Warga protes Kapal Pinisi dikerjakan di luar Bulukumba
Rabu, 05 September 2012 - 15:04 WIB
Warga protes Kapal Pinisi dikerjakan di luar Bulukumba
A
A
A
Sindonews.com - Warga Bulukumba memprotes Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Bulukumba terhadap pembuatan Kapal Pinisi yang dikerjakan PT Pinisi Semesta di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Pasalnya, pengerjaan Pinisi penangkap ikan senilai Rp2,7 miliar lebih melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012 tersebut dianggap menyalahi prosuder. Perahu Pinisi seharusnya dikerjakan di Bulukumba, bukan sebaliknya dialihkan keluar Sulawesi.
Warga Bulukumba Baharuddin mengungkapkan, pembuatan Kapal yang dialihkan keluar daerah itu, seharusnya tidak terjadi. Bulukumba lebih dikenal dan ahli dalam membuat kapal karena awal sejarah bermula dari bumi Panrita Lopi.
“Kami tidak sejalan dengan DPK membolehkan pembuatan Kapal Pinisi itu dikerja di Kendari. Sebab, Pinisi ini adalah simbol Bulukumba, bukan daerah lain. Nah, kalau dikerjakan di luar bisa saja akan diklaim oleh Kendari,” ungkap Baharuddin menjelaskan kepada wartawan, Rabu (5/9/2012).
Dikatakan, seharusnya Bulukumba bangga dengan ikon Pinisi karena tak ada yang mampu membuat selain warga di daerah ini. Bahkan, pekerja siap hanya tidak dimanfaatkan.
“Kami khawatir ikon ini akan hilang jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi, setiap ada pembuatan Pinisi dialihkan keluar daerah. Ini perlu disikapi secara serius baik tokoh masyarakat maupun lembaga lain,” terangnya.
Alasan bahan baku dan lebih murah, lanjut Baharuddin, sangat tidak rasional karena pengusaha kapal lain juga mampu membuat yang lebih anggarannya dari Rp2,7 miliar.
“Saya dengar dialihkan karena persoalan bahan baku. Tapi, kami tidak menerima itu, saya khawatir dipindahkan keluar daerah, sebab rekanan ingin untung besar,” tutur dia.
Dia berharap agar DPK Bulukumba segera menghentikan proses pembuatan Kapal di Kendari dan mengembalikan ke sini. Alasannya, cukup sederhana yakni daerah ini dikenal dengan Pinisi yang menjadi simbol kebesaran.
“Apalagi, awal mula dari Bulukumba. Nah, jika dikerja di sana, ada apa?” tandasnya.
Terpisah, Sekretaris DPK Bulukumba Nasruddin mengaku, pihaknya sudah menyampaikan ke rekanan supaya dikerjakan di Bulukumba. Hanya, hasil akhir disepakati dibuat di Kendari.
“Kami mau Kapal Pinisi itu dikerja di sini. Tapi, rekanan mau di sana,” ujar Nasruddin, di ruang kerjanya.
Bahkan, dia menyebutkan, pihaknya sudah menyiapkan pengawas khusus memantau pekerjaan biar tetap mengacu pada rancangan anggaran belanja (RAB) yang ada. Sedangkan, kayu yang digunakan adalah jenis besi.
“Ketinggian pengerjaan sudah mencapai 10 susun papan. Rencananya, akan selesai pada bulan Desember mendatang,” katanya.
Anggota Komisi A DPRD Bulukumba Rudy Wachyudi mengemukakan, pembuatan Kapal Phinisi yang dikerjakan di luar daerah, seharusnya tidak terjadi. Dimana, daerah ini merupakan penghasil Pinisi terbesar.
“Kenapa tiba-tiba dibawa keluar. Ini harus dijaga karena simbol daerah,” ujar Wachyudi.
Pasalnya, pengerjaan Pinisi penangkap ikan senilai Rp2,7 miliar lebih melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012 tersebut dianggap menyalahi prosuder. Perahu Pinisi seharusnya dikerjakan di Bulukumba, bukan sebaliknya dialihkan keluar Sulawesi.
Warga Bulukumba Baharuddin mengungkapkan, pembuatan Kapal yang dialihkan keluar daerah itu, seharusnya tidak terjadi. Bulukumba lebih dikenal dan ahli dalam membuat kapal karena awal sejarah bermula dari bumi Panrita Lopi.
“Kami tidak sejalan dengan DPK membolehkan pembuatan Kapal Pinisi itu dikerja di Kendari. Sebab, Pinisi ini adalah simbol Bulukumba, bukan daerah lain. Nah, kalau dikerjakan di luar bisa saja akan diklaim oleh Kendari,” ungkap Baharuddin menjelaskan kepada wartawan, Rabu (5/9/2012).
Dikatakan, seharusnya Bulukumba bangga dengan ikon Pinisi karena tak ada yang mampu membuat selain warga di daerah ini. Bahkan, pekerja siap hanya tidak dimanfaatkan.
“Kami khawatir ikon ini akan hilang jika tidak dijaga dengan baik. Apalagi, setiap ada pembuatan Pinisi dialihkan keluar daerah. Ini perlu disikapi secara serius baik tokoh masyarakat maupun lembaga lain,” terangnya.
Alasan bahan baku dan lebih murah, lanjut Baharuddin, sangat tidak rasional karena pengusaha kapal lain juga mampu membuat yang lebih anggarannya dari Rp2,7 miliar.
“Saya dengar dialihkan karena persoalan bahan baku. Tapi, kami tidak menerima itu, saya khawatir dipindahkan keluar daerah, sebab rekanan ingin untung besar,” tutur dia.
Dia berharap agar DPK Bulukumba segera menghentikan proses pembuatan Kapal di Kendari dan mengembalikan ke sini. Alasannya, cukup sederhana yakni daerah ini dikenal dengan Pinisi yang menjadi simbol kebesaran.
“Apalagi, awal mula dari Bulukumba. Nah, jika dikerja di sana, ada apa?” tandasnya.
Terpisah, Sekretaris DPK Bulukumba Nasruddin mengaku, pihaknya sudah menyampaikan ke rekanan supaya dikerjakan di Bulukumba. Hanya, hasil akhir disepakati dibuat di Kendari.
“Kami mau Kapal Pinisi itu dikerja di sini. Tapi, rekanan mau di sana,” ujar Nasruddin, di ruang kerjanya.
Bahkan, dia menyebutkan, pihaknya sudah menyiapkan pengawas khusus memantau pekerjaan biar tetap mengacu pada rancangan anggaran belanja (RAB) yang ada. Sedangkan, kayu yang digunakan adalah jenis besi.
“Ketinggian pengerjaan sudah mencapai 10 susun papan. Rencananya, akan selesai pada bulan Desember mendatang,” katanya.
Anggota Komisi A DPRD Bulukumba Rudy Wachyudi mengemukakan, pembuatan Kapal Phinisi yang dikerjakan di luar daerah, seharusnya tidak terjadi. Dimana, daerah ini merupakan penghasil Pinisi terbesar.
“Kenapa tiba-tiba dibawa keluar. Ini harus dijaga karena simbol daerah,” ujar Wachyudi.
(azh)