Jembatan bambu nyaris ambrol tetap dilewati
Senin, 19 November 2012 - 01:00 WIB
Jembatan bambu nyaris ambrol tetap dilewati
A
A
A
Sindonews.com - Kondisi jembatan darurat yang menghubungkan Dusun Bangunsari di Desa Klakah dengan Dusun/Desa Jrakah sangat memprihatinkan. Meski nyaris ambrol, jembatan bambu yang menghubungkan kedua desa di Kecamatan Selo, Boyolali itu tetap dilewati.
Menurut seorang warga Dusun Jarakah Marwoto (30), bambu penyangga jembatan kini sudah banyak yang lapuk. Agar tidak ambrol, warga setempat rutin melakukan tambal sulam dengan bambu. Jembatan yang melintang di atas Kali Juweh tersebut merupakan jalur terdekat dari Dusun Bangunsari ke pasar Jrakah. Jarak tempuh yang diperlukan hanya sekitar satu kilometer.
“Tapi yang bisa lewat maksimal hanya kendaraan roda dua. Jika membawa beban terlalu berat, penumpang harus turun dan menenteng barang yang dibawa,” ujar Marwoto, Minggu 18 November 2012.
Menurut Maewoto, mereka harus tetap hati-hati dan waspada. Sebab kondisi jembatan yang ada di lereng Gunung Merapi itu nyaris runtuh.
"Apalagi kalau hujan, jembatan yang memiliki panjang sekira 15 meter dan lebar satu meter ini kondisinya sangat licin. Beberapa warga pernah terpeleset dan hampir terjatuh ke jurang yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter," ungkapnya.
Sedangkan kendaraan roda empat atau yang tidak berani melewati, maka harus memutar melalui jembatan gantung di Dusun Sepi yang jaraknya mencapai lima kilometer.
Kepala Desa (Kades) Jrakah Tumar mengatakan, sebelum erupsi Merapi tahun 2010 lalu, di lokasi tersebut terdapat jembatan permanen. Namun keberadaannya hancur akibat diterjang banjir lahar dingin.
Bahkan kala itu, ratusan warga di Dusun Bangunsari sempat terisolasi. Warga kemudian bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu.
“Selama banjir lahar dingin, beberapa kali jembatan hanyut,” beber Tumar.
Setelah banjir lahar dingin mereda, warga kembali membangun jembatan darurat dan bisa bertahan hingga sekarang. Pemerintah sebenarnya pernah berencana membangun jembatan gantung yang menghubungkan kedua dusun. Namun karena proses ganti rugi tanah gagal tercapai, akhirnya urung dibangun jembatan gantung.
Menurut seorang warga Dusun Jarakah Marwoto (30), bambu penyangga jembatan kini sudah banyak yang lapuk. Agar tidak ambrol, warga setempat rutin melakukan tambal sulam dengan bambu. Jembatan yang melintang di atas Kali Juweh tersebut merupakan jalur terdekat dari Dusun Bangunsari ke pasar Jrakah. Jarak tempuh yang diperlukan hanya sekitar satu kilometer.
“Tapi yang bisa lewat maksimal hanya kendaraan roda dua. Jika membawa beban terlalu berat, penumpang harus turun dan menenteng barang yang dibawa,” ujar Marwoto, Minggu 18 November 2012.
Menurut Maewoto, mereka harus tetap hati-hati dan waspada. Sebab kondisi jembatan yang ada di lereng Gunung Merapi itu nyaris runtuh.
"Apalagi kalau hujan, jembatan yang memiliki panjang sekira 15 meter dan lebar satu meter ini kondisinya sangat licin. Beberapa warga pernah terpeleset dan hampir terjatuh ke jurang yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter," ungkapnya.
Sedangkan kendaraan roda empat atau yang tidak berani melewati, maka harus memutar melalui jembatan gantung di Dusun Sepi yang jaraknya mencapai lima kilometer.
Kepala Desa (Kades) Jrakah Tumar mengatakan, sebelum erupsi Merapi tahun 2010 lalu, di lokasi tersebut terdapat jembatan permanen. Namun keberadaannya hancur akibat diterjang banjir lahar dingin.
Bahkan kala itu, ratusan warga di Dusun Bangunsari sempat terisolasi. Warga kemudian bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu.
“Selama banjir lahar dingin, beberapa kali jembatan hanyut,” beber Tumar.
Setelah banjir lahar dingin mereda, warga kembali membangun jembatan darurat dan bisa bertahan hingga sekarang. Pemerintah sebenarnya pernah berencana membangun jembatan gantung yang menghubungkan kedua dusun. Namun karena proses ganti rugi tanah gagal tercapai, akhirnya urung dibangun jembatan gantung.
(rsa)