Dihantam Kereta Api Barang, Suami Istri di Sragen Meregang Nyawa
Senin, 07 Mei 2018 - 17:20 WIB
Dihantam Kereta Api Barang, Suami Istri di Sragen Meregang Nyawa
A
A
A
SRAGEN - Dhevi Kurnia dan istrinya, Lina Indriani warga Gerenjeng RT 11, Desa Rosobo, Kecamatan Sambi, Boyolali, Jawa Tengah meregang nyawa ditabrak kereta api barang, Senin (7/5/2018) sekitar pukul 11.30 WIB. Keduanya meregang nyawa saat Mitsubishi pikap AD 1888 Q yang ditumpanginya menerobos perlintasan tanpa palang pintu di Dukuh Dempul, Kelurahan Ngembat Padas, Kecamatan Gemolong, Sragen, Jawa Tengah sehingga disambar kereta api barang jurusan Semarang-Solo yang melintas.
![Dihantam Kereta Api Barang, Suami Istri di Sragen Meregang Nyawa]()
Dhevi Kurnia sang sopir dan istrinya Lina Indriani tewas di tempat kejadian karena mobilnya terseret sekitar 500 meter.
Kapolsek Gemolong AKP Supadi mengatakan, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan kecelakaan ini melibatkan Kereta Api barang dengan mobil Mitsubishi L 300 pikap AD 1888 Q yang dikendarai Dhevi Kurnia dan istrinya Lina Indriani.
“Awalnya kendaraan yang ditumpangi dua korban itu berjalan dari Jalan Solo – Purwodadi hendak melintas. Saat hendak menuju ke arah barat melalui rel tanpa palang pintu tiba tiba Kereta Api Angkutan Barang dengan Masinis Indro Purnomo melaju dari arah utara menuju selatan langsung menabrak mobil tersebut,” kata Kapolsek.
Akibat kuatnya dorongan mobil sampai terseret 500 meter dari lokasi kecelakaan sehingga mobil tersebut rusak parah diterjang kereta api.
“Saya sudah sering mengingatkan melalui rapat dengan Forkompimda di lokasi itu untuk segera dipasang palang pintu dan sekalian penjaganya,” timpal Kapolsek.
![Dihantam Kereta Api Barang, Suami Istri di Sragen Meregang Nyawa]()
Kasus kecelakaan maut tersebut, kata Kapolsek, masih ditangani secara intensif dari Tim Inafis Polres Sragen dan Satuan Lantas Polres Sragen. Sementara kedua korban masih di ruang jenazah Rumah Sakit Yakksi, Gemolong.
Terpisah menurut Subagio warga Tegalombo, Kecamatan Kalijambe yang berada di lokasi, kondisi kedua korban sangat mengerikan. Mereka tewas di lokasi kejadian dengan luka yang parah.
“Awalnya saya mendengar seperti suara benturan yang keras sekali setelah dia turun dari atas genteng untuk melihat apa yang terjadi ternyata ada sebuah kejadian mobil tertabrak kereta api,” kata Subagio.
Dia berharap kepada PT KAI untuk memberi palang pintu atau petugas yang jaga agar kejadian serupa akan terulang kembali.

Dhevi Kurnia sang sopir dan istrinya Lina Indriani tewas di tempat kejadian karena mobilnya terseret sekitar 500 meter.
Kapolsek Gemolong AKP Supadi mengatakan, berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan kecelakaan ini melibatkan Kereta Api barang dengan mobil Mitsubishi L 300 pikap AD 1888 Q yang dikendarai Dhevi Kurnia dan istrinya Lina Indriani.
“Awalnya kendaraan yang ditumpangi dua korban itu berjalan dari Jalan Solo – Purwodadi hendak melintas. Saat hendak menuju ke arah barat melalui rel tanpa palang pintu tiba tiba Kereta Api Angkutan Barang dengan Masinis Indro Purnomo melaju dari arah utara menuju selatan langsung menabrak mobil tersebut,” kata Kapolsek.
Akibat kuatnya dorongan mobil sampai terseret 500 meter dari lokasi kecelakaan sehingga mobil tersebut rusak parah diterjang kereta api.
“Saya sudah sering mengingatkan melalui rapat dengan Forkompimda di lokasi itu untuk segera dipasang palang pintu dan sekalian penjaganya,” timpal Kapolsek.

Kasus kecelakaan maut tersebut, kata Kapolsek, masih ditangani secara intensif dari Tim Inafis Polres Sragen dan Satuan Lantas Polres Sragen. Sementara kedua korban masih di ruang jenazah Rumah Sakit Yakksi, Gemolong.
Terpisah menurut Subagio warga Tegalombo, Kecamatan Kalijambe yang berada di lokasi, kondisi kedua korban sangat mengerikan. Mereka tewas di lokasi kejadian dengan luka yang parah.
“Awalnya saya mendengar seperti suara benturan yang keras sekali setelah dia turun dari atas genteng untuk melihat apa yang terjadi ternyata ada sebuah kejadian mobil tertabrak kereta api,” kata Subagio.
Dia berharap kepada PT KAI untuk memberi palang pintu atau petugas yang jaga agar kejadian serupa akan terulang kembali.
(sms)