Misteri Banyuurip, Jati Kluwih, dan Watu Golong di Dlingo

Minggu, 10 September 2017 - 05:00 WIB
Misteri Banyuurip, Jati...
Misteri Banyuurip, Jati Kluwih, dan Watu Golong di Dlingo
A A A
Kecamatan Dlingo, di ujung timur Kabupaten Bantul, Yogyakarta, saat ini sedang banyak dikunjungi karena wisata alamnya yang sangat mempesona. Dlingo makin tersohor lantaran kedatangan mantan Presiden AS Barack Obama beberapa waktu lalu. Namun terlepas dari wisata alam itu, Dlingo juga menyimpan wisata religi yang tak kalah menarik. Legenda Sunan Geseng alias Jebeng Cokro Joyo sangat melekat dengan daerah ini, utamanya tentang kisah penyebaran agama Islam.

Di Dusun Banyuurip, Jatimulyo, Dlingo, Bantul, terdapat mata air yang konon sangat erat kaitanya dengan kisah Sunan Geseng ini. “Di Dusun Banyuurip ada dua tempat yang dipercaya masyarakat setempat terkait dengan kisah Jebeng Cokro Joyo atau Sunan Geseng,” kata Syafruddin Tamar (37), pemuda setempat yang sehari-hari merawat Blumbang Banyuurip. Konon, di tempat inilah Sunan Geseng diberi minum oleh Sunan Kalijogo.

Syafruddin menceritakan, alkisah pada zaman dahulu, di daerah Bagelan, Purworejo, ada pemuda bernama Jebeng Cokro Joyo. Anak petani ini sehari-harinya bekerja sebagai penderes gula kelapa. Sambil bekerja, dia sering beryanyi tembang-tembang Jawa. Suatu hari, saat Jebeng Cokro Joyo menyanyikan tembang Jawa sambil menderes pohon kelapa, lewatlah Sunan Kalijaga. Dia sangat tertarik dengan nyanyian Jebeng Cokro Joyo.

”Lalu Sunan Kalijaga berhenti, menunggu Cokro Joyo turun dari pohon. Tak berapa lama, terjadi diskusi di antara keduanya. Jebeng Cokro Joyo pun kemudian diangkat menjadi murid oleh Sunan Kalijogo,” kata Tamar.

Sunan Kalijaga banyak memberi petuah tentang agama Islam kepada murid barunya itu. Jebeng Cokro Joyo mendengarkan dengan seksama. Karena sangat tertarik dengan petuah petuah Sunan Kalijaga, Jebeng Cokro Joyo kemudian meminta izin Sunan Kalijaga untuk ikut berkelana sambil menimba ilmu. Sunan Kalijaga pun memperbolehkan. Mereka berdua segera berjalan ke arah timur dan sampailah mereka di suatu tempat. Saat itu, Sunan Kalijaga ingat bahwa dirinya harus pergi ke Makkah untuk menjalankan tugas. Kepada Jebeng Cokro Joyo, Sunan Kalijaga berkata, “Jebeng Cokro Joyo muridku, tunggulah aku di sini. Kamu tidak boleh pergi dari tempat ini sampai aku kembali. Ini ujian bagimu sebagai muridku.”

Jebeng Cokro Joyo diperintahkan untuk menunggu di sebuah pegunungan. Sunan Kalijaga menancapkan tongkat miliknya di depan Jebeng Cokrojoyo dan diminta untuk menjaga tongkat tersebut. Tongkat itu nanti akan diberikan dengan syarat Jebeng Cokro Joyo harus berada di tempat itu sampai Sunan Kalijaga kembali dari Makkah. Jebeng Cokro Joyo juga tidak boleh berpindah dari tempat itu.
Misteri Banyuurip, Jati Kluwih, dan Watu Golong di Dlingo

Setelah waktu berjalan tak terasa hingga bertahun-tahun lamanya, dikisahkan Jebeng Cokro Joyo tetap tidak pergi karena taat dengan perintah gurunya. Karena sudah terlalu lamanya dia duduk bersila, di sekitarnya banyak tumbuhan bambu muncul. Bahkan, badan Jebeng Cokro Joyo juga dipenuhi tumbuh-tumbuhan rambat.

Bersamaan dengan itu, di Makkah, Sunan Kalijaga ingat bahwa Cokro Joyo masih berada di tempat itu. Spontan, Sunan Kalijaga kembali ke tempat Jebeng Cokro Joyo. Setelah sampai di sana, yang ada hanya pohon-pohon bambu yang rimbun. Tapi Sunan Kalijaga yakin bahwa Jebeng Cokro Joyo berada di tengah bambu itu. Karena terlalu rimbun, maka Sunan Kalijaga membakar rerimbunan pohon bambu tersebut. Setelah dibakar, ternyata memang benar Cokro Joyo berada di tempat itu. Seluruh badan Jebeng Cokrojoyo hitam gosong.

“Dalam cerita rakyat, daerah yang dibakar ini kemudian dikenal dengan Kampung Maladan, Jatimulyo, Dlingo, dan Bantul. Maladan berasal dari kata api yang molad-molad atau api yang berkobar-kobar,” kata Tamar.

Begitu mengetahui murdinya gosong terbakar, Sunan Kalijaga memutuskan untuk membawa Jebeng Cokro Joyo ke sebelah barat Sungai Oyo. Ternyata sungai itu kering. Sunan Kalijaga kemudian menancapkan tongkatnya dan muncullah sumber mata air yang jernih dan berlimpah. Jebeng Cokro Joyo kemudian dimandikan. Ajaib, usai dimandikan, Jebeng Cokro Joyo yang saat itu diketahui mati dalam kondisi gosong, seketika hidup kembali.

“Mata air tempat ditancapkan tongkat ini kemudian dikenal masyarakat sebagai Blumbang Banyuurip atau Banyu Penguripan. Sementara tempat membuang kotoran Jebeng Cokrojoyo dikenal dengan Sendang Pocot,” kata Tamar.

Setelah itu, Sunan Kalijaga mengajak Jebeng Cokro Joyo berjalan kea rah barat. Di tengah perjalanan, ada sebuah pohon jati. Mereka berhenti di dekat pohon itu. Sunan Kalijaga bertanya pada Jebeng Cokro Joyo. “Itu pohon apa?” Maksud Sunan Kalijaga adalah untuk menguji ingatan Cokro Joyo.
Misteri Banyuurip, Jati Kluwih, dan Watu Golong di Dlingo

Cokro Joyo berpikiran bahwa Sunan Kalijaga hanya ingin mengujinya. Lalu Sunan Kalijaga menjawab, ”Itu pohon kluwih.” Ternyata pohon jati itu berubah menjadi pohon kluwih. Hal itu menjadi perdebatan di antara mereka, antara pohon jati dan kluwih. Tiba-tiba pohon itu berubah dengan daun pohon jati dan daun kluwih. Pohon ini akhirnya disebut dengan nama pohon jati kluwih. Sampai saat ini, pohon jati kluwih masih ada, tepatnya di Dusun Loputih, Jatimulyo, Dlingo.

Setelah mengetahui pohon dapat berubah menjadi pohon jati kluwih, Sunan Kalijaga mengubah nama Jebeng Cokro Joyo menjadi Sunan Geseng. Setelah itu mereka memutuskan untuk berjalan lagi. Tak berapa lama, Sunan Kalijaga kembali menguji kemampuan Sunan Geseng. Sunan Kalijaga membawa batu bulat. Dia lalu bertanya, “Ini apa?” Sunan Geseng menjawab, “Ini golong”. Ketika batu itu disentuh oleh Sunan Geseng, ternyata batu itu berubah menjadi golong. Batu itu juga masih ada dan diletakkan di halaman Masjid Badean, Jatimulyo Dlingo.

“Masyakat masih merawat petilasan ini, baik Blumbang Banyuurip, Sendang Pocot, Jati Kluwih, dan Watu Golong. Saat ini, banyak warga yang ingin sesuatu, mandi di Blumbang Banyuurip. Sementara yang ingin mocot (mencopot) kedudukan seseorang datang ke Sendang Pocot. Tapi itu semua atas kuasa Allah agar tidak menjadi musyrik,” kata Tamar.
(mcm)
Berita Terkait
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran...
Ratu Zaleha, Cucu Pangeran Antasari yang Tangguh Melawan Belanda
Sejarah Baturusa, Tempat...
Sejarah Baturusa, Tempat Rusa Melahirkan Anak di Tengah Laut Mandailing Natal
Raden Sungging, Bangkit...
Raden Sungging, Bangkit dari Kubur Setelah Dibunuh Belanda dan Makamnya Dijaga Sepekan
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan...
Kisah Jaka Tingkir Menaklukan Puluhan Buaya saat Menuju Demak
Pertarungan Pangeran...
Pertarungan Pangeran Purbaya Melawan Pasingsingan dan Berdirinya Masjid di Kalisoka
Syekh Maulana Muhammad...
Syekh Maulana Muhammad Asnawi, Tokoh Awal Penyebar Islam di Kebumen
Berita Terkini
PASTI INDONESIA Dampingi...
PASTI INDONESIA Dampingi Praperadilan dan Ajukan Penangguhan Penahanan Babe Aldo
1 jam yang lalu
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
8 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
10 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
10 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
10 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
10 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved