Dalam sejarah, Gunung Slamet tidak pernah meletus besar
Jum'at, 14 Maret 2014 - 16:30 WIB
Dalam sejarah, Gunung Slamet tidak pernah meletus besar
A
A
A
Sindonews.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyatakan, meskipun Gunung Slamet beberapakali mengeluarkan asap, masyarakat tidak perlu panik. Statusnya masih di waspada level II.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan, dalam historisnya Gunung Slamet tidak pernah meletus secara besar.
“Namun demikian, kami tetap waspadai jika ada penyimpangan di luar pengamatan. Karena dampaknya bisa radius empat km dari puncak,” kata Sarwa saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jalan Imam Bonjol Kota Semarang, Jumat (14/3).
Penyimpangan di luar pengamatan itu, kata Sarwa, adalah kemungkinan terjadinya letusan besar ataupun awan panas. Karena Gunung Slamet pun meskipun tergolong gunung api, ternyata tidak mempunyai sejarah mengeluarkan awan panas atau yang biasa disebut wedus gembel.
“Itulah yang kami waspadai, apakah ada kemungkinan di luar karakteristik gunung itu ada tidak. Kami belajar dari Sinabung dan Kelud, yang lama tertidur tiba–tiba seperti itu,” tambahnya.
Sarwa mengatakan, pihaknya merekomendasikan masyarakat tetap tenang. Dan radius dua km diharapkan tidak ada aktivitas, baik pendakian maupun aktivitas wisata. “Aturan yang ada agar dipatuhi,” kata Sarwa.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan, dalam historisnya Gunung Slamet tidak pernah meletus secara besar.
“Namun demikian, kami tetap waspadai jika ada penyimpangan di luar pengamatan. Karena dampaknya bisa radius empat km dari puncak,” kata Sarwa saat menggelar konferensi pers di kantornya, Jalan Imam Bonjol Kota Semarang, Jumat (14/3).
Penyimpangan di luar pengamatan itu, kata Sarwa, adalah kemungkinan terjadinya letusan besar ataupun awan panas. Karena Gunung Slamet pun meskipun tergolong gunung api, ternyata tidak mempunyai sejarah mengeluarkan awan panas atau yang biasa disebut wedus gembel.
“Itulah yang kami waspadai, apakah ada kemungkinan di luar karakteristik gunung itu ada tidak. Kami belajar dari Sinabung dan Kelud, yang lama tertidur tiba–tiba seperti itu,” tambahnya.
Sarwa mengatakan, pihaknya merekomendasikan masyarakat tetap tenang. Dan radius dua km diharapkan tidak ada aktivitas, baik pendakian maupun aktivitas wisata. “Aturan yang ada agar dipatuhi,” kata Sarwa.
(san)