Kisah Sendang Sinongko dan Pelarian Prajurit Kasultanan Mataram

Jum'at, 21 Februari 2020 - 05:00 WIB
Kisah Sendang Sinongko...
Kisah Sendang Sinongko dan Pelarian Prajurit Kasultanan Mataram
A A A
Wilayah Dlingo, Bantul tak hanya kaya akan wisata alam. Di wilayah paling timur di Kabupaten Bantul ini juga kaya akan tempat bersejarah dan cerita rakyat.

Salah satunya di Dusun Tangkil, Desa Muntuk, Dlingo, Bantul, DIY. Di tempat ini ada sebuah sendang yang dipercaya sebagai cikal bakal Dusun Tangkil. Ceritanya pun tak terlepas dengan kisah seorang sesepuh Kasultanan Mataram di era Amangkurat I.
Kisah Sendang Sinongko dan Pelarian Prajurit Kasultanan Mataram

Sendang Sinongko, begitu warga sekitar menyebutnya, berada sekitar 50 meter di sebelah timur Masjid Baitul Muttaqin Tangkil. Di tempat ini ada sebuah sendang yang airnya tidak pernah kering. Tepat di dekat Sendang, berdiri menjulang tinggi pohon beringin yang tingginya sekitar 10 meteran lebih. Sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai pemandian umum berada.

Berdasarkan cerita turun temurun, di dekat sedang ini adalah tempat tinggal Ki Onggowongso yang merupakan punggawa kenamaan di Kasultanan Mataram. Dia adalah pejabat yang tegas, berani dan amanah.

Lantaran ketegasan,keberanian dan kejujurannya ini dia menjadi pejabat yang disegani dan banyak pengikutnya. Sayangnya pada saat itu suasana kerajaan sedang tidak kondusif. Amangkurat I dianggap memimpin dengan otoriter. Banyak pejabat dan sesepuh Kasultanan yang dianggap melakukan kesalahan langsung dipidana.

"Sanksi juga diberikan kepada Putro Dalem, Tejaningrat. Penyebabnya lantaran Tejaningrat suka dengan Roro Hoyi yang tak lain adalah sengkerane (pingitan) ayahnya atau Amangkurat I," terang tokoh masyarakat Tangkil, Sukimin.

Melihat suasana kerajaan yang tidak kondusif, Ki Onggowongso secara diam-diam memutuskan meninggalkan keraton yang berada di Pleret, Bantul. Kepergian Ki Onggowongso ini diikuti oleh keluarganya dan pengikutnya. Mereka menuju kearah timur dan sampai di sebuah daerah yang banyak pohon bambu.

Di tempat ini mereka kemudian mendirikan pemukiman. Ki Onggowongso membuat rumah di dekat sebuah sendang yang kemudian dikenal dengan Sendang Sinongko. Sebagai pemeluk agama Islam yang taat Ki Onggowongso juga membuat tempat untuk salat, yakni sebuah batu berbentuk empat persegi panjang.

“Batu ini hanya muat untuk dua orang. Warga di sini menyebutnya batu sajadah. Letaknya di dekat sendang. Mungkin sengaja agar dekat memgambil air wuudunya,” terang Sukimin.

Kondisi Dusun Tangkil yang gersang dan hanya ditumbuhi banyak pohon bambu membuat Ki Onggowongso berpikir keras supaya bambu-bambu itu bisa menghasilkan. Akhirnya Ki Onggowongso membuat berbagai anyaman bambu. Anyaman bambu ini kemudian dibawa ke kota, pusat kerjaaan di Pleret.

“Dengan menyamar sebagai rakyat jelata, sespuh keraton ini menukarkan anyaman bambu hasil kreasinya dengan berbagai kebutuhan untuk memenuhi hidup,” terangnya.

Keahlian Ki Onggowongso ini kemudian ditularkan kepada warga sekitar. “Inilah yang menjadi cikal bakal Dusun Tangkil yang menjadi sentra kerajinan bambu. Hampir seluruh warga di sini mata pencahariannya sebagai perajin bambu,” terangnya.

Nah, kalau Ki Onggowongo ahli dalam membuat kerajinan bambu, istrinya Nyi Onggowongso juga seorang yang ahli memasak. Saat itu melihat di sekeliling hanya ada pohon bambu, dia pun memutar otak. Bagaimana pohon bambu tersebut bisa menjadi makanan lezat.

"Pohon bambu muda diolah menjadi masakan lezat. Ini asal muasal sayur rebung yang sampai saat ini masih menjadi menu favorit warga di sini," ujar mantan Kepala Desa Muntuk ini.

Saat ini, untuk melestarikan warisan Ki Onggowongso di dekat sedang tersebut didirikan masjid. Sebagai pertanda pusat penyebaran angama Islam di dusun tersebut. "Setiap kegiatan merti dusun juga di pusatkan di tempat ini," terangnya.

Selain warga setempat, banyak warga luar daerah yang khusus datang ke Sendang Sinongko. Mereka datang pada malam-malam tertentu. "Di sini mereka mengheningkan cipta ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta. Banyak di antara mereka yang punya hajat tertentu. Seperti ingin danganganya laris dan lain sebagainya," jelasnya.
(shf)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
7 menit yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
15 menit yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
26 menit yang lalu
Pimpin Gerakan ASRI...
Pimpin Gerakan ASRI di Banyuwangi, Safrizal Ajak Masyarakat Bangun Budaya Kebersihan
1 jam yang lalu
Pimpin ASEAN Smart Cities,...
Pimpin ASEAN Smart Cities, Indonesia Paparkan Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir
1 jam yang lalu
Kemenhut Bongkar Jalur...
Kemenhut Bongkar Jalur Distribusi Tambang Ilegal di NTB, 8 Orang Ditangkap
3 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved