Bahaya, Gunung Slamet muntahkan abu vulkanik merah
Minggu, 16 Maret 2014 - 00:43 WIB
Bahaya, Gunung Slamet muntahkan abu vulkanik merah
A
A
A
Sindonews.com - Meningkatnya aktivitas Gunung Slamet menjadi waspada, membuat warga Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, was-was dan khawatir. Sebab, desa mereka hanya sekira lima kilometer dari puncak gunung.
Setiap pagi, kawasan desa ini selalu diguyur hujan abu yang berasal dari letusan Gunung Slamet. Kendati tidak tebal, dan tipis, kondisi ini sangat membahayakan.
Tidak hanya itu, setiap pagi dan malam hari, warga juga selalu mendengar dengan jelas suara gemuruh akan terjadinya letusan gunung. Meski begitu, warga masih belum mau mengungsi dan memilih tetap menjalankan aktivitas di bawah bayang-bayang ketakutan.
"Hujan abu kalau pagi hari," ujar seorang warga Dusun Srawadadi Desa Clekatan Wasriah (35), kepada wartawan, Minggu (15/3/2014).
Hal senada diungkapkan Kepala Desa Clekatan Sutrisno. Setiap pagi, desanya selalu diguyur hujan abu tipis disertai pasir Gunung Slamet. Namun begitu, dirinya tidak membuat inisiatif dan lebih memilih intruksi dari pemerintah.
"Selain suara gemuruh, setiap pagi selalu terjadi hujan abu, disertai pasir. Bahkan hari ini, abu ada warna merahnya," ungkap Sutrisno.
Lebih lanjut, dia juga mengaku khawatir dengan keselamatan warga desanya, jika sewaktu-waktu terjadi letusan hebat. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang bahaya letusan Gunung Slamet.
"Warga sudah disosialikan untuk waspada sejak status Gunung Slamet ditingkatkan dari normal menjadi waspada, termasuk lokasi tujuan jika sewaktu-waktu harus mengungsi. Kamis 20 Maret 2014 akan diadakan simulasi (evakusi)," ungkapnya.
Baca juga:
Gemuruh Gunung Slamet terdengar siang & malam
Setiap pagi, kawasan desa ini selalu diguyur hujan abu yang berasal dari letusan Gunung Slamet. Kendati tidak tebal, dan tipis, kondisi ini sangat membahayakan.
Tidak hanya itu, setiap pagi dan malam hari, warga juga selalu mendengar dengan jelas suara gemuruh akan terjadinya letusan gunung. Meski begitu, warga masih belum mau mengungsi dan memilih tetap menjalankan aktivitas di bawah bayang-bayang ketakutan.
"Hujan abu kalau pagi hari," ujar seorang warga Dusun Srawadadi Desa Clekatan Wasriah (35), kepada wartawan, Minggu (15/3/2014).
Hal senada diungkapkan Kepala Desa Clekatan Sutrisno. Setiap pagi, desanya selalu diguyur hujan abu tipis disertai pasir Gunung Slamet. Namun begitu, dirinya tidak membuat inisiatif dan lebih memilih intruksi dari pemerintah.
"Selain suara gemuruh, setiap pagi selalu terjadi hujan abu, disertai pasir. Bahkan hari ini, abu ada warna merahnya," ungkap Sutrisno.
Lebih lanjut, dia juga mengaku khawatir dengan keselamatan warga desanya, jika sewaktu-waktu terjadi letusan hebat. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi tentang bahaya letusan Gunung Slamet.
"Warga sudah disosialikan untuk waspada sejak status Gunung Slamet ditingkatkan dari normal menjadi waspada, termasuk lokasi tujuan jika sewaktu-waktu harus mengungsi. Kamis 20 Maret 2014 akan diadakan simulasi (evakusi)," ungkapnya.
Baca juga:
Gemuruh Gunung Slamet terdengar siang & malam
(san)