Merapi Meletus Freatik, Warga Diimbau Tak Perlu Mengungsi
Selasa, 22 Mei 2018 - 13:51 WIB
Merapi Meletus Freatik, Warga Diimbau Tak Perlu Mengungsi
A
A
A
YOGYAKARTA - Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantara menyebut warga masyarakat di sekitar Lereng Merapi tak perlu panik. Warga juga tak perlu mengungsi, mengingat Gunung Merapi meletus freatik.
“Berdasaran status BPTKG sebenarnya (masyarakat) tidak perlu mengungsi,” terang Biwara, Selasa (22/5/2018)
Meski demikian, dalam letusan freatik pada Senin (21/5/2018) malam, masyarakat secara mandiri memgungsi lantaran panik dengan kondisi Gunung Merapi. Kekhawatiran ini tidak berlebihan lantaran ingatan masyarakat masih lekat pada peristiwa letusan magmatik Gunung Merapi pada 2010 yang menyebabkan sejumlah korban.
“Titik krusial terhadap psikologi masyarakat. Masyarakat memiliki memori erupsi 2010 ketika merespon eruspi freatik dalam krangka masa lalu,” tegasnya.
Lebih jauh Biwara menyebut saat letusan freatik Senin malam dan Selasa dini hari, banyak warga yang mengungsi. Ada sekitar 400-an warga yang mengungsi di sembilan titik pengungsian. Namun usai sahur mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. “Warga tetap diimbau tidak beraktivitas dalam jarak 3 kilometer dari Puncak Merapi,” terangnya.
Sementara itu Kepala Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaidah mengatakan sejak Senin dini hari sampai Selasa (22/5/2018) sudah terjadi empat kali letusan freatik.
“Terakhir letusan freatik terjadi pada pukul 01.47 dengan ketinggian kolom asap 3.500 meter,” terangnya di sela-sela rapat koordinasi di BPBD Selasa pagi. “Namun, untuk memastikannya, BPPTKG saat ini sedang melakukan uji lab terhadap material guguran yang diambil dari puncak,” tegasnya.
Hanik mengatakan meski belum melihat tanda api di puncak merapi, namun peningkatan suhu magma menjadi dasar peningkatan status Gunung Merapi dari normal menjadi waspada.
“Berdasaran status BPTKG sebenarnya (masyarakat) tidak perlu mengungsi,” terang Biwara, Selasa (22/5/2018)
Meski demikian, dalam letusan freatik pada Senin (21/5/2018) malam, masyarakat secara mandiri memgungsi lantaran panik dengan kondisi Gunung Merapi. Kekhawatiran ini tidak berlebihan lantaran ingatan masyarakat masih lekat pada peristiwa letusan magmatik Gunung Merapi pada 2010 yang menyebabkan sejumlah korban.
“Titik krusial terhadap psikologi masyarakat. Masyarakat memiliki memori erupsi 2010 ketika merespon eruspi freatik dalam krangka masa lalu,” tegasnya.
Lebih jauh Biwara menyebut saat letusan freatik Senin malam dan Selasa dini hari, banyak warga yang mengungsi. Ada sekitar 400-an warga yang mengungsi di sembilan titik pengungsian. Namun usai sahur mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. “Warga tetap diimbau tidak beraktivitas dalam jarak 3 kilometer dari Puncak Merapi,” terangnya.
Sementara itu Kepala Balai Penelitian Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaidah mengatakan sejak Senin dini hari sampai Selasa (22/5/2018) sudah terjadi empat kali letusan freatik.
“Terakhir letusan freatik terjadi pada pukul 01.47 dengan ketinggian kolom asap 3.500 meter,” terangnya di sela-sela rapat koordinasi di BPBD Selasa pagi. “Namun, untuk memastikannya, BPPTKG saat ini sedang melakukan uji lab terhadap material guguran yang diambil dari puncak,” tegasnya.
Hanik mengatakan meski belum melihat tanda api di puncak merapi, namun peningkatan suhu magma menjadi dasar peningkatan status Gunung Merapi dari normal menjadi waspada.
(don)