Juru kunci yakin Gunung Slamet tak akan meletus
Kamis, 13 Maret 2014 - 20:32 WIB
Juru kunci yakin Gunung Slamet tak akan meletus
A
A
A
Sindonews.com - Meningkatnya status Gunung Slamet dari normal menjadi waspada tidak membuat risau Warjono (75) warga Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Juru kunci Gunung Slamet itu meyakini gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini tidak akan meletus meski menunjukan peningkatan aktivitas.
Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, Warjono tampak masih sehat dan bersemangat saat ditemui di rumahnya di RT 07/RW 02, Kamis (13/3/2014).
Desa tempat tinggal Warjono merupakan desa di Kecamatan Pulosari yang terdekat dengan Gunung Slamet. Dari puncak gunung, jaraknya sekitar enam kilometer.
Sebagai juru kunci dan kerap mengantar para pendaki, sudah tak terhitung berapa kali Warjono mendaki Gunung Slamet. Setiap pendaki yang akan naik dipastikan akan meminta diantar Warjono.
"Sudah ribuan. Karena kadang baru pulang mendaki ada tamu (pendaki) lagi ya langsung berangkat lagi," ujarnya.
Warjono pun mengaku tak khawatir terkait meningkatnya aktivitas Gunung Slamet saat ini. Dia menganggap Gunung Slamet saat ini sedang dehem atau batuk biasa.
"Tidak usah ditakuti. Gunung Slamet tidak akan meletus, karena hanya akan ambles ke bumi saat kiamat. Karena Gunung Slamet yang paling besar tidak ada yang menandingi, kalau tingginya memang ada," ujarnya.
Warjono menganggap apa yang dialami Gunung Slamet adalah bagian dari siklus alam biasa yang tidak akan sampai membahayakan warga seperti peningkatan aktivitas yang pernah terjadi sebelumnya.
"Karena namanya Slamet yang ada di bawah Gunung Slamet akan selamet," tandasnya.
Juru kunci Gunung Slamet itu meyakini gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini tidak akan meletus meski menunjukan peningkatan aktivitas.
Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, Warjono tampak masih sehat dan bersemangat saat ditemui di rumahnya di RT 07/RW 02, Kamis (13/3/2014).
Desa tempat tinggal Warjono merupakan desa di Kecamatan Pulosari yang terdekat dengan Gunung Slamet. Dari puncak gunung, jaraknya sekitar enam kilometer.
Sebagai juru kunci dan kerap mengantar para pendaki, sudah tak terhitung berapa kali Warjono mendaki Gunung Slamet. Setiap pendaki yang akan naik dipastikan akan meminta diantar Warjono.
"Sudah ribuan. Karena kadang baru pulang mendaki ada tamu (pendaki) lagi ya langsung berangkat lagi," ujarnya.
Warjono pun mengaku tak khawatir terkait meningkatnya aktivitas Gunung Slamet saat ini. Dia menganggap Gunung Slamet saat ini sedang dehem atau batuk biasa.
"Tidak usah ditakuti. Gunung Slamet tidak akan meletus, karena hanya akan ambles ke bumi saat kiamat. Karena Gunung Slamet yang paling besar tidak ada yang menandingi, kalau tingginya memang ada," ujarnya.
Warjono menganggap apa yang dialami Gunung Slamet adalah bagian dari siklus alam biasa yang tidak akan sampai membahayakan warga seperti peningkatan aktivitas yang pernah terjadi sebelumnya.
"Karena namanya Slamet yang ada di bawah Gunung Slamet akan selamet," tandasnya.
(sms)