Komisi X akan tanya pengusiran ASS ke Mendikbud
Rabu, 10 Oktober 2012 - 19:25 WIB
Komisi X akan tanya pengusiran ASS ke Mendikbud
A
A
A
Sindonews.com - Komisi X DPR akan mencoba memanggil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh untuk meminta penjelasan terkait kasus pengusiran ASS yang menjadi korban pemerkosaan di Depok oleh pihak sekolah.
Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Demokrat Rinto Subekti mengatakan, dirinya akan menanyakan langsung insiden pengusiran tersebut kepada Mendikbud. Sehingga, bisa mendapatkan penjelasan yang utuh terkait kasus itu.
"Saya nanti akan tanyakan hal ini kepada Pak Menteri. Biar nantinya Pak Menteri yang melanjutkan untuk mengkonfirmasi dengan Pemda Depok terkait peristiwa ini," katanya kepada Sindonews, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/10/2012).
Dia juga mengungkapkan, sangat menyayangkan insiden pengusiran yang dilakukan saat dilaksanakannya upacara bendera itu. Apalagi, kasus pemerkosaan itu terjadi bukan karena keinginan korban.
"Tidak seharusnya ini terjadi, memangnya siapa yang mau diperkosa? Kasihan dia, dengan pengusiran itu jelas malu, dan psikisnya pasti terganggu. Saya harap ini peristiwa terakhir, karena anak Indonesia memiliki hak yang sama dalam pendidikan," tandasnya.
Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Partai Demokrat Rinto Subekti mengatakan, dirinya akan menanyakan langsung insiden pengusiran tersebut kepada Mendikbud. Sehingga, bisa mendapatkan penjelasan yang utuh terkait kasus itu.
"Saya nanti akan tanyakan hal ini kepada Pak Menteri. Biar nantinya Pak Menteri yang melanjutkan untuk mengkonfirmasi dengan Pemda Depok terkait peristiwa ini," katanya kepada Sindonews, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/10/2012).
Dia juga mengungkapkan, sangat menyayangkan insiden pengusiran yang dilakukan saat dilaksanakannya upacara bendera itu. Apalagi, kasus pemerkosaan itu terjadi bukan karena keinginan korban.
"Tidak seharusnya ini terjadi, memangnya siapa yang mau diperkosa? Kasihan dia, dengan pengusiran itu jelas malu, dan psikisnya pasti terganggu. Saya harap ini peristiwa terakhir, karena anak Indonesia memiliki hak yang sama dalam pendidikan," tandasnya.
(lil)