Enam tahun warga berjuang melintasi jembatan 'maut'
Rabu, 30 Januari 2013 - 21:22 WIB
Enam tahun warga berjuang melintasi jembatan 'maut'
A
A
A
Sindonews.com - Jembatan gantung yang menghubungkan dua desa yakni Desa Sitiris–tiris, Kecamatan Amdan Dewi dan Desa Kinali, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) kondisinya sangat memprihatinkan. Ironisnya kerusakan saat ini sudah memasuki tahun keenam.
Jembatan gantung tersebut merupakan akses utama bagi penduduk kedua desa terutama bagi anak–anak sekolah yang setiap hari melintasi jembatan. Sudah ada beberapa warga yang jatuh ke hilir sungai Aek Sirahar dibawah jembatan yang ketinggiannya sekira 10 meter tersebut.
“Tidak jarang orang jatuh kesungai hilir sungai aek Sirahar ini, namun karena tidak ada batu dan tunggul kayu dibawah jembatan, sehingga tidak sampai mengakibatkan korban jiwa,” kata Syarifuddin Simatupang (58) warga Kelurahan Baja Mas, Kecamatan Sirandorung yang kerap melintasi jembatan itu, Rabu (30/1/2013).
Dia mengungkapkan, kerusakan jembatan tersebut sudah terjadi lama dan sekarang sudah menjalani tahun keenam. Pemerintah diharapkan turun tangan melakukan perbaikan atas jembatan tersebut sehingga anak–anak sekolah terselamatkan dan perekonomian warga kedua desa bergeliat.
Nurhayati Simbolon (17) anak Desa Sitiris–tiris yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) membenarkan kondisi jembatan itu sembari menceritakan kisah salah seorang temannya yang terjatuh dari jembatan ketika hendak berangkat sekolah.
“Saat itu, teman saya tersebut tidak sengaja memijak lantai jembatan rambing yang sudah lapuk. Seketika itu, teman saya tersebut terjatuh tapi beruntung dia tidak terluka parah atau meninggal dunia,” bebernya.
Kepala Desa (Kades) Kinali, Rahmi boru Simamora yang dikonfirmasi SINDO tidak membantah atas kejadian–kejadian itu.
Dia mengungkapkan, jembatan itu, selain akses utama bagi anak sekoalah, juga akses utama bagi masyarakat petani dan nelayan di dua desa yakni Desa Kinali dan Desa Sitiris–tiris .
Jembatan tersebut sangat vital sebagai urat nadi perekonomian dalam mengangkut hasil pertanian warga seperti Padi, Kelapa dan Ikan.
“Kalau ditanya mengenai kerusakan, kemungkinannya sudah ada sekitar empat tahun lalu dan belum pernah mendapatkan perbaikan. Sementara warga hanya mampu melakukan penyisipan pada badan jembatan yang rusak parah sekitar tiga tahun belakangan ini,” ungkap Kades Rahmi.
Rahmi mengatakan, penduduk kedua desa sangat mengharapkan perhatian pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng supaya turun melakukan perbaikan, sebelum jembatan memakan korban jiwa.
Jembatan gantung tersebut merupakan akses utama bagi penduduk kedua desa terutama bagi anak–anak sekolah yang setiap hari melintasi jembatan. Sudah ada beberapa warga yang jatuh ke hilir sungai Aek Sirahar dibawah jembatan yang ketinggiannya sekira 10 meter tersebut.
“Tidak jarang orang jatuh kesungai hilir sungai aek Sirahar ini, namun karena tidak ada batu dan tunggul kayu dibawah jembatan, sehingga tidak sampai mengakibatkan korban jiwa,” kata Syarifuddin Simatupang (58) warga Kelurahan Baja Mas, Kecamatan Sirandorung yang kerap melintasi jembatan itu, Rabu (30/1/2013).
Dia mengungkapkan, kerusakan jembatan tersebut sudah terjadi lama dan sekarang sudah menjalani tahun keenam. Pemerintah diharapkan turun tangan melakukan perbaikan atas jembatan tersebut sehingga anak–anak sekolah terselamatkan dan perekonomian warga kedua desa bergeliat.
Nurhayati Simbolon (17) anak Desa Sitiris–tiris yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) membenarkan kondisi jembatan itu sembari menceritakan kisah salah seorang temannya yang terjatuh dari jembatan ketika hendak berangkat sekolah.
“Saat itu, teman saya tersebut tidak sengaja memijak lantai jembatan rambing yang sudah lapuk. Seketika itu, teman saya tersebut terjatuh tapi beruntung dia tidak terluka parah atau meninggal dunia,” bebernya.
Kepala Desa (Kades) Kinali, Rahmi boru Simamora yang dikonfirmasi SINDO tidak membantah atas kejadian–kejadian itu.
Dia mengungkapkan, jembatan itu, selain akses utama bagi anak sekoalah, juga akses utama bagi masyarakat petani dan nelayan di dua desa yakni Desa Kinali dan Desa Sitiris–tiris .
Jembatan tersebut sangat vital sebagai urat nadi perekonomian dalam mengangkut hasil pertanian warga seperti Padi, Kelapa dan Ikan.
“Kalau ditanya mengenai kerusakan, kemungkinannya sudah ada sekitar empat tahun lalu dan belum pernah mendapatkan perbaikan. Sementara warga hanya mampu melakukan penyisipan pada badan jembatan yang rusak parah sekitar tiga tahun belakangan ini,” ungkap Kades Rahmi.
Rahmi mengatakan, penduduk kedua desa sangat mengharapkan perhatian pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng supaya turun melakukan perbaikan, sebelum jembatan memakan korban jiwa.
(ysw)