Pintu masuk wisata Tangkubanparahu ditutup warga
Rabu, 15 Agustus 2012 - 12:37 WIB
Pintu masuk wisata Tangkubanparahu ditutup warga
A
A
A
Sindonews.com - Massa berjumlah ribuan kembali memblokir pintu masuk menuju kawasan objek wisata Tangkubanparahu, di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Aksi ini dilakukan mulai Rabu pagi dengan memasang portal di pintu masuk utama hingga pintu tiket.
Selain melakukan blokir, massa juga memasang spanduk-spanduk hujatan kepada pihak pengelola PT Graha Rani Putra Persada (GRPP). Massa yang mulai tidak terkendali lalu membakar beberapa barang yang ada di sekitar pintu tiket.
Bahkan umbul-umbul yang dipasang oleh pihak pengelola yang dipasang di sepanjang pintu masuk, dicabut dan dirusak. Petugas kepolisian yang ada pun tidak berdaya karena kalah jumlah dibandingkan dengan massa yang sudah terlihat beringas.
Bahkan salah seorang perwakilan dari PT GRPP nyaris dihakimi oleh massa karena dianggap telah bertindak semenang-menang kepada warga Cikole dan juga pedagang. Beruntung aparat kepolisian sigap mengamankannya sebelum dihakimi.
Kepala Desa Cikole Jajang Ruhiyat yang coba menyampaikan aspirasi dari massa yang terdiri dari kaum pedagang dan masyarakat kepada pihak pengelola pun tidak didengar. Mediasi yang coba dilakukannya kepada pengelola tidak menemui titik temu.
Akibatnya hal ini memicu kekecewaan warga yang sudah terjadi berulang kali. Masyarakat saat ini menunggu bagaimana realisasi dari pihak pengelola untuk bisa mengakomodir warga secara baik. Namun ternyata selama empat tahun lebih hal itu tidak terwujud.
"Ini bentuk akumulasi kekecewaan warga, saya hanya menyampaikan aspirasi tapi dari pihak pengelola selaku pengambil keputusan tidak kooperatif," kata Jajang.
Tuntutan warga dan kaum pedagang kepada pihak pengelola karena PT GRPP dituding sudah melakukan tindakan intimidasi.
Pengelola juga sering bertindak arogan, tidak menghargai warga dan pedagang, tidak memiliki izin pengelolaan, tidak memiliki izin mendirikan kantor, dan masih banyak lagi kesalahan yang dilakukan.
Warga mengaku terus akan melakukan upaya unjuk rasa selama tidak pernah penyelesaian soal pengelolaan kawasan Tangkubanparahu.
Selain melakukan blokir, massa juga memasang spanduk-spanduk hujatan kepada pihak pengelola PT Graha Rani Putra Persada (GRPP). Massa yang mulai tidak terkendali lalu membakar beberapa barang yang ada di sekitar pintu tiket.
Bahkan umbul-umbul yang dipasang oleh pihak pengelola yang dipasang di sepanjang pintu masuk, dicabut dan dirusak. Petugas kepolisian yang ada pun tidak berdaya karena kalah jumlah dibandingkan dengan massa yang sudah terlihat beringas.
Bahkan salah seorang perwakilan dari PT GRPP nyaris dihakimi oleh massa karena dianggap telah bertindak semenang-menang kepada warga Cikole dan juga pedagang. Beruntung aparat kepolisian sigap mengamankannya sebelum dihakimi.
Kepala Desa Cikole Jajang Ruhiyat yang coba menyampaikan aspirasi dari massa yang terdiri dari kaum pedagang dan masyarakat kepada pihak pengelola pun tidak didengar. Mediasi yang coba dilakukannya kepada pengelola tidak menemui titik temu.
Akibatnya hal ini memicu kekecewaan warga yang sudah terjadi berulang kali. Masyarakat saat ini menunggu bagaimana realisasi dari pihak pengelola untuk bisa mengakomodir warga secara baik. Namun ternyata selama empat tahun lebih hal itu tidak terwujud.
"Ini bentuk akumulasi kekecewaan warga, saya hanya menyampaikan aspirasi tapi dari pihak pengelola selaku pengambil keputusan tidak kooperatif," kata Jajang.
Tuntutan warga dan kaum pedagang kepada pihak pengelola karena PT GRPP dituding sudah melakukan tindakan intimidasi.
Pengelola juga sering bertindak arogan, tidak menghargai warga dan pedagang, tidak memiliki izin pengelolaan, tidak memiliki izin mendirikan kantor, dan masih banyak lagi kesalahan yang dilakukan.
Warga mengaku terus akan melakukan upaya unjuk rasa selama tidak pernah penyelesaian soal pengelolaan kawasan Tangkubanparahu.
(azh)