Tekanan magma Gunung Slamet tinggi
Rabu, 12 Maret 2014 - 17:03 WIB
Tekanan magma Gunung Slamet tinggi
A
A
A
Sindonews.com - Kepala Program Studi Pasca Sarjana Fakultas Teknik Jurusan Teknik Geologi Universita Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Agung Harijoko menyatakan, meningkatnya aktivitas Gunung Slamet, karena adanya tekanan dari dapur magma pada gunung tersebut.
"Meningkatnya aktivitas gunung api disebabkan oleh tekanan dari dapur magma. Jadi tidak benar satu gunung aktif menimbulkan gunung lain turut meningkat," kata Agung Harijoko, saat ditemui wartawan, Rabu (12/3/2014).
Setiap gunung api, memiliki dapur magma masing-masing yang tidak berkaitan. Jika ada gunung api yang aktivitasnya meningkat, maka tidak akan mempengaruhi gunung api lainnya.
Sementara proses erupsi dipengaruhi oleh diferensiasi (perubahan) magma, melalui jalur retakan yang ada di perut bumi. Jalur retakan ini, biasanya menjulang ke atas hingga menembus puncak gunung api.
"Jalur retakan ini ada yang lurus vertikal, tapi ada juga yang menyamping, sehingga muncul frea magmatik yang bersifat eksposif, seperti yang terjadi di pengunungan Lamongan, Jawa Timur," jelasnya.
Biasanya, hal itu terjadi bila magma bertemu dengan tubuh air di lereng gunung yang memiliki kandungan air tinggi. Karena magma yang panas bertemu dengan air yang dingin, maka terjadi pelepasan gas dari magma yang mengakibatkan letusan.
"Meskipun aktivitas tektonik bisa mempengaruhi aktivitas vulkanis gunung, namun aktivitas vulkanis gunung tidak bisa mempengaruhi. Masing-masing gunung api memiliki dapur makma sendiri," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho merilis beberapa gunung api meningkat statusnya.
Saat ini, ada satu gunung status awas (level IV) yaitu Gunung Sinabung. Selain itu, ada tiga status Siaga (level III), yakni Karangetang, Rokatenda, Lokon.
Sedangkan 19 status api masih berstatus waspada, yaitu Slamet, Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci.
Baca juga:
Waspada, getaran Gunung Slamet makin besar
"Meningkatnya aktivitas gunung api disebabkan oleh tekanan dari dapur magma. Jadi tidak benar satu gunung aktif menimbulkan gunung lain turut meningkat," kata Agung Harijoko, saat ditemui wartawan, Rabu (12/3/2014).
Setiap gunung api, memiliki dapur magma masing-masing yang tidak berkaitan. Jika ada gunung api yang aktivitasnya meningkat, maka tidak akan mempengaruhi gunung api lainnya.
Sementara proses erupsi dipengaruhi oleh diferensiasi (perubahan) magma, melalui jalur retakan yang ada di perut bumi. Jalur retakan ini, biasanya menjulang ke atas hingga menembus puncak gunung api.
"Jalur retakan ini ada yang lurus vertikal, tapi ada juga yang menyamping, sehingga muncul frea magmatik yang bersifat eksposif, seperti yang terjadi di pengunungan Lamongan, Jawa Timur," jelasnya.
Biasanya, hal itu terjadi bila magma bertemu dengan tubuh air di lereng gunung yang memiliki kandungan air tinggi. Karena magma yang panas bertemu dengan air yang dingin, maka terjadi pelepasan gas dari magma yang mengakibatkan letusan.
"Meskipun aktivitas tektonik bisa mempengaruhi aktivitas vulkanis gunung, namun aktivitas vulkanis gunung tidak bisa mempengaruhi. Masing-masing gunung api memiliki dapur makma sendiri," jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho merilis beberapa gunung api meningkat statusnya.
Saat ini, ada satu gunung status awas (level IV) yaitu Gunung Sinabung. Selain itu, ada tiga status Siaga (level III), yakni Karangetang, Rokatenda, Lokon.
Sedangkan 19 status api masih berstatus waspada, yaitu Slamet, Kelud, Raung, Ibu, Lewotobi Perempuan, Ijen, Gamkonora, Soputan, Sangeangapi, Papandayan, Dieng, Gamalama, Bromo, Semeru, Talang, Anak Krakatau, Marapi, Dukono, dan Kerinci.
Baca juga:
Waspada, getaran Gunung Slamet makin besar
(san)