Realisasi Ok Otrip, Pemprov DKI Pangkas Trayek Angkutan Umum

Jum'at, 20 Oktober 2017 - 11:06 WIB
Realisasi Ok Otrip,...
Realisasi Ok Otrip, Pemprov DKI Pangkas Trayek Angkutan Umum
A A A
JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta terus membenahi angkutan umum. Penataan angkutan ini dilakukan melalui kebijakan Ok Otrip yang digagas Gubernur DKI Anies Baswedan dan wakilnya Sandiaga Uno untuk menjamin transportasi murah dan mengefektifkan lalu lintas angkutan di jalan.

Realisasi Ok Otrip salah satunya dengan cara mempersempit trayek angkutan. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah mengatakan, dengan menyusutkan trayek, tarif angkutan sebesar Rp5.000 per penumpang bisa terlaksana dalam kurun waktu tiga tahun.

Untuk merampungkan program itu, semua trayek akan terkoneksi ke Bus Transjakarta, sedangkan angkutan lainnya akan menjadi angkutan feeder (pengumpan). Artinya transportasi utama berubah dan terfokus menuju Transjakarta, Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, mass rapid transit (MRT), dan light rail transit (LRT). Maka itu perlu menata ulang trayek angkutan (rerouting).

Inventarisasi trayek angkutan dilakukan sesuai dengan kebutuhan bus besar. Salah satunya dengan mengukur jumlah ketersediaan bus dan subsidi yang digelontorkan Pemprov DKI sesuai dengan APBD nantinya. "Harus ke rerouting, berapa trayek yang dibutuhkan untuk bus besar dengan klasifikasi jalan harus dilihat semua. Setiap jalan tidak perlu lebih dari dua angkutan," ujar Andri, Kamis (19/10/2017).

Berdasarkan data Dishub DKI, trayek bus besar yang beredar di Jakarta sekitar 71 trayek. Bila di-rerouting, Dishub memprediksi hanya ada 10 trayek. Sebanyak 89 trayek bus sedang akan dipersempit menjadi 46 trayek. Terhadap angkutan kecil seperti angkot, dari 156 trayek akan disusutkan menjadi 85 trayek dan dikelola 13 operator yang tersedia. Dia optimistis rerouting akan mencapai hingga gang-gang kecil di permukiman.

"Inilah yang bakal kita hitung berapa subsidi yang harus dikeluarkan untuk menerapkan rerouting," katanya.

Menurut dia, pembenahan angkutan umum bisa memangkas 50% pemberian subsidi dan mengurangi jumlah angkutan. Ke depan satu ruas jalan hanya akan diisi dua angkutan umum, salah satunya Transjakarta. "Kalau kereta enggak boleh disubsidi, kan sudah disubsidi negara," ucapnya.

Meski demikian, Dishub DKI tetap membantu menyediakan feeder penumpang ke arah 17 stasiun yang ada di Jakarta seperti yang diinginkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Izzul Waro menyambut baik kebijakan Ok Otrip yang digagas Anies-Sandi. Sebab melalui program itu, jumlah angkutan di jalan raya akan berkurang. "Ok Otrip ini mengurangi jumlah trayek," katanya.

Saat ini situasi angkutan umum di Ibu Kota tidak kondusif. Banyak trayek bersinggungan atau tumpang tindih di beberapa ruas jalan. Akibatnya perjalanan menjadi tidak efektif sehingga menimbulkan kemacetan. Bila nanti rerouting tercapai, Izzul melihat kondisi ini akan cukup signifikan di jalan. Lalu lintas akan lengang, kemudian angkutan di jalan menjadi efektif.

Untuk proses pembayaran atau transaksi, Pemprov DKI harus menjalin kerja sama dengan sejumlah provider seluler dan perbankan. Penerapan e-money atau uang elektronik bisa dilakukan untuk membantu penyediaan dan sistem pembayaran. "Bisa menggunakan deposit kartu," tuturnya.

Pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, selain menata ulang trayek angkutan, kendaraan pribadi juga harus dikurangi untuk mengatasi kemacetan. Dia mengajak Pemprov DKI dan pemerintah di kota-kota penyangga mendorong masyarakat di wilayahnya beralih menggunakan transportasi murah. Salah satunya membangun kantong-kantong parkir di sejumlah titik pinggiran Jakarta. Dengan demikian kantong parkir di daerah perbatasan memakai tarif flat, sementara di pusat-pusat kota dipatok dengan tarif tinggi.

Di masa kepemimpinan gubernur baru, dia mengusulkan Pemprov DKI mengkaji ulang kebijakan pembatasan kendaraan melalui 3 in 1 yang sudah dihapus. Dengan penghapusan ini, kendaraan kembali banyak. Bahkan beberapa pekerja yang sebelumnya naik angkutan memilih membawa mobil. Ini dikarenakan sistem ganjil-genap tak mendorong warga menggunakan angkutan umum. "Inilah yang harus diperbaiki. Kita harus melihat sisi efektif program dulu," ujarnya.
(amm)
Berita Terkait
Survei IPO: Anies Baswedan...
Survei IPO: Anies Baswedan Kepala Daerah Paling Responsif Tangani Covid-19
Anies Bersyukur Jakarta...
Anies Bersyukur Jakarta Jadi Provinsi Paling Demokratis se-Indonesia
Sindir Anies, Warganet...
Sindir Anies, Warganet : Piagam dan Piala Seabrek Gagal Tangani Banjir
Selesai Salat Subuh...
Selesai Salat Subuh di Masjid Nurul Abrar, Anies Cek Piano di Gereja Sion
Kembali Bangun Musala...
Kembali Bangun Musala di Halte Transjakarta, Nitizen : Masya Allah Pak Anies
Soal Izin Reklamasi...
Soal Izin Reklamasi Ancol, Anies: Nanti Dijelasin Lengkap Sekalian
Berita Terkini
PASTI INDONESIA Dampingi...
PASTI INDONESIA Dampingi Praperadilan dan Ajukan Penangguhan Penahanan Babe Aldo
1 jam yang lalu
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
8 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
10 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
10 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
10 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
10 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Ini Lokasinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved