI Jakarta Luncurkan Mobil Klinik Hewan Keliling
11 jam yang lalu
Massa Antikorupsi Dukung...
Massa Antikorupsi Dukung Kortas Tipikor Polri dan KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi
13 jam yang lalu
Penampakan Emas Batangan...
Penampakan Emas Batangan hingga Uang Hasil Penggeledahan 13 Lokasi yang Ditampilkan di Polda Metro Jaya
14 jam yang lalu
Suasana Terkini Rumah...
Suasana Terkini Rumah Jampidsus di Kebayoran Baru: Sepi, Tidak Ada Penjagaan TNI
14 jam yang lalu
3 Pekerja Proyek Tewas...
3 Pekerja Proyek Tewas di Gorong-gorong, Pramono Ungkap 1 Korban Merupakan WNA
15 jam yang lalu
Infografis
LRT Jakarta Velodrome-Manggarai...
LRT Jakarta Velodrome-Manggarai Rampung Paling Lama Awal 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved