Syeikh Abdul Qadir, Ulama Mandailing yang Terkenal di Makkah dan Melayu

Minggu, 17 Desember 2017 - 05:00 WIB
Syeikh Abdul Qadir, Ulama Mandailing yang Terkenal di Makkah dan Melayu
Syeikh Abdul Qadir, Ulama Mandailing yang Terkenal di Makkah dan Melayu
A A A
MANDAILING, Sumatera Utara, tidak hanya dikenal dengan keunikan budaya dan keberadaan marganya. Lebih dari itu, Mandailing ternyata memiliki banyak ulama yang mengharumkan nama Indonesia.

Selain Syeikh Musthafa Husein Nasution Al Mandili, pendiri Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, ada banyak sosok ulama Mandailing yang menjadi kebanggaan Indonesia. Di antaranya Syeikh Junid Thala, Syeikh Abdul Qadir Bin Abdul Mutollib Al-Mandili, Syeikh Abdul Ghani, Syeikh Abdul Fattah (penyebar Islam di daerah Natal) dan masih banyak ulama besar lainnya.

Cerita Pagi kali ini penulis hanya menceritakan sepenggal kisah salah satu ulama Mandailing yang terkenal di Makkah dan bumi Melayu di Malaysia. Ia adalah Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthalib bin Hassan Al-Andunisi Al-Mandili Al-Makki Asy-Syafi’I atau dikenal dengan nama Syeikh Abdul Qadir Al Mandili.

Syeikh Abdul Qadir dilahirkan pada tahun 1329 Hijriyah atau tahun 1910 di di Desa Sigalangan, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia dilahirkan dari keluarga petani dan dijuluki “Al-Mandaili” karena berasal dari suku Mandailing. Ayahnya bernama Abdul Muthalib bin Hassan.

Sebenarnya ada dua nama Syaikh Abdul Qadir asal Mandailing yang terkenal, satu terkenal di Makkah dan satunya lagi terkenal di dunia Melayu. Yang lebih senior dan terkenal di Makkah adalah Syeikh Abdul Qadir bin Shobir Al Mandili, kelahiran Huta Siantar, Panyabungan Kota, Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Sedangkan Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Muthalib lebih terkenal di bumi Melayu baru kemudian terkenal setelah menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah. Syeikh Abdul Qadir Al Mandili awalnya mendapat pendidikan di Sekolah Belanda pada tahun 1917 dan lulus Darjah Lima pada tahun 1923.

Setahun setelah itu beliau berhijrah ke Kedah, Malaysia, untuk mendalami ilmu agama. Setelah menimba ilmu di Kedah, Syeikh Abdul Qadir hijrah ke Makkah dan kemudian menjadi pengajar di Masjidil Haram. Walaupun menjadi guru di Masjidil Haram, hubungannya dengan ulama dan para penuntut ilmu di Melayu sangat akrab.

Awalnya, Syeikh Abdul Qadir menimba ilmu kepada Tuan Guru Haji Bakar Tobiar di Pondok Penyarum, Pendang. Setelah itu pindah ke Pondok Air Hitam untuk berguru kepada Tuan Guru Haji Idris dan Lebai Dukun. Pada tahun 1926, Syeikh Abdul Qadir belajar di Madrasah Darul Saadah Al-Islamiyah (Pondok Titi Gajah) yang saat itu dipimpin Syeikh Wan Ibrahim Abdul Qadir atau lebih terkenal dengan panggilan Pak Chu Him.

Syeikh Abdul Qadir belajar kitab kepada Pak Chu Him selama 10 tahun. Beliau sangat tekun belajar dan penuh semangat. Pada saat cuti, Syeikh Abdul Qadir bekerja memukul padi karena lokasi pondok yang berada di areal pertanian.

Dikisahkan Syeikh Abdul Qadir punya amalan saat bekerja memukul padi, ia selalu belajar dan menghafal kitab. Alhasil, ia menjadi anak murid kesayangan Pak Chu Him dan diangkat menjadi guru pembantu di pondok Pak Chu Him.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1108 seconds (10.177#12.26)