Kisah Kiai Sirojudin, Panglima Perang Laskar Diponegoro

Minggu, 15 September 2019 - 05:00 WIB
Kisah Kiai Sirojudin,...
Kisah Kiai Sirojudin, Panglima Perang Laskar Diponegoro
A A A
SALATIGA - Sejarah perkembangan agama Islam di Salatiga, Jawa Tengah tak lepas dari perjuangan Kiai Sirojudin. Sosok kiai yang diyakini merupakan orang dari Kejaraan Mataram ini, menyebarkan agama Islam di Salatiga pada masa zaman penjajahan kolonial Belanda.

Kiai Sirojudin mensyiarkan agama Islam di Salatiga bersama Kiai Ronosentiko. Awalnya kedua kiai itu, pada tahun 1826 mendirikan Masjid Damarjati di Dukuh Krajan RT02/RW05, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo.

Masjid Damarjati dibangun di tengah kecamuk perang antara Pangeran Diponegoro dan pemerintah kolonial Belanda. Konon, pembangunan masjid ini merupakan bagian dari strategi Kiai Sirojudin dan Kiai Ronosentiko untuk mengalahkan Belanda sekaligus mensyiarkan Islam di Salatiga.

"Berdasarkan cerita yang dikisahkan sejumlah orang tua dulu, Kiai Sirojudin adalah Panglima Perang Laskar Diponegoro. Namun beliau memilih melakukan perlawanan dengan cara gerilya," tutur warga Krajan, Yahya.

Agat tidak dicurigai Belanda, kedua tokoh tersebut membuka perkampungan baru bersama laskarnya. Kiai Sirojudin membuka perkampungan di Dukuh Krajan. Sedangkan Kiai Ronosentiko babat alas di daerah Bancaan, sekitar tiga kilometer jauhnya dari Krajan.

Belakangan, Kiai Sirojudin mengganti namanya menjadi Damarjati. Penggantiaan nama terpaksa dilakukan karena dia berserta Kiai Ronosentiko merupakan buruan tentara Belanda.

“Menurut cerita, kedua ulama itu ditugasi untuk memata-matai Belanda di Salatiga. Dulu basis militer Belanda di Jawa Tengah berada di Salatiga,” ujarnya.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kiai Sirojudin dibantu laskarnya membangun sebuah langgar di perkampungan yang dibukanya. Saat itu bangunan langgar masih sangat sederhana dan luasnya hanya 6x6 meterpersegi.

Dindingnya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, sementara atapnya terbuat dari sirap. Selain untuk tempat ibadah, langgar tersebut juga dijadikan sebagai pusat segala aktivitas, termasuk menyusun strategi melawan Belanda.

Langgar ini juga digunakan untuk melakukan syiar Islam kepada masyarakat. Mulai saat itu, syiar Islam di Salatiga tersebar luas dan terus berkembang. Dan langgar itu, juga berkembang menjadi masjid.

Saat Kiai Sirojudin wafat, jenazahnya dimakamkan di seberang masjid. Untuk mengenang jasa-jasanya, warga menamai masjid tersebut dengan nama Masjid Damarjati.
(shf)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Saiful Mujani Penuhi...
Saiful Mujani Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya terkait Kasus Dugaan Penghasutan
50 menit yang lalu
2 WNA Ditemukan Tewas...
2 WNA Ditemukan Tewas di Apartemen Jakbar
2 jam yang lalu
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
3 jam yang lalu
4 Kombes Digeser ke...
4 Kombes Digeser ke Polda Pulau Jawa pada Mutasi Polri Mei 2026
5 jam yang lalu
Bayar PBB-P2 hingga...
Bayar PBB-P2 hingga 31 Juli, Warga Jakarta Otomatis Dapat Potongan 7,5%
5 jam yang lalu
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
6 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved