Masjid Merah Panjunan, Saksi Dakwah Sunan Gunung Jati

Minggu, 01 Juli 2018 - 05:00 WIB
Masjid Merah Panjunan,...
Masjid Merah Panjunan, Saksi Dakwah Sunan Gunung Jati
A A A
Cirebon, Jawa Barat, yang berlokasi di pesisir pantai utara menjadi salah satu pilar penyebaran Islam di Tanah Jawa dengan hadirnya Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Peninggalan dari penyebaran agama Islam itu antara lain Masjid Merah Panjunan, yang terletak di pusat Kota Cirebon.Masjid Merah Panjunnan yang berdiri 1480 itu dibangun oleh Syekh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Dia adalah keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad. Dia kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati.
Masjid merah yang dahulu bernama Musala Al-Athya ini terletak di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jabar ini masih terawat dengan sangat baik. Bangunan masjid yang identik dengan warna merah ini masih sangat asli sesuai dengan kondisi awal dibangun.

Karena pagarnya yang terbuat dari bata merah menjadikan masjid ini lebih terkenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan. Tembok keliling bata merah setinggi 1,5 meter dan ketebalan 40 cm dibangun oleh Panembahan Ratu, cicit Sunan Gunung Jati.

Sementara, kayu-kayu jenis trembesi yang menjadi penopang masjid masih sangat kokoh berdiri dengan genteng kayu khas tempo dulu.

Masjid dengan luas 150 meter persegi ini dahulu digunakan sebagai tempat syiar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati bersama pengikut setianya. Uniknya, masjid yang juga dikenal sebagai tempat pengesahan Walisongo ini memiliki puluhan mangkuk atau piring bercorak menarik yang menempel pada dinding-dinding ruangan masjid. Ini merupakan pengaruh budaya China dan Eropa.
Masjid Merah Panjunan, Saksi Dakwah Sunan Gunung Jati

Menurut Nasiruddin, pengelola Masjid Panjunan, masjid yang memiliki dua ruangan ini hingga sekarang digunakan sebagai tempat ibadah. Masjid ini hanya digunakan salat sehari-hari. Satu dari dua ruangan hanya dibuka atau digunakan satu kali yakni pada saat peringatan Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Meski masjid ini terletak di permukiman keturunan Arab, pengaruh budaya Arab terlihat sedikit. Konon, hal ini dilakukan sebagai bentuk pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran agama Islam. Hingga kini, Masjid Panjunan masuk dalam cagar budaya yang dilindungi dan terus dirawat keasliannya.
(zik)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup,...
Hari Lingkungan Hidup, Masyarakat Tangerang Pelajari Kelola Minyak Jelantah
1 jam yang lalu
Ada Konser hingga Lomba,...
Ada Konser hingga Lomba, Masyarakat Diimbau Hindari Kawasan GBK
3 jam yang lalu
Kaesang Nobar Timnas...
Kaesang Nobar Timnas Indonesia Bareng Gubernur Sumsel
3 jam yang lalu
Menekraf Dukung Festival...
Menekraf Dukung Festival Burger Dunia, Perkuat Ekosistem Kuliner Nasional
6 jam yang lalu
Gunung Lewotobi Laki-laki...
Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Pagi Ini, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
7 jam yang lalu
El Nino Bawa Kemarau...
El Nino Bawa Kemarau Lebih Kering, Puncaknya Agustus-September 2026
7 jam yang lalu
Infografis
7 Masjid Tua di Jakarta...
7 Masjid Tua di Jakarta yang Ikonik dan Sarat Sejarah Islam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved