Siswa tantang maut lintasi Jembatan Citamiang
Kamis, 06 Maret 2014 - 15:39 WIB
Siswa tantang maut lintasi Jembatan Citamiang
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Garut harus menantang maut untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolahnya. Mereka terpaksa bergelantungan di atas jembatan yang miring saat berangkat dan pulang sekolah.
Aktivitas berbahaya itu mulai dilakukan sejak Jembatan Rawayan Citamiang yang membentang di atas Sungai Cisanggiri, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, rusak dan nyaris ambruk sejak lama.
Selain siswa SDN Cikondang I, sebagian siswa SMPN 4 Cisompet pun menggunakan jembatan ini untuk menuju ke sekolahnya.
Jembatan rawayan ini terbentang sepanjang 80 meter di atas Sungai Cisanggiri. Ancaman maut menjadi sangat nyata, karena jembatan ini memiliki ketinggian sekira enam meter dari sungai.
Di bawahnya, mengalir Sungai Cisanggiri yang memiliki arus deras di musim hujan, dan terdapat bebatuan berukuran besar jika musim kemarau. Jika seseorang terjatuh di musim hujan, maka dia akan hanyut terseret derasnya arus sungai.
Warga memperkirakan kedalaman air sungai sekira empat atau enam meter. Sementara jika seseorang terjatuh di musim kemarau, maka tubuhnya akan menghantam bebatuan cadas berukuran besar.
Meski dihadapkan dengan risiko demikian, para siswa usia belia itu tetap nekat melintasi. Alhasil, tubuh mungil para siswa harus lebih berhati-hati dalam meniti pijakan bambu yang telah rapuh dan licin.
Layaknya sebuah permainan outbond, tangan-tangan kecil mereka memegang erat kawat baja yang masih melintang. Sementara para orang dewasa, terlihat membantu menyeberangkan para siswa yang usianya lebih muda, yaitu siswa Kelas I SD.
Abdul Rohmat (9), siswa kelas IV SDN Cikondang I menuturkan, aktivitas meniti jembatan dengan cara bergelantungan bukanlah hal yang baru baginya. Dia sudah biasa melintasi jembatan yang memiliki kondisi memprihatinkan tersebut.
“Jembatan ini menjadi satu-satunya jalan kami menuju sekolah. Kalau tidak mau lewat jembatan ini, berarti saya tidak sekolah,” kata Rohmat, saat ditemui, Kamis (6/3/2014).
Hal yang sama diutarakan siswa kelas IV lainnya, Aldi (9). Menurut Aldi, jantungnya selalu berdebar saat harus melintasi jembatan yang dibangun sejak 60 tahun silam ini.
“Perjalanan dari rumah ke sekolah sangat jauh. Harus menanjak dan menuruni turunan terjal berlumpur. Namun yang paling membuat saya sedikit takut adalah saat harus melewatinya (jembatan),” terangnya.
Dari informasi yang dihimpun, jarak antara rumah siswa dengan sekolah di pusat Desa Cikondang sejauh empat kilometer. Dengan demikian, para siswa harus menempuh jarak delapan kilometer untuk pulang-pergi.
Jembatan Rawayan Citamiang ini setidaknya menghubungkan beberapa dusun di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Beberapa dusun tersebut terpisahkan oleh aliran Sungai Cisanggiri.
Aktivitas berbahaya itu mulai dilakukan sejak Jembatan Rawayan Citamiang yang membentang di atas Sungai Cisanggiri, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, rusak dan nyaris ambruk sejak lama.
Selain siswa SDN Cikondang I, sebagian siswa SMPN 4 Cisompet pun menggunakan jembatan ini untuk menuju ke sekolahnya.
Jembatan rawayan ini terbentang sepanjang 80 meter di atas Sungai Cisanggiri. Ancaman maut menjadi sangat nyata, karena jembatan ini memiliki ketinggian sekira enam meter dari sungai.
Di bawahnya, mengalir Sungai Cisanggiri yang memiliki arus deras di musim hujan, dan terdapat bebatuan berukuran besar jika musim kemarau. Jika seseorang terjatuh di musim hujan, maka dia akan hanyut terseret derasnya arus sungai.
Warga memperkirakan kedalaman air sungai sekira empat atau enam meter. Sementara jika seseorang terjatuh di musim kemarau, maka tubuhnya akan menghantam bebatuan cadas berukuran besar.
Meski dihadapkan dengan risiko demikian, para siswa usia belia itu tetap nekat melintasi. Alhasil, tubuh mungil para siswa harus lebih berhati-hati dalam meniti pijakan bambu yang telah rapuh dan licin.
Layaknya sebuah permainan outbond, tangan-tangan kecil mereka memegang erat kawat baja yang masih melintang. Sementara para orang dewasa, terlihat membantu menyeberangkan para siswa yang usianya lebih muda, yaitu siswa Kelas I SD.
Abdul Rohmat (9), siswa kelas IV SDN Cikondang I menuturkan, aktivitas meniti jembatan dengan cara bergelantungan bukanlah hal yang baru baginya. Dia sudah biasa melintasi jembatan yang memiliki kondisi memprihatinkan tersebut.
“Jembatan ini menjadi satu-satunya jalan kami menuju sekolah. Kalau tidak mau lewat jembatan ini, berarti saya tidak sekolah,” kata Rohmat, saat ditemui, Kamis (6/3/2014).
Hal yang sama diutarakan siswa kelas IV lainnya, Aldi (9). Menurut Aldi, jantungnya selalu berdebar saat harus melintasi jembatan yang dibangun sejak 60 tahun silam ini.
“Perjalanan dari rumah ke sekolah sangat jauh. Harus menanjak dan menuruni turunan terjal berlumpur. Namun yang paling membuat saya sedikit takut adalah saat harus melewatinya (jembatan),” terangnya.
Dari informasi yang dihimpun, jarak antara rumah siswa dengan sekolah di pusat Desa Cikondang sejauh empat kilometer. Dengan demikian, para siswa harus menempuh jarak delapan kilometer untuk pulang-pergi.
Jembatan Rawayan Citamiang ini setidaknya menghubungkan beberapa dusun di Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Beberapa dusun tersebut terpisahkan oleh aliran Sungai Cisanggiri.
(san)