Tinggalkan Dunia Hitam, Mengabdi di Komunitas Harapan

Kamis, 29 Desember 2016 - 11:14 WIB
Tinggalkan Dunia Hitam,...
Tinggalkan Dunia Hitam, Mengabdi di Komunitas Harapan
A A A
SEMARANG - Sejak sering mengalami sakit pada 2009, mulai paru-paru hingga diabetes akut sampai kaki kanannya diamputasi di tahun 2012, Agung Setia Budi memutuskan untuk keluar dari dunia hitam. Bekas preman itu memilih mengabdi pada lingkungannya.

Untuk memperbaiki diri, pria ini bersama anak tercintanya, Muhammad Whizzkid Marhaenis (14), getol menebar virus pendidikan kepada anak-anak di kampungnya secara gratis. Ia pun memberanikan diri untuk mendirikan Komunitas Harapan pada 2 Januari 2013.

Rumah sempit di Kampung Sumeneban 104 RT 3 RW 4 Kelurahan Kauman, Semarang Tengah, setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu selalu dipadati anak-anak mulai usia sekolah PAUD, TK, SD, sampai SMP. Setidaknya ada 50 anak ikut belajar di komunitas tersebut. Mereka adalah anak-anak yang berada di lingkungan tempat tinggal Agung.

Kepada anak-anak tersebut, Agung memberikan pelajaran mulai dari belajar budi pekerti, agama, bahasa Indonesia-Inggris-Jawa, kesenian, berbagai keterampilan kerajinan tangan, terutama seni mengolah sampah, hingga menonton film inspiratif. Anak-anak ini belajar tanpa dipungut biaya.

Agung mengaku, mendirikan Komunitas Harapan didorong keinginannya supaya generasi muda, terutama anak-anak yang tinggal di kampung padat tersebut memiliki impian, cita-cita, dan tentu saja akhlak mulia.

"Kampung ini memiliki karakteristik masyarakat yang keras, bebas, dan jauh dari nilai-nilai pendidikan. Oleh karena itu saya ingin sekali mengubahnya," katanya.

Awal mendirikan Komunitas Harapan memang tidak mudah. Namun, keuletan dan ketekunannya untuk menyebakan virus belajar akhirnya membuahkan hasil. Anak-anak yang belajar pun semakin banyak dan rajin.

Saat ini, dia sering dibantu oleh relawan dari berbagai kampus, di antaranya Undip, Unnes, Udinus, dan Unissula. Anak asuh yang aktif di Komunitas Harapan, empat di antaranya mendapatkan beasiswa dari Hoshizora Foundation Yogyakarta.

Tak hanya itu, aktivitas sosial yang dilakukan Agung dan Whizzkid ini beberapa kali mendapat perhargaan. Di ruangan rumahnya terpampang berbagai penghargaan, di antaranya AIESEC in Diponegoro University dan Hoshizona Foundation. Bahkan, organisasi AIESEC yang merupakan pertukaran pelajar dan mahasiswa internasional, dalam setahun dua kali mengirimkan para mahasiswa dari lintas negara.

"Ada yang dari negara Portugal, Jepang, Korea, Jerman, Amerika dan Inggris. Biasanya di sini membantu mengajar selama tiga minggu. Terakhir, 17 Agustus lalu, para turis itu ikut lomba makan kerupuk, warga juga senang kedatangan turis ikut mengajar," kata Agung.

Keuletan dan kegigihan Agung memang menurun pada anaknya, Muhammad Whizzkid Marhaenis, yang selalu mendampingi ayahnya. Siswa kelas 3 SMP Negeri 38 Semarang ini selalu membantu ayahnya saat mengajar kepada anak-anak, termasuk menyediakan properti yang dibutuhkan ayahnya.

Di luar mengajar dan beraktivitas pendidikan, sisa waktu keduanya dihabiskan untuk bergelut dengan sampah untuk dijadikan berbagai kerajinan. "Sepulang dari sekolah, menghabiskan waktunya untuk membantu," katanya.

Whizzkid rupanya memiliki jiwa seni. Buktinya, dari sampah-sampah yang dikumpulkan dapat disulap menjadi barang bernilai tinggi di antaranya miniatur tank, kapal, vespa, Harley Davidson, jam dinding, dan berbagai jenis mobil. Dari barang daur ulang sampah itu mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Bahkan, banyak dipesan oleh orang luar negeri, di antaranya Amerika, Australia, Philipina, Jerman, dan Bahrain.

Whizzkid mengaku senang bisa membantu orang tuanya. Membuat kerajinan tangan dari sampah sangat menyenangkan. Belajar peduli lingkungan, bahwa sampah bisa bermanfaat dan memiliki nilai tinggi. "Kegiatan ini diberi nama oleh ayah saya dengan istilah trashure atau harta karun sampah," ujar Whizzkid yang ingin kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.
(zik)
Berita Terkait
Cerita Inspiratif Albis...
Cerita Inspiratif Albis Group Bertahan Hadapi Ketatnya Persaingan Industri Fashion
Peluang di Tengah Pandemi...
Peluang di Tengah Pandemi dan Rekrut Karyawan Terkena PHK
Kisah Inspiratif Polisi...
Kisah Inspiratif Polisi Bripka Rosudin Kosnadi Jualan Es Jagung, Sehari Raup Rp900.000
Inspiratif, Anggota...
Inspiratif, Anggota Babinsa Kodim Pekalongan Ini Sukses Ternak Kelinci Hias
Green Nitrogen Luncurkan...
Green Nitrogen Luncurkan Dua Produk Unggulan Hadapi Covid-19
Menginspirasi lewat...
Menginspirasi lewat Buku Bertumbuh Bermimpi
Berita Terkini
MNC Vision Network-MNC...
MNC Vision Network-MNC Peduli Salurkan Bantuan Seragam dan Sembako di Panti Asuhan Anak Ceria Indonesia Depok
2 jam yang lalu
Resmi Dibuka, DAIKIN...
Resmi Dibuka, DAIKIN Proshop Alvamega Hadirkan Solusi Tata Udara Premium di Serpong
2 jam yang lalu
300 Siswa-Warga Dapatkan...
300 Siswa-Warga Dapatkan Pemeriksaan Mata dan Kacamata Gratis
2 jam yang lalu
Bongkar Gudang Penyimpanan...
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
3 jam yang lalu
Stop Polemik, Prof Dede:...
Stop Polemik, Prof Dede: Pengelolaan Yayasan Diserahkan ke Pemerintah melalui UIN Jakarta
5 jam yang lalu
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
6 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved