Sengketa lahan, warga-TNI nyaris bentrok
Jum'at, 23 November 2012 - 19:05 WIB
Sengketa lahan, warga-TNI nyaris bentrok
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan Anggota Zeni Kontruksi (Zikon) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dari kota Prabumulih nyaris bentrok dengan ratusan warga Desa Rengas, Kecamatan Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir (OI). Ketegangan terjadi ketika anggota TNI akan melakukan penggusuran lahan sengketa di Rayon 6 PTPN VII Cinta Manis.
Informasi dihimpun di lapangan, puluhan anggota Zikon TNI AD itu berencana akan melakukan penggusuran lahan di lokasi tersebut. Rencananya, di lokasi penggusuran itu bakal dibangun Pos Pemantau Meteorologi.
Begitu puluhan anggota Zikon TNI AD beserta alat berat berupa eskavator tiba di lokasi, sebagian warga Desa Rengas yang melihat langsung memberitahukan ke masyarakat lainnya. Spontan warga pun membunyikan beduk sambil memberitahu warga lainnya lewat pengeras suara di masjid tentang kedatangan anggota Zikon TNI AD di lokasi lahan sengketa.
Beberapa menit kemudian, ratusan warga, termasuk orangtua dan anak-anak berkumpul dan menyerbu masuk ke lokasi lahan yang disengketakan tersebut.
Terjadi negoisasi yang sangat alot antara perwakilan warga dengan anggota TNI AD tersebut. Penjagaan juga dilakukan sejumlah anggota Polsek Tanjung Batu.
Kapolsek Tanjung Batu AKP Edhie Suratno yang melakukan pemantauan di lapangan mengakui adanya rencana pengusuran lahan yang dilakukan anggota Zikon TNI AD di Rayon 6 PTPN VII Cinta Manis tersebut.
“Sebetulnya kami hanya melakukan pemantauan saja untuk mengantisipasi terjadi kerusuhan,” ungkap Edhie di lokasi lahan, Jumat (23/11/2012).
Menurut Edhie Suratno, di lahan sengketa itu telah dikuasai warga Desa Rengas pasca kerusuhan sekitar setahun lalu. Oleh warga, lahan sekitar 700 hektare itu ditanami pohon pisang.
Namun ada juga bangunan Pos Pemantau Meteorologi yang rusak akibat kerusuhan tahun lalu. Rencananya pos pemantau akan diperbaiki dengan menggusur lebih dahulu lahan itu.
Pasca kerusuhan tahun lalu, sebenarnya bukan saja bangunan pos pemantau yang rusak, melainkan pula sejumlah perumahan karyawan dan gudang. Atas perintah pimpinan, anggota Zikon TNI AD kabarnya mendapat pekerjaan untuk memperbaiki bangunan yang rusak, termasuk pos pemantau tersebut.
Namun rencana itu ditolak warga sehingga terjadilah negoisasi antara warga dengan Zikon TNI AD.
“Tidak ada bentrok, karena usai negoisasi itu angota TNI AD langsung pulang ke Prabumulih,” katanya.
Sementara itu, Camat Payaraman Ahmad Saheb mengatakan dirinya mendapatkan laporan dari Kades Rengas, Mulyadi tentang keberadaan anggota TNI AD yang berencana akan membangun Pos Pemantau di lahan sengketa tersebut.
“Memang Kades Mulyadi memberitahu bila warganya akan pergi ke lahan untuk menemui para anggota TNI AD dan saya sarankan untuk tidak membawa senjata apa pun,” ujar Saheb.
Menurut Saheb, sebelumnya Dandim OKI/OI pernah menemuinya tentang rencana anggota Zikon TNI AD tersebut untuk membangun Pos Pemantau di lahan sengketa. Rencana membangun pos pemantauan itu atas perintah panglima. Rupanya begitu tiba di lokasi, warga Desa Rengas tidak setuju sehingga terjadilah negoisasi.
Informasi dihimpun di lapangan, puluhan anggota Zikon TNI AD itu berencana akan melakukan penggusuran lahan di lokasi tersebut. Rencananya, di lokasi penggusuran itu bakal dibangun Pos Pemantau Meteorologi.
Begitu puluhan anggota Zikon TNI AD beserta alat berat berupa eskavator tiba di lokasi, sebagian warga Desa Rengas yang melihat langsung memberitahukan ke masyarakat lainnya. Spontan warga pun membunyikan beduk sambil memberitahu warga lainnya lewat pengeras suara di masjid tentang kedatangan anggota Zikon TNI AD di lokasi lahan sengketa.
Beberapa menit kemudian, ratusan warga, termasuk orangtua dan anak-anak berkumpul dan menyerbu masuk ke lokasi lahan yang disengketakan tersebut.
Terjadi negoisasi yang sangat alot antara perwakilan warga dengan anggota TNI AD tersebut. Penjagaan juga dilakukan sejumlah anggota Polsek Tanjung Batu.
Kapolsek Tanjung Batu AKP Edhie Suratno yang melakukan pemantauan di lapangan mengakui adanya rencana pengusuran lahan yang dilakukan anggota Zikon TNI AD di Rayon 6 PTPN VII Cinta Manis tersebut.
“Sebetulnya kami hanya melakukan pemantauan saja untuk mengantisipasi terjadi kerusuhan,” ungkap Edhie di lokasi lahan, Jumat (23/11/2012).
Menurut Edhie Suratno, di lahan sengketa itu telah dikuasai warga Desa Rengas pasca kerusuhan sekitar setahun lalu. Oleh warga, lahan sekitar 700 hektare itu ditanami pohon pisang.
Namun ada juga bangunan Pos Pemantau Meteorologi yang rusak akibat kerusuhan tahun lalu. Rencananya pos pemantau akan diperbaiki dengan menggusur lebih dahulu lahan itu.
Pasca kerusuhan tahun lalu, sebenarnya bukan saja bangunan pos pemantau yang rusak, melainkan pula sejumlah perumahan karyawan dan gudang. Atas perintah pimpinan, anggota Zikon TNI AD kabarnya mendapat pekerjaan untuk memperbaiki bangunan yang rusak, termasuk pos pemantau tersebut.
Namun rencana itu ditolak warga sehingga terjadilah negoisasi antara warga dengan Zikon TNI AD.
“Tidak ada bentrok, karena usai negoisasi itu angota TNI AD langsung pulang ke Prabumulih,” katanya.
Sementara itu, Camat Payaraman Ahmad Saheb mengatakan dirinya mendapatkan laporan dari Kades Rengas, Mulyadi tentang keberadaan anggota TNI AD yang berencana akan membangun Pos Pemantau di lahan sengketa tersebut.
“Memang Kades Mulyadi memberitahu bila warganya akan pergi ke lahan untuk menemui para anggota TNI AD dan saya sarankan untuk tidak membawa senjata apa pun,” ujar Saheb.
Menurut Saheb, sebelumnya Dandim OKI/OI pernah menemuinya tentang rencana anggota Zikon TNI AD tersebut untuk membangun Pos Pemantau di lahan sengketa. Rencana membangun pos pemantauan itu atas perintah panglima. Rupanya begitu tiba di lokasi, warga Desa Rengas tidak setuju sehingga terjadilah negoisasi.
(azh)