Tak Mau Dipoligami dan Faktor Ekonomi, Ribuan Wanita di Blitar Jatim Pilih Bercerai

Jum'at, 03 Januari 2020 - 14:37 WIB
Tak Mau Dipoligami dan...
Tak Mau Dipoligami dan Faktor Ekonomi, Ribuan Wanita di Blitar Jatim Pilih Bercerai
A A A
BLITAR - Angka perceraian di Kota Blitar, Jawa Timur (Jatim), pada tahun 2019 sebanyak 4.365 perkara. Dibanding tahun 2018 yang hanya 4.203 perkara, terjadi peningkatan cukup pesat.

Humas Pengadilan Agama Blitar Klas 1. AM Fadli menjelaskan, dari jumlah keseluruhan itu 3.151 perkara di antaranya dikarenakan istri yang menggugat cerai. "Sementara yang talak atau pihak suami yang menginginkan cerai sebanyak 1.214 perkara," ujar Fadli kepada wartawan, Jumat (3/1/2020).

Penyebab cerai bermacam macam. Di antaranya faktor ekonomi, di mana penghasilan istri lebih besar dari suami. Sementara selaku kepala rumah tangga, suami justru tidak berpenghasilan.

Sebagian besar wanita penggugat cerai ini, kata Fadli, berasal dari kelompok buruh migran atau tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Pengadilan agama juga mencatat, bahwa mayoritas perempuan penggugat cerai di Blitar rata rata mandiri secara ekonomi. Mereka berpenghasilan tetap. "Kalau diprosentase dari kalangan TKW ada sebanyak 70%," terangnya.

Selain mandiri ekonomi, penyebab istri menggugat cerai suami juga dikarenakan suami yang tidak bertanggung jawab. Untuk bisa lepas dari belenggu rumah tangga yang tidak harmonis itu, para wanita memutuskan untuk bercerai. "Laki laki yang tidak bertanggung jawab atau meninggalkan, menjadi penyebab perceraian," kata Fadli.

Meski masalah ekonomi menjadi faktor penyebab terbesar, murtad (keluar dari agama Islam) dan poligami juga turut menyumbang penyebab istri menggugat suami.

Menurut Fadli poligami sebagai penyebab kasus perceraian baru ditemukan tahun 2019. Tidak sedikit perempuan Blitar yang menggugat cerai lantaran menolak dipoligami. "Pada tahun sebelumnya tidak ada. Baru tahun 2019 ada poligami sebagai penyebab perceraian, "ungkapnya.

Dari 4.365 perkara cerai yang masuk selama tahun 2019, hakim pengadilan telah memutuskan 2.718 perkara (cerai gugat). Kemudian untuk cerai talak baru putus 1.010 perkara.

Selebihnya, perkara masih terus berproses. Fadli menambahkan, proses pengurusan perceraian relatif mudah dilakukan. Dengan menyewa jasa kuasa hukum penggugat yang bekerja sebagai buruh migran (TKW) tetap bisa bekerja.

Terlepas dari hal itu, dirinya merasa prihatin dengan masih tingginya angka perceraian di wilayah Blitar. "Semua persyaratan perceraian, yakni terutama menyangkut dokumen cukup diurus kuasa hukum," pungkasnya.
(zil)
Berita Terkait
Tidak Dinafkahi Suami,...
Tidak Dinafkahi Suami, Ribuan Wanita di Blitar Pilih Hidup Menjanda
Miris Setiap Bulan Ada...
Miris Setiap Bulan Ada Ratusan Janda Muda Baru di Blitar, Ini Pemicunya
Harta dan Warisan: Tantangan...
Harta dan Warisan: Tantangan Hukum dalam Perkawinan Campuran
Sule dan Nathalie Holscher...
Sule dan Nathalie Holscher Hadiri Sidang Mediasi Perceraian
Wakil Bupati Blitar...
Wakil Bupati Blitar Rahmat Santoso Diperiksa KPK
Lantik Sekda Sekaligus...
Lantik Sekda Sekaligus Pamitan, Ini Pesan Bupati Blitar
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
45 menit yang lalu
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
1 jam yang lalu
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
1 jam yang lalu
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
2 jam yang lalu
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
2 jam yang lalu
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
2 jam yang lalu
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved