Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api dan Aksi Heroik Mohammad Toha

Jum'at, 12 Januari 2018 - 05:00 WIB
Mengenang Peristiwa...
Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api dan Aksi Heroik Mohammad Toha
A A A
Kobaran api menjalar ke seluruh Kota Bandung. Kota yang kini menjadi Ibu Kota Jawa Barat itu pada 24 Maret 1946 sengaja dibumihanguskan karena para pejuang dan warganya tak rela wilayah tersebut dikuasai Sekutu.

Dikutip dari id.wikipedia.org, peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Kota Bandung, 24 Maret 1946. Kala itu, penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa ini bermula ketika pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Sejak semula, hubungan mereka dengan Pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka.

Sementara, orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.

Pada 21 November 1945 malam, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang dijadikan markas tentara Inggris.

MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata pada 24 Maret 1946.

Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan Kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi 'bumi hangus'. Para pejuang RI tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA.

Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui Musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoeangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Jaringan listrik mati. Peristiwa di atas merupakan bentuk pengorbanan warga Bandung untuk mempertahankan kemerdekaan RI.

Pengorbanan untuk mempertahankan kemerdekaan RI juga ditunjukkan salah seorang pemuda militan bernama Mohammad Toha, yang kala itu berusia 19 tahun. Saat terjadi peristiwa Bandung Lautan Api, Toha bersama pasukan ikut meninggalkan Kota Bandung menuju selatan dan bermakas di Kulalet, seberang Sungai Citarum di Dayeuhkolot.

Pria kelahiran Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927 ini ikut bertempur melawan serdadu Belanda (NICA). Pasukannya berada di bawah komando MP3. Dua hari setelah tentara Sekutu meninggalkan Kota Bandung (19 Mei 1946), serdadu Belanda melancarkan serangan ke daerah Bandung Tenggara dan sore harinya membombardir Kulalet, tempat markas pasukan Toha.

Di Dayeuhkolot yang dijadikan basis serdadu Belanda untuk menyerang dan menembaki daerah perjuangan RI yang berada di seberangnya, ada sebuah gedung bertingkat dua yang jadi tempat penyimpanan (gudang) mesiu.

Toha pun memiliki tekad menghancurkan gudang senjata musuh. Namun, atasannya tidak menyetujui hal tersebut. Tapi, tekad Toha sudah bulat. Saat menemui ibunya di Garut, dia meminta restu. Tekadnya semakin bulat untuk menghancurkan gudang mesiu itu.

Dikutip dari http://sej-pendidikan.blogspot.co.id/p/para-tokoh.html, pada 9 Juli 1946, Toha bersama anggota pasukan dari Barisan Banteng RI mendapat perintah berangkat ke medan perang dengan tugas sebagai penyelidik. Keberangkatannya disertai Pasukan Hizbullah dan Pasukan Pangeran Papak. Pemimpin pasukan Hizbullah bernama Muhammad Ramdan.

Belum jauh perjalanan mereka, musuh menyerang dengan granat. Anak buah Toha ada yang terluka. Toha meloncat dan maju seorang diri, sedangkan para prajurit lainnya mengundurkan diri.

Toha dan Ramdan tidak kembali ke induk pasukannya. 10 Juli 1946 pukul 12.30, terdengar ledakan dahsyat yang mengejutkan penduduk sekitar Kota Bandung. Ledakan terdengar hingga radius 70 km. Ternyata, suara ledakan itu berasal dari gedung yang berfungsi sebagai gudang senjata dan mesiu.

Hasil penyelidikan MP3 mengungkapkan, ledakan dahsyat di gedung mesiu itu merupakan upaya jibaku Toha dan Ramdan dengan tujuan menghancurkan gudang mesiu itu. Laporan yang dibuat oleh Markas Daerah Barisan Benteng Priangan meyakini bahwa Toha dan Ramdan turut tewas dalam peristiwa tersebut.

Gugurnya Toha juga disinggung AR Soehoed dalam buku Menyertai Setengah Abad Perjalanan Republik/tim penulis Aristides Katoppo...[et al]. -- Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001.

Dalam buku itu diceritakan, saat berjalan kaki menuju Stasiun Cicalengka, AR Soehoed dan kawannya melihat pesawat Dakota terbang melintas. Mereka khawatir jadi sasaran. Tiba-tiba terdengar ledakan yang luar biasa kerasnya. Dia dan kawannya langsung mencari tempat berlindung.

Setelah menengok ke atas, pesawat itu telah hilang. Yang tertinggal adalah asap tebal mengepul di sebelah utara. Ternyata, Mohammad Toha telah gugur bersama hancurnya gudang mesiu Belanda di Dayeuhkolot.
(zik)
Berita Terkait
Senjata Pemusnah Massal...
Senjata Pemusnah Massal yang Menginspirasi Persaingan Misi Antariksa
Prasasti Gondang, Situs...
Prasasti Gondang, Situs Peninggalan Kerajaan Singosari yang Usang
Gua Napalicin, Legenda...
Gua Napalicin, Legenda Si Pahit Lidah yang Kesal dan Bergumam
Kisah Pemberontakan...
Kisah Pemberontakan Rakyat Jambi terhadap Penjajah Belanda
Kisah Kampung Adat Seribu...
Kisah Kampung Adat Seribu Gonjong, Pernah Ditinggali Syafruddin Prawiranegara
Kisah Pohon Cengkeh...
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
49 menit yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
1 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
1 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
1 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
2 jam yang lalu
Membuka Peluang Mandiri:...
Membuka Peluang Mandiri: Pemuda Disabilitas Karawang Dibekali Keterampilan Cetak Sablon
2 jam yang lalu
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved