Psikolog: Remaja Perusak Motor Sendiri Miliki Kecerdasan Emosi Rendah

Sabtu, 09 Februari 2019 - 12:05 WIB
Psikolog: Remaja Perusak...
Psikolog: Remaja Perusak Motor Sendiri Miliki Kecerdasan Emosi Rendah
A A A
DEPOK - Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menuturkan, pria yang ditilang polisi namun merusak motornya sendiri sebenarnya menunjukkan ketidakmatangan emosi dari orang tersebut.

Dia menegaskan, kemampuan pengendalian emosi Adi Saputra sangat buruk. "Secara umum kecerdasan emosinya sangat rendah," katanya ketika dihubungi, Sabtu (9/2/2019). (Baca: Remaja Perusak Motor Sendiri Diduga Alami Gangguan Mental Menyeramkan )

Dalam ilmu psikologi, kata dia, hal ini pria tersebut sedang melakukan defense mechanism. Artinya, ketika ada tekanan dari luar, maka orang tersebut melakukan defense mechanisme yang disebut dengan displacement. "Jadi dia memenuhi rasa impulsifnya (marah) pada object tertentu," ungkapnya.

Sebenarnya kata Shinta, orang tersebut marah pada polisi dan juga marah juga pada dirinya sendiri karena tidak pakai helm). Tapi tidak mungkin melampiaskan marahnya secara langsung pada polisi karena adanya otoritas atau norma yang tidak memungkin untuk melampiaskan marahnya. "Maka motor yang tidak berdaya upaya (tidak bisa melawan) menjadi sasaran kemarahannya," tukasnya.

Ditanya apakah orang tersebut memiliki kelainan emosi, Shinta menuturkan untuk mengetahuinya maka harus dilihat lebih dalam bagaimana keseharian orang ini. Tapi bahwa pengendalian emosinya buruk jelas seperti yang terlihat. Ketika ada tekanan, orang akan melakukan proses memilih akan mengikuti tekanan (flight) atau melawan (fight). (Baca juga: Perusak Motor dan Pembakar STNK di Serpong Terancam 6 Tahun Penjara )"Nah beberapa orang melakukan pola fight untuk menurunkan tekanan yang muncul. Hal ini sebenarnya adalah bentuk defense mechanism yang muncul saat ego pada posisi tertekan. Bentuknya bisa macam-macam, salah satunya ya displacement seperti kasus motor di atas, dan denial seperti kasus ancam petugas," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa denial adalah proses menolak apa yang terjadi, dan menolak apa yang sebenarnya diketahui sebagai kebenaran. Ini dilakukan untuk “menyelamatkan” egonya. Meski tidak jarang tindakan ini malah merugikan diri sendiri atau pihak lain.

"Karena biasanya dilakukan dalam keadaan spontan, dengan dorongan emosi yang penuh, sehingga tidak melibatkan akal sehat atau rasional," pungkasnya.
(ysw)
Berita Terkait
Operasi Zebra Candi...
Operasi Zebra Candi 2020, Polres Salatiga Utamakan Tindakan Preventif
Tanpa Pelat Nomor dan...
Tanpa Pelat Nomor dan STNK, Moge di Serpong Disita Polisi
Pelat Nomor Mati, Bus...
Pelat Nomor Mati, Bus Klasik di Alam Sutera Ditindak Polisi
Pelanggaran Lalu Lintas...
Pelanggaran Lalu Lintas Meningkat, Polres Garut Berlakukan Tilang Manual
Viral! Curhatan Sopir...
Viral! Curhatan Sopir Truk, STNK Ditahan Oknum Polantas Tanpa Surat Tilang
Tertangkap Langgar Lalu...
Tertangkap Langgar Lalu Lintas, Bule Amerika Bentak Kasatlantas Polres Gianyar
Berita Terkini
3 Pelaku Penyerangan...
3 Pelaku Penyerangan yang Tewaskan 3 Polisi di Katingan Dibekuk
16 menit yang lalu
YLC-8 IKA ITS Siapkan...
YLC-8 IKA ITS Siapkan Generasi Pemimpin Adaptif Menuju Indonesia Emas 2045
1 jam yang lalu
JKF 2026 Tegaskan Perkuat...
JKF 2026 Tegaskan Perkuat Kolaborasi Menuju Kota Global
2 jam yang lalu
Buruh Korban Penyekapan...
Buruh Korban Penyekapan Dilaporkan Balik Perusahaan Percetakan, Said Iqbal: Lawan, Jangan Takut!
3 jam yang lalu
28 PCNU se-Jateng Dukung...
28 PCNU se-Jateng Dukung Muktamar Ke-35 NU Digelar di Ponpes Lirboyo
3 jam yang lalu
UIN Jakarta Tegaskan...
UIN Jakarta Tegaskan Status Guru Triguna Tetap Aman, Tata Kelola Sekolah Beralih ke Skema BLU
4 jam yang lalu
Infografis
Vajiralongkorn, Raja...
Vajiralongkorn, Raja Terkaya di Dunia yang Miliki 52 Kapal Emas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved